berdua kita nikmati
tusuk demi tusuk
potongan ketupat
dan bumbu yang nikmat
rambut panjangmu
berkelok seperti perjalanan
lebatnya tak beda dengan luka
yang menyelimuti jiwaku
lebih dari sepuluh tusuk
kau nikmati dalam lahap
aku kembali menatap
dalam sedih menusuk
perlahan beranjak
‘kenyang,’ katamu tertawa
aku turut tertawa
dalam perih menyesak
lbpagi,31 08 06
Re: [BungaMatahari] Re: Sate Padang
Fri Sep 1, 2006 6:38 am
entah lidah atau hati
yang kau tusukkan pada runcing ujung [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
saat sandarkan harapan padamu
hanya ada putus asa padaku
meski tak benar menarik garis
dan menghujatmu tanpa jeda
lalu tanpa terencana
kita lukis semua rasa
dalam kata-kata di lengkung senja
tatap matamu itu
kuduga kau buang muka
sedumu takut kehilangan
kuanggap hanya aku saja
pudar sudah dugaku
sejujurnya
aku tak bisa bicara
kamu sungguh luar biasa
tpmlm, 30 08 06
baca selengkapnya |
No Comments »
titian itu tak lagi kuat
menahan duka yang sarat
retak di dinding
dalam gigil gemertak
dari apa goyah
pancangan yang tak tegak
adukan yang sejenak
ataukah rasa yang berjarak
masih juga bisu
ucapkan perpisahan
karena ragu
titian itu kembali kupijak
masih ada di situ semua jejak
sejenak teringat
pernah kutawarkan segelas
hanya senyum tawar kau balas
sebab telah bertumpuk retak
janganlah ada isak
tp, 30 08 06
baca selengkapnya |
No Comments »
: ines & sintha
rumah dengan tembok tiga warna
penuh jendela dan cahaya
pulanglah aku
bawa segala luka lama
dan baru
disini resah ditenangkan
usai lewati berlusin kekalahan
berlusin kelelahan
kutemui kedamaianku
dalam pelukan gadis kecilku
dan tawanya
yang membelah kebisuan
segelas air dingin
lumatkan resah
kuatkan langkah
untuk esok
yang tak tahu seperti apa
lbmalam,15 03 06
baca selengkapnya |
No Comments »
: bangwin
nyala api itu darimana,kawan
puluhan lilin di atas kue
ataukah obor di kejauhan
dengan iringan musik blues
malam terasa mistis
lengkingan gitar miris
duduk saja dirimu di batu itu
tetap dengan senyummu
dedaunan tak lagi lelap
gemerisik tak lagi diam
tigapuluh enam warna
menyebar ke segala
samar ada nyanyi
memecah sunyi
alam mengucap selamat
lengkingan gitar menyayat
bagi waktu yang baru saja lewat
tp siang, 29 08 06
baca selengkapnya |
No Comments »
bergegas di persimpangan
tetap tak bisa menahan
bayangan menikam
akan esok yang diam
malam ini adalah permulaan
sebuah bangunan cerita
telah terbungkus dalam kata
dalam goyah
dan tak lama terberai
masih ada persimpangan itu
meski malam masih membisu
hati yang kelu
jalanan yang tetap renta
ruangku yang makin terbatas
angan yang meretas
tinggal mengucap
selamat tinggal
ataukah
selamat datang
tpsore, 28 08 06
baca selengkapnya |
No Comments »
Antologi puisi Jerman pada abad ke-20
[Anthologie deutscher Lyrik des 20. Jahrhunderts in indonesischer Übersetzung]
Diedit dan diterjemahkan oleh: [Herausgegeben und übersetzt von:]
Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H. Penerbit
[Verlag]: Balai Pustaka (Seri BP no. 4058), Jakarta 1994,
ISBN: 979-407-682-1, 120 halaman
Berikutnya disajikan pengantar antologi ini serta sebagian dari puisi Jerman yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia:
Im folgenden Auszüge aus [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
Banyak orang telah memiliki naskah tulisan yang telah siap dicetak, tapi tidak tahu akan dikirimkan ke penerbit mana. Penulis juga tak memiliki cukup informasi tentang aturan main dalam dunia penerbitan. Berikut ini beberapa tips memilih penerbit:
1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi-divisi mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut.
2. Cari [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
serupa apa cinta ini?
biar kita berseberangan
terpisah puluhan pulau
tetap kita ingin bersauh
melawan gelombang
hingga lenyap segala gamang
serupa apa harap ini?
takkan kita biarkan
tiang-tiang ini lapuk
tetaplah kokoh
untuk pemancang rumah
dan rasa yang tak berubah
serupa apa nanti ini?
masing-masing mengembara
dalam hati yang tak terpisah
belajar memahami
mengerti dan dimengerti
pastilah bisa
kita singgah
dan menghentikan
pengembaraan kita
lbmlm, 270806
baca selengkapnya |
No Comments »
ini aku lelakimu
merengkuhmu dari segala
rambut hitam bercahaya
hingga jemari kakimu
membuatku gagu
datang aku ke pelukmu
senja belum juga tiba
aku datang dalam tanya
kau hapus pada jawab
ini aku wanitaku
pendar kasih matamu
mengubah remang jadi terang
mengusir gamang jadi garang
langkahku
biarkan malam lewat
kita berhitung detik ke detik
dalam hujan rintik
tak ada binar bulan
tak jadi persoalan
saling jelajahi percintaan
ini aku dan kau
dalam hendak
merajut esok
yang entah waktunya
tapi akan [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »