dadamu tak penuh lagi,ibu
termakan waktu
dan luka-luka
dari anakmu
dulu dari situ
kehidupan kau beri
usai menantang maut
melahirkanku
dadamu tak penuh lagi,ibu
namun tetap kudapat
mata air kelembutan
dari bening matamu
tolsg, 21 12 06
dadamu tak penuh lagi,ibu
termakan waktu
dan luka-luka
dari anakmu
dulu dari situ
kehidupan kau beri
usai menantang maut
melahirkanku
dadamu tak penuh lagi,ibu
namun tetap kudapat
mata air kelembutan
dari bening matamu
tolsg, 21 12 06
fajar dan senja memang dua musim yang saling bertatap, dalam cemas dan harap mereka meniti batas kesanggupan, untuk sebuah sajak yang senyap
Sastra Reboan #21 : “Kembali ke Awal”
.
Seperti apa wajah hak asasi manusia (HAM) dan perempuan di Indonesia saat ini? Pasti banyak jawaban, artikel, perdebatan atau makalah dalam berbagai seminar untuk itu. Namun berkaca pada diri seorang petani tua, Minah (55 th) yang dihukum 1,5 bulan hanya karena mencuri tiga biji kakao atau buah cokelat, serta Manisih (39 th) yang memungut buah randu sisa panen dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara, tampak betapa muramnya keadilan, nurani bangsa ini.
Kedua peristiwa yang menimpa Minah dan Manisih itu terjadi menjelang tibanya Desember ini yang mencatat adanya peringatan hari HAM dan Hari Ibu. Peringatan yang tak semeriah acara Festival Film Indonesia, Pansus Bank Century, sidang petinggi KPK atau berita selingkuh para artis dan wakil rakyat.
Namun tetaplah kata-kata mampu menerjemahkan segala senyap yang melekat pada kaum perempuan Indonesia dengan segala perjuangannya. Minah dan Manisih mengoyak nurani kita, meski tanpa ledakan dukungan seperti Prita yang mendapat banyak liputan berita. Beribu bahkan berjuta perempuan yang teraniaya dan nyaris senyap dari pendengaran kita.
Kilasan itu akan mewarnai panggung Sastra Reboan#21. Kegiatan setiap rabu di akhir bulan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) kali ini merupakan kerjasama dengan Peace Women Across the Globe [PWAG]. PWAG dibentuk pada 2005 oleh 1000 perempuan pekerja perdamaian dari 150 negara bergandengan melalui jaringan untuk secara kolektif menominasikan diri untuk meraih Hadiah Perdamaian Nobel tahun itu. Walau pada akhirnya hadiah tidak mereka menangkan, namun gaung prakarsa perempuan sedunia ini berhasil menggugah perhatian masyarakat dunia pada suatu kenyataan yang lama terabaikan, yaitu jasa kaum perempuan yang membhaktikan diri pada kerja membela hak-hak asasi manusia dan menciptakan perdamaian. Salah satu penggiat PWAG di Indonesia adalah Olin Monteiro yang juga seorang penyair.
Mengusung tema “Kembali ke Awal”, Sastra Reboan akan menampilkan para pelaku dan penikmat sastra dari berbagai kalangan. Seperti artis Ine Febriyanti, musisi Dian HP dan Trie Utami, penyair dan penyanyi Reda Gaudiamo, Aurelia Tiara Widjanarko, Sinta Ridwan dan Debra Yatim yang juga dikenal sebagai aktivis hak-hak wanita serta cerpenis Susy Ayu.
Penampil lainnya adalah Indah Ariani, editor sebuah majalah wanita yang suka menulis puisi, Agrita Widiasari (mahasiswi UI), Sandi Elisabeth yang seorang sekretaris, teater oleh Febi dkk, Yopi Umbara dkk dari ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung dan AKSARA (Aktualisasi Seni Sastra) STAN. Untuk musik, tampil Thinkerbell yang diawaki oleh Tere, Fia dan Ika. Beberapa penggiat Sastra Reboan seperti Weni Suryandari, Kirana Kejora, Fitri Yuliana, Gita Pratama, Eva Budiastuti, Nurul Wardah, Dorsey Silalahi dan NinaYuliana juga akan menampilkan pembacaan puisi secara bersama.
Silahkan melangkahkan hati dan kaki pada Rabu, 23 Desember 2009 ke Wapres (Warung Apresiasi) Bulungan, Jakarta Selatan untuk menikmati sajian puisi, musik, musikalisasi puisi dan pembacaan cerpen yang dimulai pukul 19.00 wib. Terbuka untuk semua. ***
Salam,
Awak Sastra Reboan : Zai Lawanglangit, Ilenk Rembulan, Setyo Bardono, Eva Budiastuti, Fitri Yuliana, Dorsey Silalahi, Budhi Setyawan, Weni Suryandari, Dedy Tri Riyadi, Sahlul Fuad, Nina Yuliana, Nurdin Ahmad Zaky, Hujan Tarigan, Nurudin Asyhadie, Kirana Kejora, Nurul Wardah, Yo Sugianto.
gubuk sederhana ini lebih nikmat dikunjungi bila menggunakan browser Mozilla Firefox dengan resolusi berkedalaman 1024 x 768 pixels.
Semoga berkenan di hati dan sejuk di mata.
www.flickr.com
|
Copyright © 2010 Jejak Kaki Dalam Kata
: Re-Designed by dYo