Antologi puisi Jerman pada abad ke-20
[Anthologie deutscher Lyrik des 20. Jahrhunderts in indonesischer Übersetzung]
Diedit dan diterjemahkan oleh: [Herausgegeben und übersetzt von:]
Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H. Penerbit
[Verlag]: Balai Pustaka (Seri BP no. 4058), Jakarta 1994,
ISBN: 979-407-682-1, 120 halaman
Berikutnya disajikan pengantar antologi ini serta sebagian dari puisi Jerman yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia:
Im folgenden Auszüge aus der Anthologie:
PENGANTAR
Dunia itu pintu gerbang
Ke seribu gurun bisu dan dingin
Yang kehilangan,
Yang kau kehilangan,
Takkan berhenti di mana pun jua
Demikian bunyi bait ketiga dari sajak Friedrich Nietzsche berjudul “Kesepian” yang mengawali bagian utama, yaitu bagian puisi, dari buku ini. Biarpun antologi ini sebenarnya merupakan antologi puisi Jerman dari abad ke-20, rasanya patut saja sebuah karya Nietzsche, filosof dan pujangga yang meninggal dunia pada tahun 1900, dipilih menjadi sajak pertama. Bukan saja karena urutan sajak dalam antologi ini disusun berdasarkan tahun lahir penyair, melainkan juga karena Nietzschelah yang merupakan perintis berbagai perkembangan pemikiran yang sangat berarti dalam abad ini, sehingga kenyataan bahwa Nietzsche meninggal dunia tepat pada permulaan abad ini pantas kita anggap sebagai tanda sejarah. Nietzsche adalah titik tolak dari satu revolusi batin, yang akibatnya dirasakan oleh manusia modern di mana pun.
Dengan tuntutan Nietzsche mengenai “Umwertung aller Werte” (perombakan segala nilai) mulailah rasa sangsi manusia akan makna dan arti dunia, juga makna dan arti kehadiran diri sendiri. Kepercayaan kepada Tuhan pun mulai pudar, dan bersamaan dengan itu muncul keinginan manusia untuk meraih kebebasan yang mutlak dan menjadi “Übermensch” (Manusia Atas). Tetapi, ternyata juga bahwa jalan baru itu tidaklah jalan yang gampang, dan manusia modern akhirnya menemukan diri dalam keadaan ketakpastian, kebingunan dan kesepian. Maka manusia modern menjadi seorang pencari yang belum pasti akan menemukan yang dicarinya: “Yang kehilangan, Yang kau kehilangan, Takkan berhenti di mana pun jua.”
Sejarah kebudayaan telah membuktikan betapa besar pengaruh Nietzsche atas filosof dan seniman yang menyusulnya. Eksistensialisme dan nihilisme, kedua cabang falsafat yang sangat mewarnai perkembangan pemikiran dan kesenian pada abad ini, merupakan lanjutan dari filosofi Nietzsche. Dan banyak sekali filosof dan seniman seolah-olah terpaksa untuk bergulat dengan ide dan gagasan yang dilontarkannya. Maka tak mengherankan bila dalam banyak karya sastra, tentu juga dalam puisi Jerman, dapat kita menemukan tema-tema yang secara langsung atau tak langsung berhubungan dengan revolusi batin yang dipelopori Nietzsche. Berikutnya saya kutip beberapa baris dari sajak-sajak yang dimuatkan dalam antologi ini:
Dia akan kehilangan undang-undang sang pusat
Terpecah belah terbawa arus ke alam semesta.
(Stefan George)
Ajaib, berkelana dalam kabut!
Kehidupan adalah kesepian.
Tiada manusia mengenal yang lain,
Masing-masing sendirian.
(Hermann Hesse).
Tetapi toh segala itu tinggal terderitakan
melalui pertanyaan abadi: untuk apa?
(Gottfried Benn).
Ke mana engkau jatuh, o jiwa,
Tiada malam mengetahuinya.
