SUARA PEMBARUAN DAILY
Rubrik BUDAYA – edisi 21 Mei 2006
——————————————————————————–
Kamirah
kamirah namanya
wanita tua dengan mata bianglala
rambutnya memutih, ikal dan panjang
bagai awan
kamirah namanya
matanya ramah menyapa saat aku tiba
segelas air ditaruhnya
mengusir dahaga, membasuh lelah
bulan purnama
penuh cahaya
penuh tanda tanya
apa tanda, apa berita dariNya
kamirah namanya
satu senja ia berkata
‘hidup jangan mengeluh
hidup adalah mengolah
tanah dibelah
untuk ditanam
disiram, dipanen kala musim tiba’
kamirah namanya
begitu tulisan nisan yang kubaca
tak ada tanggal lahir
tak ada pagar berukir
cuma taburan mawar dan kenanga
tersiram tetes air mata
lbbulus, 15 maret 06
Apa kabarmu, nak?
anakku….
yang entah di mana dirimu
yang entah siapa namamu
apa kabarmu?
sepuluh bulan purnama
kuratapi kepedihanku
kusesali kebodohanku
saat melepasmu
hanya berteman kain lusuh
kutaruh engkau di halaman itu
lalu aku pergi menjauh
anakku…
sehatkah dirimu?
aku …entahlah
penyakit ini aneka warna
menerpa tubuh tua
tak apalah
baikkah dirimu?
anakku…
jika bisa meminta
ingatlah ibumu yang renta
meski tak tahu wajah
meski tak kenal nama
maafkan aku
priok, 12 april 06
Sajadah
ini bukan hadiah, katamu
tapi untuk ibadah
sebuah sajadah merah tua
terbungkus tas warna jingga
lama sajadah merana
tak kusentuh tak kusapa
kesibukan lagilagi kesibukan
alasan lagilagi alasan
sajadah hanya pasrah
saat luka menganga
sajadah jadi teman bicara
shalat subuh aku gelar
doa aku sebar
kuharap Dia mau menakar
semua dosa, semua lara, semua luka
maafkan aku
kuabaikan sajadahmu
priok, 23 maret 06