apalagi yang harus kukatakan
pada geliat di dada
yang bersapa dengan debar entah
lalu aku terbenam pesonamu
yang makin menghanyutkan
selalu kau bilang tidak
saat kubisikkan cantikmu
saat aku tak berdaya memandangmu
tapi kurasakan getarmu
dari jemari yang kukecup
dari binar matamu yang sayup
apalagi yang harus kukatakan
kecuali pengakuan
dan pasrah
; aku mencintaimu
pm,06 juni 30
baca selengkapnya |
No Comments »
SUARA PEMBARUAN DAILY
Rubrik BUDAYA - edisi 21 Mei 2006
——————————————————————————–
Kamirah
kamirah namanya
wanita tua dengan mata bianglala
rambutnya memutih, ikal dan panjang
bagai awan
kamirah namanya
matanya ramah menyapa saat aku tiba
segelas air ditaruhnya
mengusir dahaga, membasuh lelah
bulan purnama
penuh cahaya
penuh tanda tanya
apa tanda, apa berita dariNya
kamirah namanya
satu senja ia berkata
‘hidup jangan mengeluh
hidup adalah mengolah
tanah dibelah
untuk ditanam
disiram, dipanen kala musim tiba’
kamirah namanya
begitu tulisan nisan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah.
(Eric Berne)
baca selengkapnya |
No Comments »
Karya-karya sastra yang bermunculan pasca gempa bumi, baik puisi, cerpen, esai pengarang cenderung menjadi saksi. “Karya-karya kesaksian itulah yang bermunculan ke permukaan,” kata Prof Dr Suminto A Sayuti, Dekan Fakultas Seni dan Budaya UNY kepada KR.
Ketika penyair, cerpenis atau esai membuat tulisan tersebut, karya umumnya dalam bentuk diskripsi, naratif yang panjang sekali. Pertanyaan menggelitik [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Seorang penyair berkata, bahwa dia tersipu ketika aku memanggilnya ‘pak guru’. Dia bilang, ilmuku belum setaraf Joko Pinurbo atau Sapardi Djoko Damono. “Dipanggil pak guru, aku jadi malu,”komentarnya.
Aku tetap ngotot dan berkata,”Soal guru bukanlah dilihat dari angka usia. Tapi soal ilmu. Mereka yang berilmu tinggi, adalah guru. Tinggal, apakah guru-guru ini mau berendah hati membagi [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
kidung kasmaran kau kirim
dalam semilir angin senja
dia terpana
terbenam menikmatinya
kau taruh cinta tanpa ragu
meski tahu jalan penuh liku
lelaki itu hanya tergugu
bisa bilang apa, wanita ayu
telah larung seribu ragu
tengadah ke cakrawala
saat asmara kembali merekah
: lelaki itu senyum sumringah
sepanjangtol,06 juni 30
baca selengkapnya |
No Comments »
Pembaca yang budiman, akhirnya tiba waktunya kami mengumumkan puisi-puisi yang telah kami pilih untuk bisa dinikmati dan dipilih secara langsung oleh anda semuanya. Seperti yang telah kami syaratkan bahwa Sayembara Puisi Puitika Edisi Mei 2006 mengambil tema : Kematian dan Penderitaan. Sejak mulai dibuka sampai dengan penutupan kami telah menerima sekitar 50 puisi dari 30 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
raguku melintas
meski coba kucegah
dengan berbagai alasan
dan kiasan
raguku merentas
bukan untuk meragukanmu
hadirnya rasa yang ada
di luar sangka yang pernah ada
biar aku melangkah
meski tertatih dan letih
priok,06 juni 29
baca selengkapnya |
No Comments »
dan waktu telah menghadirkanmu
menghapus jejak ragu
lalu luruh dalam ruang
dan bayang
tatapan telah lahirkan prosa
juga beribu puisi
terpahat di dinding sunyi
beberapa tanpa judul
tapi mampu lumatkan masygul
dan waktu akan menjadi saksi
apakah semua ini akan tinggal mimpi
ataukah jadi prasasti
priok,06 juni 29
baca selengkapnya |
No Comments »
jaman berubah
bersahaja bukan masanya
wanita hidup dari telenovela
romansa hidup tak nyata
dulu menjadi nomer dua
kini boleh mendua
aku gagap dengan semua ini
banyak wanita seperti serigala
hidup dengan curiga
hidup dengan praduga
apakah aku semakin tua?
atas nama kemajuan
atas nama persamaan
atas nama perubahan
berani memaki, berani melawan
jaman apa ini?
aku terantuk
aku terpuruk
tapi tak bisa kukutuk
jaman memang berubah
dan aku hanya bisa bertanya
seperti inikah
wajah wanita kita?
lb0651 06 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »