Semarang, Kompas – Budayawan Darmanto Jatman mengingatkan, jika tidak ingin punah, bahasa Jawa seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Tidak perlu dimunculkan fundamentalisme Jawa, yakni merasa cuma bahasa Jawa yang mengikuti pakem, yang ndakik-dakik, yang dinilai halus tutur katanya, yang boleh dipergunakan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Bahkan, bukan sesuatu yang tabu jika kini juga diperkenalkan bahasa Jawa gaul.
”Orang Jawa itu sekarang banyak yang bisa berbahasa Arab, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia. Bahkan, seperti saya sudah 36 tahun mengajar dalam bahasa Indonesia. Tetapi, bahasa Jawa itu kan bahasa hati. Jadi, tidak perlu menjadi fundamentalisme Jawa dengan hanya mengembangkan bahasa Jawa yang ndakik-dakik,” kata Darmanto ketika memberikan sesorah (orasi) pada pembukaan Kongres Sastra Jawa (KSJ) II di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/9).
KSJ II itu dibuka anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jateng, Sudharto.
Kongres yang akan berlangsung hingga Minggu besok itu diikuti oleh sastrawan Jawa, antara lain Suparto Brata, Ahmad Thohari, dan Arswendo Atmowiloto, dalang Ki Enthus Susmono, Ki Trontong Sadewa, serta penerbit dan pengelola media berbahasa Jawa.
Arswendo yang tampil berbahasa Jawa pun mengakui, budaya Jawa sampai kini tetap hidup karena tidak pernah memaksakan kehendak atau mengharuskan (kudu) orang lain.
”Memakai belangkon boleh, tidak memakai belangkon juga tidak apa-apa. Segala sesuatu diterima secara ringan (entheng), luwes, sehingga tidak pernah terhenti,” kata pengarang sejumlah buku itu. (tra)
Sumber : Kompas,Ikuti Perkembangan Zaman
Semarang, Kompas – Budayawan Darmanto Jatman mengingatkan, jika tidak ingin punah, bahasa Jawa seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Tidak perlu dimunculkan fundamentalisme Jawa, yakni merasa cuma bahasa Jawa yang mengikuti pakem, yang ndakik-dakik, yang dinilai halus tutur katanya, yang boleh dipergunakan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Bahkan, bukan sesuatu yang tabu jika kini juga diperkenalkan bahasa Jawa gaul.
”Orang Jawa itu sekarang banyak yang bisa berbahasa Arab, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia. Bahkan, seperti saya sudah 36 tahun mengajar dalam bahasa Indonesia. Tetapi, bahasa Jawa itu kan bahasa hati. Jadi, tidak perlu menjadi fundamentalisme Jawa dengan hanya mengembangkan bahasa Jawa yang ndakik-dakik,” kata Darmanto ketika memberikan sesorah (orasi) pada pembukaan Kongres Sastra Jawa (KSJ) II di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/9).
KSJ II itu dibuka anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jateng, Sudharto.
Kongres yang akan berlangsung hingga Minggu besok itu diikuti oleh sastrawan Jawa, antara lain Suparto Brata, Ahmad Thohari, dan Arswendo Atmowiloto, dalang Ki Enthus Susmono, Ki Trontong Sadewa, serta penerbit dan pengelola media berbahasa Jawa.
Arswendo yang tampil berbahasa Jawa pun mengakui, budaya Jawa sampai kini tetap hidup karena tidak pernah memaksakan kehendak atau mengharuskan (kudu) orang lain.
”Memakai belangkon boleh, tidak memakai belangkon juga tidak apa-apa. Segala sesuatu diterima secara ringan (entheng), luwes, sehingga tidak pernah terhenti,” kata pengarang sejumlah buku itu. (tra)
Sumber : Kompas, Ikuti Perkembangan Zaman
Semarang, Kompas – Budayawan Darmanto Jatman mengingatkan, jika tidak ingin punah, bahasa Jawa seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Tidak perlu dimunculkan fundamentalisme Jawa, yakni merasa cuma bahasa Jawa yang mengikuti pakem, yang ndakik-dakik, yang dinilai halus tutur katanya, yang boleh dipergunakan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Bahkan, bukan sesuatu yang tabu jika kini juga diperkenalkan bahasa Jawa gaul.
”Orang Jawa itu sekarang banyak yang bisa berbahasa Arab, bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia. Bahkan, seperti saya sudah 36 tahun mengajar dalam bahasa Indonesia. Tetapi, bahasa Jawa itu kan bahasa hati. Jadi, tidak perlu menjadi fundamentalisme Jawa dengan hanya mengembangkan bahasa Jawa yang ndakik-dakik,” kata Darmanto ketika memberikan sesorah (orasi) pada pembukaan Kongres Sastra Jawa (KSJ) II di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/9).
KSJ II itu dibuka anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jateng, Sudharto.
Kongres yang akan berlangsung hingga Minggu besok itu diikuti oleh sastrawan Jawa, antara lain Suparto Brata, Ahmad Thohari, dan Arswendo Atmowiloto, dalang Ki Enthus Susmono, Ki Trontong Sadewa, serta penerbit dan pengelola media berbahasa Jawa.
Arswendo yang tampil berbahasa Jawa pun mengakui, budaya Jawa sampai kini tetap hidup karena tidak pernah memaksakan kehendak atau mengharuskan (kudu) orang lain.
”Memakai belangkon boleh, tidak memakai belangkon juga tidak apa-apa. Segala sesuatu diterima secara ringan (entheng), luwes, sehingga tidak pernah terhenti,” kata pengarang sejumlah buku itu. (tra)
Sumber : Kompas, 02 September 2006