natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jun
22nd

Berguru dengan Jokpin

Files under PUISI | Posted by Yo

Mengikuti gaya guruku yang satu lagi, Hasan Aspahani alias HAH (bisa dilihat di website yang cantik : www.gunung_jiwa@blogspot.com) aku mencoba berkirim pesan pendek (SMS) ke penyair Joko Pinurbo yang akrab dipanggil Jokpin. Meski tak banyak, dan hanya sehari (18 Juni 2006), jawaban penyair kelahiran Sukabumi,11 Mei 1962 ini sangat menyejukkan. Sejuk bagiku, belum tentu bagi yang lain, tapi inilah kenapa sms-sms itu terjadi, karena memang berkaitan dengan aneka tanya yang ada padaku, sebagai penggemar puisi yang tak punya latarbelakang sastra sama sekali.

Blue : Kang, maaf pagi-pagi begini mengganggu lagi. Aku mau nyantri. Dalam satu bait,  perlu atau haruskah memakai tanda koma untuk pemisahan baris?

Jokpin : Tidak harus. Tergantung keperluannya.

Blue : Ini soal pembuatan Judul, apakah benar harus istimewa? Jika biasa saja, apa akan mengurangi isi puisi? Bahkan mata kadang bisa salah sangka (mengutip, dirubah sedikit, puisi Dokter Mata-nya Jokpin di antologi Kekasihku)? Bagaimana mendapatkan judul yang pas atau sreg? Dari intikah, kayak membuat berita di koran?

Jokpin : Tidak harus istimewa. Bisa biasa atau wajar saja. Saya sih biasanya mengambil kata kunci atau imaji pokok untuk judul.

Blue : Kadang aku terpengaruh dengan gaya Jokpin dan HAH, memberi ruh pada benda. Sedangkan gayaku cenderung pada kata-kata yang sederhana, seperti yang aku email beberapa waktu lalu. Apakah aku tetap ke ciriku sendiri, ataukah menggabungkan keduanya?

Jokpin : Dikombinasi gak apa-apa, sambil tetap bikin ciri atau kekhasan sendiri.

Blue : Kadang bisa macet menulis meski ada ide. Bagaimana caranya membangun rasa puisi lagi? Benarkah ada cara datangnya puisi ke kita?

Jokpin : Jalan-jalan atau dolan-dolan aja hehehehe

Blue : Kang, kapan puisimu pertama kali dimuat di media? Bagaimana rasanya? Puisiku dimuat di Suara Pembaruan, 21 Mei lalu.

Jokpin : Ketika di SMA dulu. Rasanya selangit deh, tapi sekarang jadi malu rasanya. Majalah yang memuatnya juga sudah mati, dan aku tidak punya klipingnya.

Blue : Jika aku punya duit, ada keinginan membuat antologi. Pertanyaan yang selalu mengejar, patut gak? Bukankah aku baru berpuisi, dan tidak berpretensi menjadi penyair top kayak sampeyan. Haruskah ada pertanggungjawaban sastra jika karya diterbitkan?

Jokpin : Ah nggak harus. Lebih baik berpuisi untuk merayakan hidup dan mendamaikan diri ketimbang untuk mencapai prestasi sastra. Terbitkan saja.

priok,06 juni 19

Post a Comment