natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Aug
31st

Sate Padang

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

berdua kita nikmati tusuk demi tusuk potongan ketupat dan bumbu yang nikmat rambut panjangmu berkelok seperti perjalanan lebatnya tak beda dengan luka yang menyelimuti jiwaku lebih dari sepuluh tusuk kau nikmati dalam lahap aku kembali menatap dalam sedih menusuk perlahan beranjak ‘kenyang,’ katamu tertawa aku turut tertawa dalam perih menyesak lbpagi,31 08 06 Re: [BungaMatahari] [...]

Aug
31st

Sungguh

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

saat sandarkan harapan padamu hanya ada putus asa padaku meski tak benar menarik garis dan menghujatmu tanpa jeda lalu tanpa terencana kita lukis semua rasa dalam kata-kata di lengkung senja tatap matamu itu kuduga kau buang muka sedumu takut kehilangan kuanggap hanya aku saja pudar sudah dugaku sejujurnya aku tak bisa bicara kamu sungguh luar [...]

Aug
31st

Titian Itu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

titian itu tak lagi kuat menahan duka yang sarat retak di dinding dalam gigil gemertak dari apa goyah pancangan yang tak tegak adukan yang sejenak ataukah rasa yang berjarak masih juga bisu ucapkan perpisahan karena ragu titian itu kembali kupijak masih ada di situ semua jejak sejenak teringat pernah kutawarkan segelas hanya senyum tawar kau [...]

Aug
29th

Rumah

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

: ines & sintha rumah dengan tembok tiga warna penuh jendela dan cahaya pulanglah aku bawa segala luka lama dan baru disini resah ditenangkan usai lewati berlusin kekalahan berlusin kelelahan kutemui kedamaianku dalam pelukan gadis kecilku dan tawanya yang membelah kebisuan segelas air dingin lumatkan resah kuatkan langkah untuk esok yang tak tahu seperti apa [...]

Aug
29th

Tigapuluh Enam Warna

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

: bangwin nyala api itu darimana,kawan puluhan lilin di atas kue ataukah obor di kejauhan dengan iringan musik blues malam terasa mistis lengkingan gitar miris duduk saja dirimu di batu itu tetap dengan senyummu dedaunan tak lagi lelap gemerisik tak lagi diam tigapuluh enam warna menyebar ke segala samar ada nyanyi memecah sunyi alam mengucap [...]

Aug
28th

Tinggal Mengucap

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

bergegas di persimpangan tetap tak bisa menahan bayangan menikam akan esok yang diam malam ini adalah permulaan sebuah bangunan cerita telah terbungkus dalam kata dalam goyah dan tak lama terberai masih ada persimpangan itu meski malam masih membisu hati yang kelu jalanan yang tetap renta ruangku yang makin terbatas angan yang meretas tinggal mengucap selamat [...]

Aug
28th

Kau Datang Padaku

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | 1 Comment

Antologi puisi Jerman pada abad ke-20 [Anthologie deutscher Lyrik des 20. Jahrhunderts in indonesischer Übersetzung] Diedit dan diterjemahkan oleh: [Herausgegeben und übersetzt von:] Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H. Penerbit [Verlag]: Balai Pustaka (Seri BP no. 4058), Jakarta 1994, ISBN: 979-407-682-1, 120 halaman Berikutnya disajikan pengantar antologi ini serta sebagian dari puisi Jerman yang diterjemahkan ke [...]

Aug
28th

Bagaimana Memilih Penerbit

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Banyak orang telah memiliki naskah tulisan yang telah siap dicetak, tapi tidak tahu akan dikirimkan ke penerbit mana. Penulis juga tak memiliki cukup informasi tentang aturan main dalam dunia penerbitan. Berikut ini beberapa tips memilih penerbit: 1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi-divisi mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut. [...]

Aug
27th

Serupa Apa

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

serupa apa cinta ini? biar kita berseberangan terpisah puluhan pulau tetap kita ingin bersauh melawan gelombang hingga lenyap segala gamang serupa apa harap ini? takkan kita biarkan tiang-tiang ini lapuk tetaplah kokoh untuk pemancang rumah dan rasa yang tak berubah serupa apa nanti ini? masing-masing mengembara dalam hati yang tak terpisah belajar memahami mengerti dan [...]

Aug
27th

Seperti Juga

tertoreh sebagai PUISI | 1 Comment

ini aku lelakimu merengkuhmu dari segala rambut hitam bercahaya hingga jemari kakimu membuatku gagu datang aku ke pelukmu senja belum juga tiba aku datang dalam tanya kau hapus pada jawab ini aku wanitaku pendar kasih matamu mengubah remang jadi terang mengusir gamang jadi garang langkahku biarkan malam lewat kita berhitung detik ke detik dalam hujan [...]