Republika,Rabu, 07 Juni 2006
JAKARTA — Ratusan nelayan tradisional Cilincing, Lagoa, dan Marunda, Jakarta Utara, mendatangi pabrik tepung Bogasari, Selasa (6/6). Kedatangan mereka terkait pencemaran di Kali Kresek, perairan Cilincing dan Marunda, Jakarta Utara. Para nelayan mengklaim donatur pencemaran perairan itu salah satunya adalah PT Indofood Sukses Mandiri Tbk, produsen tepung terigu Bogasari.
Salah satu nelayan, Tiarom (30), mengatakan dalam dua bulan terakhir, dia tak pernah memperoleh tangkapan di perairan itu. “Sebelumnya, bisa dapat tangkapan satu kuintal per hari,” ujarnya di tengah aksi. Tiarom mengaku sebagai nelayan serok, yaitu nelayan yang menangkap hasil laut dengan cara menyerok. Hasil tangkapannya dulu berupa ikan, rajungan, kerang hijau, kepiting, dan udang. Para demonstran juga mengatakan, jika sebelumnya mereka dapat seribu keranjang kijing (kerang kecil), saat ini hanya dapat memperoleh 150 keranjang.
Sebelum berdemo di depan pabrik Bogasari, di Jl Raya Cilincing 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sekitar seribu nelayan berkumpul di Cilincing. Namun, saat melakukan long march ke pabrik itu, jumlah mereka menyusut menjadi sekitar 600 orang saja.
Selama berdemo, teriakan lantang untuk menutup Bogasari, kerap terdengar. Sempat terjadi aksi dorong dengan petugas polisi yang menghadang di depan pabrik itu, namun tak terjadi kerusuhan lebih lanjut. Tuntutan mereka, selain penghentian pencemaran di perairan Teluk Jakarta itu, adalah pemberian kompensasi bagi para nelayan yang kehilangan penghasilan akibat tercemarnya perairan tersebut.
Pihak bogasari, kontan membantah. Humas Perusahaan, Johanes Sugianto, justru balik mempertanyakan limbah mereka yang mana yang dituding mencemari perairan di kawasan itu. Menurutnya, limbah produksi mereka adalah limbah padat. Dan yang terpenting, ujarnya, limbah itu tak dibuang ke perairan. Namun dia tak menyebut dibuang ke mana.
Meski begitu, Bogasari berencana melihat langsung kondisi pencemaran perairan yang ditudingkan kepada mereka sebagai penyebabnya, Rabu (7/6). “Paling kelihatan pencemarannya sekitar pukul 06.00 WIB,” ujar Johanes. Seusai melihat kondisi perairan, direncanakan akan ada pembicaraan lebih lanjut antara perwakilan nelayan dengan pihak Bogasari.
Penjelasan lebih lanjut diutarakan oleh Senior Vice President (SVP) Bogasari, Agus Budi Wasono. Soni, nama panggilannya, mengatakan hampir tak ada limbah dari produksi terigu Bogasari. “Prosesnya hanya menggunakan air biasa dan gandum,” ujarnya. Sedangkan oli yang dipakai mesin produksi dan asam amino yang dipakai untuk pengujian kadar protein terigu, imbuhnya, seusai dipergunakan dapat dijual kembali.
Soni mengatakan, kalaupun ada pencemaran, mestinya diteliti dulu lokasi yang tercemar. “Baru bicarakan ganti rugi, itupun kalau terbukti Bogasari mencemari,” ujarnya. Sementara, kata Soni, selama ini diketahui sumber terbesar pencemaran perairan justru dari limbah rumah tangga.(ann )
You must be logged in to post a comment.