Karena di situ tiada apa
Selain takut bisu banyak makhluk.
(Peter Huchel).
Apa sebenarnya itu artinya:
lahir, untuk melahirkan waktu
dalam kenekatan kesadaran -
untuk apa “aku”?
(Ernst Meister)
Tentu tema-tema lain dapat juga kita temukan dalam puisi Jerman abad ke-20, dan banyak contoh disajikan dalam antologi ini. Ada yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh “semangat” Nietzsche, dan barangkali sebagian dari sajak itu bahkan merupakan balasan tak langsung atas nihilismenya, di mana penyair berusaha untuk mengatasi rasa sangsi, untuk menemukan makna dan arti serta mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi toh boleh dikatakan bahwa puisi Jerman pada abad ini diwarnai semangat Nietzsche dan karena itu tidak mengherankan bahwa “kebingungan, “kesepian” dan “keterasingan” merupakan tema yang sangat dominan.
Bukan puisi atau sastra Jerman saja yang ternyata dipenga- ruhi oleh Nietzsche. Isi pemikirannya terjelma dalam sastra modern pada umumnya, misalnya dalam karya yang diilhami oleh Eksistensialisme Perancis yang berkaitan dengan filosofi Nietzsche. Dalam pada itu adalah menarik mengikuti uraian Subagio Sastrowardoyo dalam eseinya “Filsafat dan Puisi Modern Indonesia” mengenai pengaruh eksistensialisme dalam karya beberapa penyair Indonesia. Dari contoh-contoh yang disajikan Subagio saya kutip beberapa baris dari sajak “Kawanku dan Aku” karangan Chairil Anwar yang kalau bukan merupkan bukti atas pengaruh itu, paling sedikit mengandung paralel-paralel yang signifikan:
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
Bukti pengaruh dari atau paralel yang signifan dengan eksis- tensialisme sebagai penjelmaan semangat dan pemikiran Nietzsche dapat kita saksikan di dalam banyak sekali karya
sastra Indonesia modern. Satu tema yang luar biasa sering dapat kita temukan dalam puisi Indonesia modern ialah “Adam yang kehilangan Firdaus“. Di situ Adam menjadi lambang
manusia modern yang jauh dari Tuhannya (seperti yang dirasakan oleh Nietzsche), manusia yang kehilangan naungan- Nya dan menemukan diri dalam kebingungan dan kesepian. Sapardi Djoko Damono adalah seorang dari begitu banyak penyair Indonesia yang menulis sajak mengenai kenyataan itu:
Akulah tak lain dari Adam yang menggelepar
dalam jaring waktu dan tempat,
tak tertolong lagi dari kenyataan;
lantaran kesadaran yang curiga yang berlebih
atas Kehadirannya sendiri
(”Siapakah engkau”)
Dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi .
(”Jarak”)
Harus saya akui bahwa kupasan saya mengenai terjelmanya semangat Nietzsche dalam sastra modern, misalnya puisi Jerman dan puisi Indonesia, masih jauh dari analisa yang teliti dan karena itu masih bersifat spekulatif. Tapi toh saya kira bahwa terdapat semacam “benang merah” dalam sastra modern, dan benang itu rasanya memang mulai ditenun oleh Nietzsche.
*
Berikutnya akan diberi sedikit informasi mengenai sejarah dan periodiasi sastra dan puisi Jerman pada abad ke-20. Perlu saya terangkan, bahwa yang dimaksud dengan puisi erman adalah puisi yang tertulis dalam bahasa Jerman. Ini berarti bahwa penyair-penyair yang akan disebut dan yang karya-karyanya dimuatkan dalam antologi ini bukan saja berasal dari Jerman, melainkan juga dari negara lain seperti misalnya Austria dan Swis. informasi tambahan mengenai riwayat hidup dan karya- karya penyair antologi ini disajikan pada bagian akhir buku ini.
