Tak banyak yang tahu, seorang penulis yang karyanya dimuat di sebuah media belum tentu dengan cepat menuai hasilnya berupa honor. Padahal gaungnya begitu dimuat dengan cepat menyebar bagi virus ke teman-temannya. Puluhan dan ratusan ribu pembaca menikmati karyanya. Terbuai dengan jalinan cerita di cerpen atau puisi. Jika bagus, pujian segera dilayangkan.
Tak banyak yang tahu, perjuangan seorang penulis untuk mendapatkan haknya, yang kadang tak seberapa. Seorang teman, cerpenis yang sudah dikenal produktif dan berkualitas karyanya sempat bertutur bahwa dia sempat beberapa bulan tak mau mengirimkan karyanya ke koran yang ternama. Masalahnya sepele saja, honor yang tertunda sekian bulan tanpa ada kejelasan. “Kita menuntut hak kita, jadinya seperti mengemis saja,” ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya.
Malah, seorang penulis yang telah menerbitkan karyanya dalam bentuk buku (baik cerpen, novel maupun puisi), selalu tak tahu seberapa besar telah terjual dan berapa sebenarnya royalti yang bisa dia diterimanya. Termasuk juga di sini penulis yang menerbitkan karyanya atas biaya sendiri. Peredaran buku melalui distributor akan dikenakan rabat sebesar 40% hingga 50%.
Cerita lain lagi, tentang penulis yang mengirimkan resensinya atas sebuah buku ke beberapa media cetak, majalah dan koran. Dia dihubungi salah satu staf di media itu. “Maaf, mas, kami tidak menerima resensi dari luar, karena karya resensi dari kalangan dalam alias internal kami,”. Tidak selesai di situ saja. Beberapa waktu kemudian, resensi sang kawan ini dimuat di salah satu media, ternama pula, tapi bukan atas namanya. Ternyata, beberapa media juga melakukan hal serupa.
Lebih ironis lagi, ada teman yang karyanya dibajak oleh sebuah perusahaan ternama untuk naskah iklannya, yang beredar di televisi dan media cetak. Kata-kata yang ada di iklan itu bahkan tak berubah sedikitpun dari tulisan yang sudah dia publikasikan di situs atau blognya.
Jika sudah begitu, bagaimana posisi seorang penulis? Protes dan melawan media yang membuat asap dapurnya terus mengepul? Senyaring apa teriakan perlawanannya? Siapa yang akan membelanya, karena seorang penulis bukanlah selebritis yang cepat menyedot perhatian massa. Bahkan sesama penulis pun belum tentu membelanya secara terbuka. Paling mengirimkan ucapan simpati jika tahu masalahnya.
Banyak cerita yang bisa dikuak dari ketidakberdayaan seorang penulis melawan raksasa industri, baik itu media maupun swasta lainnya. Mungkin bisa menjadi banyak cerpen dan puisi.
Tidakkah para penulis tergerak hatinya, atau berani untuk bersikap? Bergabung bersama dalam sebuah wadah, apapun namanya, mau Asosiasi Penulis Indonesia, Organisasi anu atau apalah, untuk bersama memperjuangkan hak-haknya setelah kewajibannya berkarya dipenuhinya. Jika pencipta lagu, artis-artis film dan musik memiliki wadah seperti ini, kenapa tidak bagi penulis. Bukan tidak mungkin, jika hak-hak penulis makin ditindas, dilecehkan, akan terjadi pemboikotan terhadap banyak media cetak. Maka akan terbayang, rubrik Budaya, Resensi atau essya seni-budaya akan kosong.
Saya sendiri memang baru belajar menulis, dan belum mengalami nasib seperti dalam ilustrasi di atas. Namun, kesadaran akan perjuangan pada hak karya haruslah dimulai dari sekarang. Jika tidak, kisah tragis seorang penulis-penulis cerpen dan puisi akan terus dijalani seperti kisah yang mereka tulis sendiri.
lb, 17 12 06
Â
Â
Â
Â