Yogyakarta, Sinar Harapan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (21/11) akan meletakkan batu pertama pembangunan pabrik Tiwul instan. Diharapkan, pada tahun 2003 kuartal pertama, pabrik ini mulai beroperasi secara penuh dengan kapasitas tiga ton/hari atau 90 ton/bulan.
” Dari riset pasar yang kami adakan, prospeknya cukup cerah. Produk akan kita distribusikan ke seluruh daerah, tentu utamanya DIY dan Jateng,” kata Public Relations PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk Bogasari Flour Mills, Johannes Sugianto, akhir pekan lalu di Yogyakarta.
Pabrik tiwul instan itu terletak di Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Dipilihnya Gunungkidul ini mengingat bahan dasar tiwul (ubi kayu) tersedia sepanjang tahun di daerah tersebut. Apabila kesulitan bahan dasar, maka bahan ini akan dipasok dari daerah Blitar dan Malang.
Total nilai investasi Rp 3 miliar, komposisi pemegang saham, PT ISM Bogasari 51 persen, pemerintah kabupaten 25 persen dan pengusaha lokal PT Sinar Sukses Santosa 24 persen.
Menurut Johannes, PT ISM Bogasari akan memberikan bantuan teknis dalam bidang konstruksi pabrik, mesin produksi, formula dan pengendalian mutu serta konsultasi manajemen. Diharapkan dalam waktu yang tidak lama, sekitar 3 - 5 tahun, pemerintah kabupaten dan pengusaha lokal sudah mampu mandiri. Saat itulah PT ISM akan melepas seluruh saham yang dimilikinya. Skema seperti ini akan diberlakukan di setiap daerah, terutama yang menjalin kerja sama dengan PT ISM.
Tak hanya itu, PT ISM Bogasari juga akan membantu dalam mengemas produk tiwul instan. Hal lain juga akan membantu memasarkan, baik yang berbentuk kiloan maupun sachet. ” Yang jelas, tiwul instan ini akan ditingkatkan kandungan gizinya. Karena itu bahan pembuatnya ditambah dengan terigu dan jagung. Pada tahap awal, selain rasa asli, juga akan diperkenalkan tiwul instan rasa nasi goreng, rasa rendang dan ikan asin,” kata Johannes.
Ditambahkan, dengan mendirikan pabrik tiwul instan ini, Bogasari ingin memelopori langkah konkret dalam upaya penganekaragaman pangan, terutama dengan memberda- yakan potensi pangan daerah,” tambah Johannes.
Gaplek produksi Gunungkidul selama ini sudah terkenal sebagai barang ekspor dengan volume 140.000 ton/yahun. Dari tahun ke tahun produksi ubi kayu Gunungkidul selalu meningkat.
Jika tahun 2000, produksinya mencapai 717.611 ton, tahun 2001 yang lalu meningkat menjadi 830.669 ton, dari jumlah ini, gaplek yang diperoleh menjadi sekitar 276.000 ton atau sepertiganya. Potensi lahan ubikayu mencapai 51.000 hektare dengan rata-rata luas panen 48.000 hektare. (yuk)
sumber : Sinar Harapan,18 November 2002
You must be logged in to post a comment.