Dalam sastra dan puisi Jerman abad ke-20 dapat dibedakan aliran dan periode yang berikut:
Naturalisme, periode yang berlangsung kira-kira dari tahun 1880-1910, membawakan peningkatan dari realisme yang mendahuluinya. Di bawah pengaruh positivisme ilmu-ilmu pengetahuan, penyair-penyair naturalistis berusaha untuk mencerminkan keadaan alam dalam kesenian. Tokoh periode naturalisme Jerman, Arno Holz, - satu dari sajaknya kami muatkan dalam antologi ini - bahkan menulis: Kesenian = Alam – x. Tema dominan dalam karya-karya pujangga naturalistis ialah protes terhadap keadaan sosial yang tidak adil. Dalam bidang puisi bentuk-bentuk tradisional seperti rima atau irama yang tertentu semakin diabaikan. Bahasa sajak seringkali agak prosais.
Impresionis medan simbolisme adalah aliran kesusastraan yang mulai kira-kira pada tahun 1890 dan berlangsung sampai 1910. Lain daripada penyair naturalisistis, penyair impresionis- tis dan simbolistis tertarik pada penggambaran perasaan jiwa yang subyektif. Mereka mencipta berdasarkan prinsip l’art pour l’art (seni demi seni) dan sajaklah yang mereka anggap jenis sastra yang paling cocok. Terutama oleh penyair-penyair simbolistis sastra dijadikan satu “seni kata” yang memiliki kekuatan ajaib dan mistis. Tema-tema dalam sajak simbolistis adalah ide-ide, jarang kejadian atau peristiwa tertentu, sedangkan dalam impresionisme masih bertolak dari kejadian nyata. Jelas bahwa penyair kedua aliran ini kurang terlibat dalam apa yang terjadi di sekitar si seniman, misalnya di bidang politis atau sosial. Yang kami muatkan dalam antologi ini sebagai contoh untuk aliran impresionis adalah Liliencron. Dan sebagai penyair simbolistis, George, Hoffmansthal dan Rilke. Penyair-penyair yang dipengaruhi oleh aliran tadi ialah Hesse dan Morgenstern.
Antara tahun 1910 dan 1925 aliran ekspresionisme yang berdominasi dalam kesusastraan Jerman dan terutama dalam bidang puisi nampak kekuatannya . Ekspresionisme bertujuan
untuk mengekspresikan kebenaran dan perasaan jiwa yang sedalam-dalamnya. Alam dan bahkan bahasa dianggap sebagai sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan dan tidak mencukupi untuk kesenian. Anggapan ini menyebabkan bahwa bahasa dalam sajak-sajak ekspresionistis cenderung untuk mengabaikan logika. Salah satu tema yang dominan dan seringkali diucapkan secara ekstatis adalah impian tentang manusia dan kebudayaan yang baru. Penyair ekpresionistis dalam antologi ini adalah Benn, Trakl, Heym dan Lasker- Schüler.
Aliran dadaisme (1916-1924) merupakan peningkatan ekspressionisme dengan sama sekali mengabaikan logika. Dalam sajak dadaistis kata-kata dibebaskan dari makna dan pengutaraan bunyi malahan dapat menggantikan kata. (Pengaruh dadaisme rasanya terlihat juga dalam puisi Indo- nesia modern, misalnya dalam karya-karya Sutardji Calzoum Bachri).
Dadaisme menganggap diri sebagai kesenian revolusioner dan antiburjuis yang memprotes rasionalisme palsu yang ikut menyebabkan Perang Dunia Pertama melalui irasionalisme yang
sadar. Tokoh dari aliran-aliran dadaisme adalah Arp dan Schwitters.
