Pengantar:
Atas kebaikan hati mas Jamal D. Rahman, Pemimpin Redaksi Majalah Horison, naskah tentang Umbu Landu Paranggi yang merupakan salah satu legenda dunia sastra Indonesia ini bisa disajikan dalam gubuk puisi ini. Riwayat dan karya Umbu ini termuat dalam Horison edisi September 2006.
Selama ini, Umbu dikenal sebagai suhu atau guru bagi para sastrawan Indonesia yang ‘misterius’. Lewat laporan Horizon, dapat dikenal lebih jauh tentang jejak beliau.
Susunan naskah ini ditampilkan tidak berurutan seperti di majalah Horizon, tanpa merubah satu pun kata atau kalimat yang ada. Perubahan hanya dilakukan pada pemenggalan bait, agar lebih enak dibaca, juga tanda bold maupun italic. (Yo)
Oleh : Korrie Layun Rampan
Kebanyakan sajak Umbu Landu Paranggi berbicara tetang cinta dan kasih sayang yang diucapkan secara khas. Pada dasarnya, penemuan bahasa di dalam puisi menunjukkan bahwa sang penulis sajak adalah seorang individu, —karena tanpa penemuan bahasa, tak ada puisi. Penyair selalu menemukan bahasanya sendiri, sehingga masyarakat pembaca dapat membedakan antara si penyair ini dan si penyair anu, atau si sastrawan Polan dengan sastrawan Wallahualam. Penemuan mereka atas bahasalah yang membuat karya mereka dapat dibedakan satu sama lain. Di situlah kepribadian penyair tampak. Kepribadian penyair tampak dari kepribadian karya-karyanya.
Umbu Landu Paranggi telah menemukan bahasanya sendiri. Sajak-sajaknya yang bertebaran di berbagai media massa —ada yang sudah siap terbit dengan judul Melodia, Maramba Rumba, dan Sarang (sebagiannya dikumpulkan Linus Suryadi AG dalam Tonggak 3, 1987)— menunjukkan bahwa kepenyairannya telah suntuk dengan berbagai penggalian dan eksplorasi terhadap tema dan bahasa.
Pada dasarnya dunia kreatif adalah dunia yang sunyi, karena penjelajahan penyair selalu bersifat individual ke relung-relung berbagai gua perawan yang sepi. Sajak- sajak Umbu pada umumnya bernada sunyi, mengungkap- kan keterpencilan, kembara, dan penjelajahan yang tak pernah sampai, kemauan hati yang terkendala oleh hal-hal tertentu, dan rasa kesia-siaan yang menimpa kalbu karena kemustian yang dipilih tidak seperti apa yang diharapkan oleh orang tua, keluarga, bahkan tidak juga oleh kekasih dan diri sendiri. Kerinduan akan tanah kelahiran, kepada segala yang dahulu pernah karib dengan diri, meruyak kembali setelah terjadi perpisahan yang lama dan penuh derita.
Penyair seakan melakukan pelarian, ziarah yang tak pernah habis sepanjang hayat: kerinduan yang pahit dalam kenangan yang manis, lalu kembali pada bait-bait puisi, yang senantiasa memberi harapan dan hiburan yang tak berhenti. Penyair menulis: Dalam tanganmu sunyi/ … tiba-tiba musim mengkristal rindu dendam// … hati pada kenangan/ bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian// … dalam gaung kumandang bait demi bait puisi (sajak “Solitude”). Lalu katanya lagi: … Sabana sunyi/di sini hidupku/ sebuah gitar tua/ seorang lelaki berkuda (sajak “Sabana”).
Dari segi bentuk, sejumlah sajak Umbu Landu Paranggi masih mengikuti pola konvensional, meskipun beberapa sajaknya menggunakan eksperimentasi bentuk. Namun di dalam isi, sajak-sajak penyair ini mencerminkan penemuan terhadap pengucapan dan tema, yaitu dengan menampilkan pemikiran yang khas, tentang dualisme baik-buruk dan upaya mengeliminasi derita pada wilayah kesukaan, cinta, dan kasih sayang. Dalam situasi ini, beberapa sajak alitnya menyarankan arti cinta dan pengorbanannya terhadap cita-cita awal yang dilanggar sendiri. Cinta secara fitri antara lelaki dan perempuan, atau antara anak dan orangtua, membuat berbagai rasa membuncah dalam jiwa.
Begitulah, dalam sajak “Horison” ia merasakan bahwa kerinduan akan kampung halaman laksana suara serunai yang memanggil pulang si petualang. Dalam sajak “Meditasi” ia merasa semua apa yang diperjuangkannya terbakar. “Sajak Kemarau” melukiskan tujuan yang jauh, seluas angkasa, seluas samudera, yang melulurkan rahasia cintanya di pasir waktu. Lalu sajak “Pergi” melukiskan kefanaan, usia yang selalu berangkat tua, waktu yang selalu pergi, bahwa usia merampas-rampas tenaga. Sajak “Siul” menyatakan bahwa rumah nun di pulau jauh selalu memanggil pulang, sehingga bahana panggilan itu mengikuti sepanjang jalan kenangan.
