natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jul
30th

Konvensi & Kode Puisi Pujangga Baru

Files under PUISI | Posted by blue4gie
Oleh : A.Teeuw

Dalam membaca sajak kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal. Pada satu pihak sebuah sajak atau lebih luas sebuah karya sastra atau karya seni umumnya, merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom dan yang boleh dan harus kita pahami dan tafsirkan pada sendirinya; sebuah dunia rekaan yang tugasnya hanya satu saja : patuh-setia pada dirinya sendiri.

Tapi pada pihak lain, tidak ada karya seni mana pun juga yang berfungsi dalam situasi kosong; setiap sajak, cipta sastra atau karya seni, merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Merupakan pelaksanaan pola harapan pada pembaca yang ditimbulkan dan ditentukan oleh sistem kode dan konvensi itu.

Tetapi kode dan konvensi itu tidak merupakan sistem yang tetap dan ketat; dalam kegiatan penciptaannya si seniman berhak dan bertugas untuk menerapkan sistem itu secara individual, menye- suaikannya menurut keperluannya sebagai seniman, malahan memperkosa dan melanggarnya seperlunya.

Pemerkosaan dan pelanggaran konvensi adalah sifat karya seni yang khas, malahan pada masa-masa tertentu hasil dan nilai sebuah karya seni sebagian besar ditentukan oleh berjaya-tidaknya dalam usahanya mendobrak dan merombak konvensi sastra itu. Tetapi dalam pelanggaran si seniman mau tak mau terikat pada konvensi itu.

Tidak pernah ada kebebasan mutlak atau kemungkinan untuk penyimpangan total; sebab perombakan total akan berarti bahwa bagi pembaca tidak ada kemungkinan lagi untuk memahami karya seni itu; modalnya untuk mendekati sebuah karya seni terutama terdiri dari sistem konvensi yang ada, yang dikuasainya. Kalau sistem itu sama sekali tidak dapat dipakai lagi untuk memahami sebuah karya seni maka dia bingung, apresiasi tidak mungkin lagi baginya.

Jadi karya seni selalu berada dlam ketegangan antara sitem dan pembaharuan, antara konvensi dan revolusi, antara yang lama dan yang baru.

Dalam sejarah seni umumnya, seni sastra khususnya, sikap terhadap konvensi tidak selalu sama; ada masa-masa dan seniman -seniman yang cukup patuh pada konvensi yang berkuasa dalam masyarakat mereka; mereka berhasil melaksanakan cita-cita artistik mereka dalam rangka sistem konvensi yang ada; rupa-rupanya kelonggaran yang ada dalam setiap sistem dianggap cukup, sistemitu dirasakan tidak terlalu mengikat. Tetapi ada pula masa-masa dan seniman-seniman yang tidak tahan lagi bekerja dalam sistem yang mereka dapati, yang dianggap sebagai kungkungan mereka; mereka menjadi seniman revolusioner.

Di Indonesia, setelah runtuhnya penjajahan Belanda tidak hanya terjadi revolusi politik yang menjelma dalam kemerdekaan negara Indonesia, tetapi terjadi pula revolusi sastra, yang dilambangkan dan dirintis oleh penyair Chairil Anwar. Untuk mengerti pentingnya puisi Chairil Anwar, perlu kita ketahui situsi sastra Indonesia pada waktu itu.

Sebab jika benarlah Chairil menjadi pelopor jaman baru dan menjadi pendobrakk dan pembongkar sistem konvensi lama, kita harus tahu bagaimana sistem konvensi itu, agar kita dapat memahami sajak- sajak, tidak hanya dari segi sejarah sastra, tapi juga dari segi nilai sastranya. Sebab nilai itu sebagiannya ditentukan oleh daya perombaknya terhadap sistem lama, oleh sifatnya sebagai pendobrak puisi jamannya.

Apa latar belakang dan rangka sistem konvensi puisi pada masa Chairil Anwar muncul di panggung sastra Indonesia? Sampai sekarang jumlah studi yang agak mendlaam mengenai dunia stra Indonesia belum banyak  Syukurlah ada sebuah diserta seorang peneliti muda Australia, Keith R.Foulcher, yang dengan panjang lebar dan sangat teliti membahas situasi sastra Indonesia sebelum Perang Dunia II. Karyanya, yang sayang sekali sampai sekarang belum diterbitkan berjudul “Puisi Baru”; the Emergence of a Non-Traditional Malay Poetry in Pre-War Indonesia.

Kesimpulannya dapat diringkaskan sebagai berikut :
Dalam masa Pujangga Baru konvensi dari masa sebelumnya di bidang bentuk dan teknik dipertahankan dengan dengan ketegasan dan konsistensi yang cukup nyata. Dari segi bentuk kwatiran tradisional (bait berlarik empat dan berkata empat) tetap menjadi dasar ekspresi. Bahasa sebagian besar tetap bersifat retoris : perumpamaan tradisional didahulukan daripada metafora; bahasa nan indah tetap menjadi cita-cita estetis dalam pertentangannya dengan bahasa sehari-hari.

Dalam bidang tema dan perkiasan pun tidak besarlah perubahan kalau dibandingkan dengan masa sebelum Pujangga Baru. Skala emosi yang dilahirkan dalam puisi selalu terpantul dalam aspek- aspek keindahan alam yanglembut-halus. Konvensi menentukan bahwa pemandangan alam harus selektif, melingkupi hanya yang indah dan yang dapat mengilhamkan kesedihan yang melankolis dalam hati manusia.

Konvensi mengenai cita-cita yang mulia dan konvensi moralis tetap dipertahankan selama masa Pujangga Baru, dengan tambahan cita-cita nasionalis tetapi yang teakhir pun tidak merupakan pembaharuan, sebab dari awal puisi Indonesia modern (muhammad Yamin, Rustam Effendi, Sanusi Pane dll) konvensi cita-cita nasional sebagai unsur puisi sudah ada.

Lagipula kode itu merupakan kode elitis, dan puisi hanya dimiliki kalangan orang cendekirawan yang sangat terbatas. Karena sifatnya yang khas Pujangga Baru tidak mungkin dan tidak mampu  membina tradisi sastra yang bersifat kerakyatan. Para penyair angkatan itu tidak tidak harus merupakan kantong teasing dalam masyarakat Indonesia seluruhnya. Demikianlah kira-kira ringkasan uraian keith Foulcher mengenai kode puisi Pujangga Baru.

Sumber : Kata Pengantar pada buku “Tergantung Pada Kata”  (sepuluh sajak Indonesia), terbitan Pustaka Jaya, cetakan I/1980.

* diedit,diberi tanda seperlunya serta judul oleh Gie.

You must be logged in to post a comment.