Karya-karya sastra yang bermunculan pasca gempa bumi, baik puisi, cerpen, esai pengarang cenderung menjadi saksi. “Karya-karya kesaksian itulah yang bermunculan ke permukaan,” kata Prof Dr Suminto A Sayuti, Dekan Fakultas Seni dan Budaya UNY kepada KR.
Ketika penyair, cerpenis atau esai membuat tulisan tersebut, karya umumnya dalam bentuk diskripsi, naratif yang panjang sekali. Pertanyaan menggelitik yang dilontarkan Suminto menjadi menarik, apakah penyair, cerpenis, esais sendiri tidak mengalami peristiwa itu sendiri ? Penulis posisinya ada di mana ? “Karya-karya berbentuk kesaksian, formatnya menjadi sebuah aku-lirik. Aku-lirik yang memiliki jarak dengan peristiwa itu sendiri,” katanya.
Bicara jarak, posisinya bisa dekat, bisa pula jauh. Ketika posisinya dekat, ia kemungkinan besar ada dalam peristiwa itu, kalau jauh bisa saja sebagai penyaksi yang menjaga jarak dengan renungan yang lebih sublim, mendalam. Karya-karya itu sifatnya masih dalam tataran peristiwa dengan manusia, bukan peristiwa dihubungkan dengan wacana profestik. Peristiwa terjadi kemudian ingin secepatnya melahirkan karya dalam bahasa Jawa bisa dinamai ‘kedoya-doya’. Inginnya sesegera mungkin serta ekspresif, tetapi tanpa renungan akhirnya menjadi karya yang sangat verbal sekali.
Suminto hanya ingin menegaskan, karya-karya sastra yang ditulis begitu dengan peristiwa bencana, maaf, masih bersifat dangkal. “Maaf-maaf saja, karya yang bermunculan di media masih sangat dangkal dan normatif. Peristiwa tersebut menjadi kurang mengendap, ekspresif dan sublim,” ucap penulis antologi puisi ‘Malam Tamansari’. Dalam kondisi yang seperti itu, bisa ditebak karya yang kurang sublim, nilai puitik, estetiknya patut dipertanyakan. Tapi, dalam konteks kesaksian, bisa saja itu dilakukan karena karya tersebut sebatas penada, penyaksi dari sebuah peristiwa besar.
Bencana besar menjadi mata air karya besar, atau peristiwa besar menjadi karya bernilai kecil dari hal kreativitas, sebenarnya terletak sejauhmana kematangan proses penulis itu sendiri. “Bagi penulis yang sudah punya asam garam kepenulisan, pasti tidak akan terjebak sekadar penyaksi yang dangkal,” katanya. Proses kreatif yang berbeda, hasil penulis satu dengan yang lain pasti berbeda pula. “Dari ide yang sama, katakanlah gempa bumi di DIY dan Jateng, pasti hasilnya juga berbeda pula, dari nilai rasa dan estetiknya.” katanya. (Jay)-g.
sumber : Kedaulatan Rakyat- 27 06 06