Adalah susah untuk memberikan nama atau istilah tertentu kepada sastra Jerman antara tahun 1925 dan 1945 , karena tak ada aliran yang benar-benar dominan. Tahun 1933, waktu kekuasaan direbut oleh Hitler, membawa perubahan yang besar untuk banyak pengarang. Kebebasan mencipta dihilang- kan oleh rezim Nazi, dan banyak pengarang, misalnya Thomas Mann dan Bertolt Brecht, beremigrasi ke luar negeri. Dari situ mereka berjuang melawan Hitler melalui karya- karyanya. Ada pula pengarang yang menolak naziisme, tapi tetap tinggal di Jerman dan terpaksa berhati-hati dalam melontarkan kritiknya atau tidak terlalu menggubris keadaan di sekelilingnya. Tetapi ada juga yang malahan mendukung ideologi dan pemerintah Nazi.
Neue Sachlichkeit (Keobyektifan Baru) adalah istilah yang dipakai oleh ilmu kesusastraan untuk menyimpulkan ciri khas dalam karya kebanyakan pengarang antinazi. Keobyektifan
dalam karya mereka itu jelas berbeda dengan hasil aliran ekspresionistis, impresionistis atau simbolistis.
Dalam puisi dapat dibedakan tiga jenis. Pertama: puisi yang obyektif, berbahasa sederhana dan politis, misalnya dari Brecht dan Tucholsky. Kedua: puisi alam dari aliran Naturmagie (Magi alam) yang bertema alam yang diatur oleh sesuatu yang transenden, misalnya dari Huchel dan Loerke. Ketiga: puisi yang konservatif seperti dari Carossa.
Selesainya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, jatuhnya diktatur Nazi, dan hancurnya seluruh Jerman pertama-tama dianggap oleh angkatan pengarang muda sebagai permulaan baru untuk sastra Jerman. Tapi dengan kembalinya pengarang yang beremigrasi di zaman Nazi ke Jerman ternyata pula bahwa tradisi-tradisi lama dibawa, diteruskan dan diwariskan
mereka itu kepada pengarang-pengarang muda. Yang benar- benar merupakan kenyataan yang baru adalah berdirinya dua negara Jerman sejak tahun 1949. Perkembangan kesusas- traan di Jerman-Barat dan Jerman-Timur sangat berbeda.
Doktrin yang dominan di Jerman-Timur yang komunis itu adalah realisme sosialistis yang tidak memberi kebebasan kepada seniman. Ini menyebabkan sastra Jerman- Timur agak monoton dan tidak seanekaragam sastra di Jerman-Barat, Austria dan Swiss. Ternyata juga bahwa banyak pengarang Jerman-Timur tidak betah hidup di negara komunis itu dan pindah ke Jerman-Barat ataupun diungsikan karena mengeritik keadaan dalam negara komunis itu. Misalnya Huchel, Kirsch, Biermann, Kunert dan Kunze, yang sajaknya kami muatkan dalam antologi ini. Dengan penyatuan Jerman pada tahun 1990 sastra Jerman-Timur (dan Barat!) tinggal sejarah dan penyair-penyair Jerman dapat lagi mencipta dalam tanah air yang bersatu.
Adalah susah untuk mengadakan periodisasi kesusastraan di Jerman (Barat), Austria dan Swiss setelah perang. Sastra ternyata berkembang tanpa adanya program atau aliran seperti misalnya impresionisme ataupun ekspresionisme pada awal abad ini. Tema-tema yang dominan adalah pembahasan kejadian selama kekuasaan Nazi dan selama perang serta kritik terhadap cara dan hasil pembangunan kembali di Jerman- Barat. Gruppe 47 (Kelompok 47) merupakan persatuan tak resmi beberapa pengarang yang didirikan pada tahun 1947 dan yang sampai tahun 1967 mengadakan pertemuan teratur. Dalam bidang puisi ada penyair yang meneruskan tradisi, ada pula yang menempuh jalan yang baru dan menghasilkan puisi kongkret karena sangsi akan kemampuan bahasa dalam menyatakan kebenaran. Penyair-penyair yang terpenting setelah perang adalah: Bachmann, Celan, Enzensberger, Fried, Krolow, Kirsch dan Kaschnitz.
