natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Oct
30th

Sastra Tumbuhkan Empati – Festival Ledalero Pacu Anak Muda-

Files under PUISI | Posted by Yo

Maumere, Kompas – Sastra dan kesenian mampu menjadi sarana untuk menumbuhkan empati dalam diri seseorang guna merasakan apa yang dialami atau yang sedang terjadi di luar kelompoknya. Sastra juga memiliki kekuatan memberikan pencerahan dalam kehidupan politik, mendorong tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan demokratis.”Sentuhan sastra dan kesenian mampu memberikan makna lebih mendalam dan membukakan mata hati seseorang. Demikian pula dalam dunia politik, dapat menggugah kesadaran seorang warga negara untuk berempati merasakan apa yang dialami kelompok lain. Empati merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat yang heterogen untuk bisa hidup damai dan demokratis,” tutur Penanggung Jawab Umum Festival Ledalero 2005-2006, Pater Dr George Kirchberger SVD, Minggu (29/10).

Kirchberger memberikan sambutan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sambutannya mengiringi acara peluncuran dan bedah buku berjudul Tapak-Tapak tak Bermakna.

Buku itu merupakan bunga rampai 10 cerpen dan 16 puisi para pelajar SMA dan mahasiswa perguruan tinggi di daratan Flores. Antologi cerpen dan puisi itu pilihan dari lomba karya tulis dalam rangkaian Festival Ledalero 2005-2006.

Bedah buku yang merupakan rangkaian penutupan Festival Ledalero ini juga dihadiri Bupati Flores Timur Simon Hayon dan Uskup Maumere Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr. Untuk penutupan festival dilakukan malam ini, Senin (30/10).

Acara yang dimoderatori Pater Yosef Keladu SVD itu menghadirkan pembicara sosiolog, Dr Ignas Kleden, dan novelis Maria Matildis Banda. Rangkaian acara yang lain adalah jumpa penulis, yaitu dengan novelis Maria D Andriana, Agus Noor, serta penyair Joko Pinurbo. Digelar pula pelatihan design cover oleh Ong Hari Wahyu dan pameran foto East of Dolorosa karya Oscar Motuloh.

Kirchberger menyinggung kekuatan sastra terkait kegembiraan dan kebanggaannya atas lahirnya karya sastra cerpen dan puisi Tapak-Tapak tak Bermakna. Hal itu menunjukkan ternyata ada bakat menonjol dalam diri anak- anak muda, khususnya dari NTT, dalam penulisan karya sastra.

Novelis Maria Matildis Banda saat membedah buku menilai cerpen karya pelajar SMA, Yohanes FH Maget, Tapak-Tapak tak Bermakna yang keluar sebagai cerpen terbaik.

Sosiolog Ignas Kleden juga memberikan pujian bahwa ternyata dalam hal penggalian tema, cerpen siswa SMA lebih imajinatif dibandingkan dengan karya mahasiswa. (SEM)

Sumber : Kompas,30 10 06

Post a Comment