natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Sep
30th

Keberagaman di Atas Panggung

tertoreh sebagai PUISI, Sastra - Budaya | Leave a Comment

Melayu tidak berkembang dalam ruang hampa. Keragaman dan pembauran yang cair menjadi ciri Melayu itu sendiri. Setidaknya itu tercermin dari atas panggung Festival Internasional Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang menghadirkan berbagai seni pertunjukan pada 10-15 September 2006. Pembauran itu antara lain terlihat dalam pementasan Teater Bangsawan, teater tradisional yang konon merupakan wayang [...]

Sep
30th

Kekerasan Atas Nama Kehormatan

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Judul: Burned Alive (edisi terjemahan) Penulis: Souad Penerjemah: Khairil Azhar Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta Cetakan: Pertama, April 2006 Tebal: 290 halaman Oleh : Damhuri Muhammad Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu, Hussein, [...]

Sep
30th

Mencari Tamadun Melayu

tertoreh sebagai PUISI, Sastra - Budaya | 1 Comment

Oleh : Putu Wijaya Festival Budaya Melayu Internasional, 11-15 September 2006, di Tanjung Pinang, Pulau Bintan, heboh sekali. Hampir 4.000 orang tumplek pada acara pembukaannya. Hadir Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), seorang menteri senior Singapura, pejabat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan hampir 1.000 peserta dari seluruh wilayah Kepri, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Riau daratan, Kalimantan Barat, [...]

Sep
30th

Laras: Tubuhku Bukan Milikku

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Pengarang : Damhuri Muhammad Penerbit : Dastan (Pustaka Zahra Group) Halaman : 228 Harga toko Rp. 22,500 ( diskon 15.00 % ) : : Rp. 19,125 : : Deskripsi : Beban di perutnya kian berat. Karena itu, mesti dikeluarkan hingga tubuhnya ringan dan leluasa melangkah melanjutkan tualang tak berujung. Nun ke negeri entah. Ia merintih [...]

Sep
30th

Cerpen dan Kekerasan dalam Masyarakat Kita

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Jakarta, Kompas – Sastra merupakan refleksi suatu zaman. Kekerasan yang dialami masyarakat ternyata tercermin pula wujudnya di dalam karya sastra, seperti cerita pendek. Hal itu tertuang dalam disertasi Harris Effendi Thahar, cerpenis yang juga pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang (UNP). Disertasi untuk meraih gelar doktor bidang bahasa dan sastra dari Universitas [...]

Sep
29th

Lebih Bicara

tertoreh sebagai PUISI | 1 Comment

jika puisi yang tercipta sayatkan mata jiwa tak usahlah heran atau bertanya lihat saja dengan hati yang matanya tajam mengiris semua yang sembunyi merajam dalam diam puisi yang terbaca hanya terdengar pelan dalam ragu tertahan jika pun kata bisa berkata tak ada artinya dibanding segala pahit hidup yang lebih kenyang bicara meski tanpa kata lbbulus, [...]

Sep
28th

Mozaik Peradaban Melayu (3-Habis)

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Istana Kota Piring yang Terlupakan… Oleh : Indira Permanasari Sering kali saat Effendi Husin (35) mencari udang di tepi Sungai Riau ada saja piring atau mangkuk yang ditemukannya. Tidak ada yang utuh. Terkadang sompal di satu bagian atau bahkan hanya tersisa seperempatnya saja. Ada yang berwarna dasar putih dengan motif biru seperti keramik China, putih [...]

Sep
28th

“Jogja 5,9 Skala Richter” di Kedai Kebun

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Sejumlah penyair yang tinggal di Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, Sabtu (30/9), akan tampil menandai peluncuran antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter di Yogyakarta. Acara akan berlangsung pukul 20.00 (seusai shalat tarawih) di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirotipuran 3, Yogyakarta. Selain pembacaan puisi—antara lain, oleh Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Katrin Bandel, dan Saut Situmorang—juga digelar musikalisasi [...]

Sep
27th

Mozaik Peradaban Melayu (2) – Pertunjukan Bangsawan, Jendela Masa Silam

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

Oleh : Indira Permanasari Alkisah hidup seorang lanun atau perompak laut yang kejam. Di Pulau Sebatik, lanun tersebut berdiam. Bersama anak buahnya merampoki kapal-kapal yang lewat, memerkosa perempuan desa, mengganggu para pedagang hingga membuat perairan menjadi kelam. Sultan Lingga sangatlah cemas dengan tindak-tanduk lanun nan kejam. Suatu saat, lanun Pulau Sebatik jatuh cinta kepada seorang [...]

Sep
26th

Protected: Nice Words

tertoreh sebagai PUISI | Enter your password to view comments.

There is no excerpt because this is a protected post.