*
Pemilihan sajak untuk antologi ini tidak lepas dari selera subyektif editor. Telah ternyata juga bahwa cukup banyak puisi yang dipertimbangkan tidak cocok untuk diterjemahkan, karena dalam terjemahan akan terlalu kehilangan keindahan puitisnya atau karena pengertiannya akan memerlukan pengetahuan rinci mengenai latar belakang kebudayaan, masyarakat atau sejarah yang belum pasti dimiliki pembaca Indonesia. Tentu kami memuatkan sajak dari semua penyair Jerman abad ke-20 yang secara internasional sudah diakui sebagai pujangga yang menyumbang “karya sastra dunia” (Weltliteratur), misalnya George, Hoffmansthal, Rilke, Hesse, Benn, Trakl, Tucholsky, Brecht, Celan atau Grass. Kami pun berhasil menemukan dan memuatkan beberapa sajak yang bernafaskan suasana Indonesia, yaitu dari Hermann Hesse dan Yvan Goll.
Faktor penentu dalam melaksanakan proyek antologi ini adalah perkenalan saya dengan sastrawan Indonesia Ramadhan K.H. yang dari tahun 1986 sampai tahun 1989 pernah hidup di Bonn. Ternyata pencipta kumpulan sajak “Priangan Si Jelita” yang gemilang itu bersedia untuk diajak kerja sama dalam menerjemahkan puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia yang dari dulu ingin sekali saya kerjakan, tetapi tidak berani saya lakukan sendiri karena sadar akan keterbatasan saya dalam menghasilkan terjemahan yang puitis. Berkat kerja sama dengan Ramadhan K.H. rasanya dapat dihasilkan puisi terjemahan yang sebagiannya mencapai mutu yang cukup tinggi. Namun, kami sebagai penerjemah menyadari bahwa hasil terjemahan kami masih banyak mengandung kelemahan. Perasaan bahwa kami sebagai penerjemah seringkali gagal pun menguasai kami, bila kami melihat karya aslinya yang begitu indah, yang begitu sempurna. Tapi mungkin itu perasaan lumrah bagi seorang penerjemah sastra. Sebuah puisi yang baik merupakan kesatuan antara isi dan bentuk. Dengan menerjemahkannya bentuk asli akan hilang karena medium (bahasa) yang lain. Karena itu terjemahan senantiasa sesuatu yang sama sekali lain daripada aslinya dan hanya merupakan pendekatan. Dan kenyataan itu sangat berlaku bila perbedaan antara bahasa asli dan bahasa sasaran sebesar perbedaan antara bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Kedua bahasa itu sebenarnya dua metode atau alat yang sangat berlainan untuk memahami dan menginterpretasi keadaan. Karena itu pun kesempurnaan terjemahan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia (dan sebaliknya) mustahil untuk dicapai.
Walaupun demikian, menerjemahkan itu adalah usaha yang berharga dan merupakan salah satu jalan untuk saling
memperkenalkan masing-masing kebudayaan dan untuk mengembangkan saling pengertian antara bangsa-bangsa dalam usaha menuju dunia yang damai dan berbudaya. Antologi ini yang merupakan antologi pertama puisi Jerman dalam bahasa Indonesia yang dipasarkan kami harap dapat menyumbang pada tercapainya tujuan itu, walaupun hanya merupakan langkah kecil dalam usaha memperkenalkan puisi Jerman kepada bangsa Indonesia.
Bonn, 20 Agustus 1993 Berthold Damshäuser
sumber : http://www.uni-bonn.de
By diah on Nov 12, 2008 | Reply
buat smua yg tau tentang sastra modren jerman.tolong kasih tau diah dunk ke email diah, pio_sya@yahoo.co.id
please..bantu diah ya..penting nih, hari senin ni hrus d presentasikan…