Apa yang diringkas secara sederhana di atas dapat disimak dalam kutipan-kutipan sajak berikut ini:
langit di mana busur cinta menyasar dari bumi atas bawah
bertemu anak angin yang mendera pengembara pantai jauh
aku cinta buruan fajar yang mengusir segala bayang-bayangku
aku rindu serunai senja yang memanggil pulang petualanganku
nyalakan seluruh indra bakar tongkat tua di pucuk candi
yang menunjuk batu berlumut waktu lahirku di puncak sepi
pusatkan denyut sukma, biar kuhela napasmu biar ini rahasia
terbakar, burung kandungku bersayap cinta dan derita.
(sajak “Meditasi”)
berapa musim panas lagi rindu, kenang satu sbaris puisi
jantung yang akan terbakar hangus semesta bahasa sunyi
yang menyihir padang-padang tandus, ke laut lepas tabir biru
melulur bayang-bayang di pasir waktu: rahasia cintaku.
(sajak “Sajak Kemarau”)
hari-hari bergilir datang, pergi berlalu
di pintu ke luar masuk, menegur dan menyambut setia
hidup memburu waktu diburu waktu
diri berangkat tua, usia merampas-rampas tenaga
(sajak “Pergi”),
dan
lagu dalam angin, angin dalam lagu
melayang jauh gelisah mengadu
bahana di rumah sepi berkepanjangan
sepanjang jalan kenang-kenangan
(sajak “Siul”).
Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi umumnya menyiratkan kenangan kepergiannya ke luar tanah kelahiran, serta melukiskan lokalitas tanah kelahirannya. Ada suasana religius dan rasa mesra atas tanah kelahiran setelah semuanya jadi nostalgia. Dalam pada itu, untuk pulang kembali, penyair merasa sudah menjadi manusia lain. Segalanya hanya tinggal kenangan, tak tersentuh, tak tergapai. Seperti Sitor Situmorang, Umbu Landu Paranggi merasa dirinya bagai “anak hilang”, sebagaimana diucapkannya dalam dua baris sajak “Percakapan Selat”: Langit terus mainkan cuaca, sampai tanjung, rusuk senja/ bintang di mata si anak hilang, taruhannya terus mengembara.
Sebagian sajak-sajak Umbu Landu Paranggi yang dikutip dan diulas di sini menunjukkan wajah penyair yang pada tahun 1969-1975 digelari sebagai “Presiden Malioboro” yang bernada rendah (sombre), lembut, dan menyaran ke dunia lawas, dunia magis-religius. Sebagian sajaknya melukiskan pengembaraan, kebimbangan, penyerahannya pada nasib, dan pelukisan akan Sumba, tanah kelahirannya.
Saat Taufiq Ismail melihat padang terbuka di Uzbekistan, penyair itu teringat pada Umbu Landu Paranggi. Dia pun menulis sajak “Beri Daku Sumba”. Sajak itu didedikasikan pada Umbu: Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/ Aneh, aku jadi ingat pada Umbu, tulis Taufiq dalam puisi itu.
Sebagai penyair, Umbu memang tidak seterkenal Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Caloum Bachri, Darmanto Yt., Abdul Hadi W.M., atau Afrizal Malna misalnya. Akan tetapi, perannya sebagai penyair yang turut melahirkan bakat-bakat baru membuatnya tak bisa dilupakan dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Jika ada gagasan “puisi masuk desa”, sebenarnya gagasan itu sudah dilakukan Umbu Landu Paranggi sejak 1969 dengan PSK-nya (Persada Studi Klab) yang didirikannya dan berbasis di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta.
Melalui PSK, Umbu turun ke kampung-kampung, ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah, ke surau dan masjid, ke pasar, ke pasar swalayan, ke kantor-kantor pemerintah, ke kantor swasta, ke pesantren, panti asuhan, dan sebagainya. Oleh karena anggota PSK tidak hanya terbatas di Yogjakarta, maka kegiatan itu dilakukan hampir serempak di seluruh Indonesia. Itu sebabnya, tak salah rekan-rekan menggelarinya “Presiden Malioboro” sebagaimana Gayus Siagian menggelari H.B. Jassin dengan sebutan “Paus Sastra Indonesia” dan Sutardji Calzoum Bachri menggelari dirinya sendiri dengan “Presiden Penyair Indonesia”.
Hampir seluruh usianya (dari Sumba ke Jogjakarta lalu ke Denpasar, Bali), Umbu Landu Paranggi menjadi guru para sastrawan Indonesia —menjadi guru masyarakat!
You must be logged in to post a comment.