apalagi yang harus kukatakan pada geliat di dada yang bersapa dengan debar entah lalu aku terbenam pesonamu yang makin menghanyutkan selalu kau bilang tidak saat kubisikkan cantikmu saat aku tak berdaya memandangmu tapi kurasakan getarmu dari jemari yang kukecup dari binar matamu yang sayup apalagi yang harus kukatakan kecuali pengakuan dan pasrah ; aku mencintaimu [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
SUARA PEMBARUAN DAILY Rubrik BUDAYA – edisi 21 Mei 2006 ——————————————————————————– Kamirah kamirah namanya wanita tua dengan mata bianglala rambutnya memutih, ikal dan panjang bagai awan kamirah namanya matanya ramah menyapa saat aku tiba segelas air ditaruhnya mengusir dahaga, membasuh lelah bulan purnama penuh cahaya penuh tanda tanya apa tanda, apa berita dariNya kamirah namanya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah. (Eric Berne)
baca selengkapnya |
No Comments »
Karya-karya sastra yang bermunculan pasca gempa bumi, baik puisi, cerpen, esai pengarang cenderung menjadi saksi. “Karya-karya kesaksian itulah yang bermunculan ke permukaan,” kata Prof Dr Suminto A Sayuti, Dekan Fakultas Seni dan Budaya UNY kepada KR. Ketika penyair, cerpenis atau esai membuat tulisan tersebut, karya umumnya dalam bentuk diskripsi, naratif yang panjang sekali. Pertanyaan menggelitik [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Seorang penyair berkata, bahwa dia tersipu ketika aku memanggilnya ‘pak guru’. Dia bilang, ilmuku belum setaraf Joko Pinurbo atau Sapardi Djoko Damono. “Dipanggil pak guru, aku jadi malu,”komentarnya. Aku tetap ngotot dan berkata,”Soal guru bukanlah dilihat dari angka usia. Tapi soal ilmu. Mereka yang berilmu tinggi, adalah guru. Tinggal, apakah guru-guru ini mau berendah hati [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
kidung kasmaran kau kirim dalam semilir angin senja dia terpana terbenam menikmatinya kau taruh cinta tanpa ragu meski tahu jalan penuh liku lelaki itu hanya tergugu bisa bilang apa, wanita ayu telah larung seribu ragu tengadah ke cakrawala saat asmara kembali merekah : lelaki itu senyum sumringah sepanjangtol,06 juni 30
baca selengkapnya |
No Comments »
Pembaca yang budiman, akhirnya tiba waktunya kami mengumumkan puisi-puisi yang telah kami pilih untuk bisa dinikmati dan dipilih secara langsung oleh anda semuanya. Seperti yang telah kami syaratkan bahwa Sayembara Puisi Puitika Edisi Mei 2006 mengambil tema : Kematian dan Penderitaan. Sejak mulai dibuka sampai dengan penutupan kami telah menerima sekitar 50 puisi dari 30 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
raguku melintas meski coba kucegah dengan berbagai alasan dan kiasan raguku merentas bukan untuk meragukanmu hadirnya rasa yang ada di luar sangka yang pernah ada biar aku melangkah meski tertatih dan letih priok,06 juni 29
baca selengkapnya |
No Comments »
dan waktu telah menghadirkanmu menghapus jejak ragu lalu luruh dalam ruang dan bayang tatapan telah lahirkan prosa juga beribu puisi terpahat di dinding sunyi beberapa tanpa judul tapi mampu lumatkan masygul dan waktu akan menjadi saksi apakah semua ini akan tinggal mimpi ataukah jadi prasasti priok,06 juni 29
baca selengkapnya |
No Comments »
jaman berubah bersahaja bukan masanya wanita hidup dari telenovela romansa hidup tak nyata dulu menjadi nomer dua kini boleh mendua aku gagap dengan semua ini banyak wanita seperti serigala hidup dengan curiga hidup dengan praduga apakah aku semakin tua? atas nama kemajuan atas nama persamaan atas nama perubahan berani memaki, berani melawan jaman apa ini? [...]
baca selengkapnya |
No Comments »