[Tadarus Puisi # 009] Kapan Datang dari Kenangan?
Oleh : Hasan Aspahani
Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang
dan gambar seorang perempuan pirang.
Ia memperkenalkan: “Aku dari sebuah masa kecil.
Kau kukenal dalam kenangan.”
Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan
tapi malu untuk ditertawakan.
“Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?”
Ia tertawa: “Salah, aku merk manisan Amerika.”
1976
KALAU kita terpukau oleh sajak-sajak Goenawan Mohamad
(GM) yang memang memukau itu, maka kita akan mudah
pula terkejut dan kemudian mengingat satu sajaknya
“Cerita untuk Mita”. Saya kira inilah sajak GM yang
paling remeh idenya, dengan demikian juga tetap saja
ia: sangat istimewa.
GM yang mengutip Goethe; menulis tentang Zagreb untuk
Xanana Gusmao; menyajak untuk pelukis Frida Kahlo, dan
penyair Amerika Allen Ginsberg; tentang New York,
Sarajevo, Sydney dan Hiroshima; eh tiba-tiba saja ada
menulis sajak tentang permen dan gambar seorang
perempuan pirang yang dikenal dari sebuah masa kecil,
dalam sebuah kenangan di merk manisan Amerika.
Si aku yang tak punya banyak kenangan – karena itu
kenangan ringan ini begitu riang dikenang – tetapi si
aku malu ditertawakan, sok tahu saja mengira si nyonya
berambut pirang berasal dari Belanda. Seperti main
tebak-tebakan. “Salah, aku merk manisan Amerika.”
Jenaka.
Riang. Ringan. Ini bukan sajak tanpa makna, tapi
memang tidak terlalu menuntut dan tidak menantang
pembaca untuk mencari makna dari padanya. Tapi apa
salahnya? Sajak toh tak harus melulu harus mengajak
pembaca cemas dan gelisah. Yang riang dan ringan juga
bisa membuat kita merenung. Sajak memang bisa dan
boleh bicara soal hal yang remeh dan sepele. Sajak
memang boleh bicara tentang apa saja, kan?. Ah, betapa
kayanya. Betapa kita bisa menjemput sajak di mana
saja, bukan?
sumber : sejuta-puisi.blogspot.com