Melayu tidak berkembang dalam ruang hampa. Keragaman dan pembauran yang cair menjadi ciri Melayu itu sendiri. Setidaknya itu tercermin dari atas panggung Festival Internasional Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang menghadirkan berbagai seni pertunjukan pada 10-15 September 2006.
Pembauran itu antara lain terlihat dalam pementasan Teater Bangsawan, teater tradisional yang konon merupakan wayang parsi. [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Judul: Burned Alive (edisi terjemahan)
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2006
Tebal: 290 halaman
Oleh : Damhuri Muhammad
Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu, Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. “Jadi, perutmu sudah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : Putu Wijaya
Festival Budaya Melayu Internasional, 11-15 September 2006, di Tanjung Pinang, Pulau Bintan, heboh sekali. Hampir 4.000 orang tumplek pada acara pembukaannya.
Hadir Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), seorang menteri senior Singapura, pejabat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan hampir 1.000 peserta dari seluruh wilayah Kepri, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Riau daratan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
Pengarang : Damhuri Muhammad
Penerbit : Dastan (Pustaka Zahra Group)
Halaman : 228
Harga toko Rp. 22,500 ( diskon 15.00 % ) : : Rp. 19,125 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Jakarta, Kompas – Sastra merupakan refleksi suatu zaman. Kekerasan yang dialami masyarakat ternyata tercermin pula wujudnya di dalam karya sastra, seperti cerita pendek.
Hal itu tertuang dalam disertasi Harris Effendi Thahar, cerpenis yang juga pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang (UNP).
Disertasi untuk meraih gelar doktor bidang bahasa dan sastra dari Universitas Negeri Jakarta [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
jika puisi yang tercipta
sayatkan mata jiwa
tak usahlah heran
atau bertanya
lihat saja dengan hati
yang matanya tajam
mengiris semua yang sembunyi
merajam dalam diam
puisi yang terbaca
hanya terdengar pelan
dalam ragu tertahan
jika pun kata bisa berkata
tak ada artinya dibanding
segala pahit hidup
yang lebih kenyang bicara
meski tanpa kata
lbbulus, 29 09 06
baca selengkapnya |
1 Comment »
Istana Kota Piring yang Terlupakan…
Oleh : Indira Permanasari
Sering kali saat Effendi Husin (35) mencari udang di tepi Sungai Riau ada saja piring atau mangkuk yang ditemukannya. Tidak ada yang utuh. Terkadang sompal di satu bagian atau bahkan hanya tersisa seperempatnya saja.
Ada yang berwarna dasar putih dengan motif biru seperti keramik China, putih polos bergaya Eropa, [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Sejumlah penyair yang tinggal di Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, Sabtu (30/9), akan tampil menandai peluncuran antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter di Yogyakarta. Acara akan berlangsung pukul 20.00 (seusai shalat tarawih) di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirotipuran 3, Yogyakarta. Selain pembacaan puisi—antara lain, oleh Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Katrin Bandel, dan Saut Situmorang—juga digelar musikalisasi [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : Indira Permanasari
Alkisah hidup seorang lanun atau perompak laut yang kejam. Di Pulau Sebatik, lanun tersebut berdiam. Bersama anak buahnya merampoki kapal-kapal yang lewat, memerkosa perempuan desa, mengganggu para pedagang hingga membuat perairan menjadi kelam. Sultan Lingga sangatlah cemas dengan tindak-tanduk lanun nan kejam.
Suatu saat, lanun Pulau Sebatik jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
There is no excerpt because this is a protected post.
baca selengkapnya |
Enter your password to view comments