Sosok&Koleksi
Orhan Pamuk meraih Nobel Sastra karena kepiawaiannya memotret sisi kelam wajah ganda Turki.
Di kota mana pun, tulis Tolstoy dalam satu cerita pendeknya, kegembiraan selalu berwajah sama. Namun, wajah muram sebuah kota memiliki aromanya sendiri-sendiri.
Di Istanbul, Turki, Orhan Pamuk menyebut wajah muram itu huzun. Selubung kabut tebal yang menyumbat seluruh kota karena napas religiositas yang tersengal-sengal. [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Maumere, Kompas - Sastra dan kesenian mampu menjadi sarana untuk menumbuhkan empati dalam diri seseorang guna merasakan apa yang dialami atau yang sedang terjadi di luar kelompoknya. Sastra juga memiliki kekuatan memberikan pencerahan dalam kehidupan politik, mendorong tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan demokratis.”Sentuhan sastra dan kesenian mampu memberikan makna lebih mendalam dan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh: Putu Fajar Arcana
Barangkali lebih dari tiga dekade, WS Rendra sebagai penyair dan pembaca puisi hidup menjadi mitos di kepala kita. Mitos membuat manusia penyair yang hidup sesudahnya rikuh, salah tingkah, kehilangan inspirasi, dan akhirnya harus tunduk sebagai epigon.
Selubung â€besi†mitos itulah yang harus ditembus dua penyair Joko Pinurbo (Yogyakarta) dan Warih Wisatsana (Denpasar) saat [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh SONI FARID MAULANA
TUMBUH dan berkembangnya penciptaan puisi di negeri ini, diakui atau tidak, nyatanya tidak bisa lepas dari peran penting media massa cetak, baik koran maupun majalah, yang menyediakan halamannya secara khusus untuk rubrik puisi. Rubrik tersebut biasanya diasuh oleh orang yang mempunyai perhatian serius terhadap puisi. Beberapa majalah yang hingga kini masih menyediakan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
hari-hari yang kupikir cepat berlalu
seperti perjalanan keluar kota
tidur lelap akan hapus lelah
mata bening dua wajah
tenggelamkan pesona rembulan
seperti berkata dan meminta
‘puisi yang telah kau cipta
jangan hanya jadi tulisan belaka
cinta yang kau guratkan
jangan hanya jadi katakata semata’
tatap mata menghujam
runtuhkan angkuh
ribuan sinis yang telah kurajut
perlahan menyingkir takut
dan langkahku tak lanjut
selalu ganggu aku
masa lalu untuk esokku
langkahku untuk esoknya
dan akhirnya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
WACANA
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Dad Murniah
Peneliti Pusat Bahasa
Warna lokal sering lebih dipahami sebagai sesuatu yang statis dan berdimensi keruangan. Dalam operasionalisasinya warna lokal diperlakukan sebagai bagian dari struktur karya sastra, khususnya sebagai salah satu aspek dari seting, atmosfer, dan penggunaan bahasa. Sebagai bagian dari latar fisik dan ruang, warna lokal dikaitkan dengan geografi semisal Sumatra [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : Wilson Nadeak
Sensasi, yang boleh jadi timbul dalam seketika, adalah rangsang detik terhadap indera yang membawa seseorang kepada pengembaraan bayang- bayang perasaan dan penghayatan. Hal-hal yang sudah lama diketahui secara intelektual tiba-tiba merangsang sudut perasaan, dan membawanya hanyut ke dalam pengembaraan imajinasi.
Pikiran-pikiran kreatif bermunculan sesuai dengan intensitas pengalaman sensoris. Ada kepekaan tertentu yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
: dedy triyadi
lengkung garis tak rata
tergores dalam malam resah
lengkung hidup tak ramah
tergurat dalam tatih langkah
berlembar kertas diam gagu
di ruang tamu itu
tanganmu tak mau kalah
ikut kelu
gambar belum juga selesai
puluhan puisi telah rampung
terdampar di rak buku
di celah majalah usang
‘galau ini belum usai’
gerutumu
lalu bersama gambar
yang tinggal separuh
kau duduk membisu
hingga lupa usiamu bertambah
di tanggal duapuluh
fatm-lbmlm, 210kt10
baca selengkapnya |
No Comments »
: joko pinurbo
tepukan di pundak
dari teman lama di Yogya
dan senyum sederhana
lebih dari apapun juga
duka yang mengalir
suka yang terbagi
tidaklah cukup diurai
dalam seribu syair
saat perih menancap
terawang mata mengucap
adakah yang lebih pedih
bagi seorang lelaki
meski hidup terlindas
akan waktu yang belum lunas
simpan saja pahitmu
di celana atau sarungmu
priok,19 10 06
baca selengkapnya |
No Comments »
Ketika Tersadar
ketika bertanya
pastilah kujaga seksama
biar kata-kata bijak
kaki tetap berpijak
pada kenyataan hidup
yang tak mudah diterka
ketika memandang
akan mencoba melihat
dengan banyak mata
terutama mata hati
karena itulah cermin diri
yang tak bisa dimanipulasi
ketika bertanya
menjaga lidah tak liar
jika perlu biar kelu
lebih baik begitu
daripada timbulkan pilu
ketika tersadar
mengucap istiqhfar
‘maafkan segala kelakar
dan katakata yang tak tertakar’
omah-malam, 19 10 06
baca selengkapnya |
No Comments »