“Kenapa memilih puisi sebagai ekspresi karya? Apakah yakin lewat puisi ini akan berhasil berkarier sebagai penyair? Bukankah sastra bukan pilihan untuk masa depan? Pemilihan diksi yang baik itu bagaimana? Apa peran kritikus sastra bagi seorang penyair?”
Berondongan pertanyaan itu muncul saat berlangsung Perbincangan Sastra antara para pelajar Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) dengan penyair Joko Pinurbo dan Johannes Sugianto pada 29 Desember 2006 di Bintan Art Festival (BAF) 2006. Kedua penyair ini selain berdialog, juga membacakan puisi. Acara kebudayaan tahunan ini juga menghadirkan tokoh Teater Koma Nano Riantiarno (Jakarta), Butet Kertaredjasa, Iwan Irawan Permadi (Pekanbaru), Syafrizal (Medan dan Tom Ibnur (Jambi). BAF ini berlangsung dua hari yaitu 29-29 Desember 2006, yang berlangsung di gedung Aisyah Sulaiman, Tanjung Pinang.
Di hari pertama, acara yang dibuka oleh Wagub Kepri, HM Sani ini menampilkan Butet yang membacakan monolog “Tuan Koruptor Yang Terhormat”, Riantiarno dengan lakon Togog-nya yang menyoroti hubungan penguasa dan rakyat,serta pembacaan puisi oleh Walikota Tanjungpinang, Suryarti A.Manan yang bercerita tentang kiprah kontraktor. Penampilan Walikota wanita ini mendapat sambutan meriah, saat ia mengakhir bait puisinya dengan kalimat ‘Baginikah hukum di negeri kita, entahlah yaw…”.
Sedangkan di hari kedua, pagi harinya berlangsung Perbincangan Sastra yang dipandu oleh penyair Riau, Hasan Aspahani. Malamnya, berlangsung pembacaan puisi oleh Joko Pinurbo, Johannes Sugianto, Hasan Aspahani dan penyair Tanjungpinang, Mila Dulchun, serta Syafrizal yang membawakan tarian “Ngelid”, Irwan Irawan Permadi dengan ‘Tunggu Menunggu” ,Tom Ibnur dengan “Duka Di Akhir Abad” dan Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau, Hoesnizar Hood yang tampil memukau dengan “Mahmud Menggugat”.
Mahmud dalam monolog “Mahmud Menggugat” itu adalah nama tokoh ciptaan Hoesnizar Hood yang tampil dalam kolom “Temberang” di harian Batam Pos dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pembaca media tersebut. Kumpulan artikelnya telah dibukukan dengan judul “….Orang Melayu Cuma Pandai Bercerita” pada Desember 2005.
BAF yang memasuki tahun ke-5 merupakan kegiatan bergengsi bagi para pelaku kebudayaan Riau dan juga nasional. Interaksi para seniman lokal dengan daerah lain, seperti dikemukakan oleh Joko Pinurbo ketika ditanya wartawan, merupakan hal yang menarik dan patut ditiru oleh daerah lain. Seniman ternama seperti Rendra, Putu Wijaya dan Sutarji Cholzum Bachri pernah tampil di acara ini. Penonton pun memadati ruang pertunjukan, dengan liputan media cetak yang luas.
Namun untuk 2006 ini tidak terasa kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Meskipun tanpa menyebut secra gamblang, namun kondisi yang cukup memprihatinkan bagi perkem- bangan kebudayaan Riau ini tercermin dalam sambutan Ketua Panitia Pelaksana BAF, Hoesnizar Hood. “Kesenian saat ini tak sekedar dilestaraikan, tapi juga harus diperjuang- kan. Ksenian merupakan bahasa kejujuran, apa adanya, dan ini yang terlihat di atas panggung”, ujar Hoesnizar.
Panggung tampil apa adanya, tanpa polesan atau hiasan berarti. Latar panggung atau backdrop yang seharusnya ‘wah’ hanya sederhana saja. Tulisan Bintan Art Festival ukurannya tak beda dengan logo Dewan Kesenian Riau dan Pemkot Tanjungpinang. Tata Lampu seadanya, sehingga tarian dari ketiga penari tampil tidak maksimal menghadirkan nuansa yang diinginkan. “Sorot lampu dari atas panggung sangat menyilaukan,’ ujar Joko Pinurbo, Johannes Sugianto dan Syafrizal. Keluhan sebelumnya telah dilontarkan Wagub Kepri, HM Sani saat memberikan sambutannya.
Menurut beberapa kalangan, yang sempat saya ajak berbincang seputar ‘kelesuan’ BAF kali ini, kondisi memprihatinkan ini tak lepas dari kurang pedulinya Pemda Riau serta Dinas Pariwisata Riau sendiri terhadap kegiatan kebudayaan yang berlangsung rutin setiap tahunnya ini. “Lha kalau persetujuan atas pelaksanaan BAF ini baru turun beberapa saat sebelum berlangsung, jelas akan menghasilkan tampilan yang tidak maksimal. Untunglah Dewan Kesenian Riau mampu bergerak cepat, bahkan menghadirkan seniman ternama seperti Riantiarno, Joko Pinurbo dan Butet. Jika tidak…entahlah bagaimana jadinya,” kata seorang tokoh kebudayaan Riau dengan nada tinggi.
Ketika menyaksikan penampilan para seniman itu, saya teringat ucapan Gubernur Riau, Ismeth Abdullah tahun 2005 lalu di sebuah media massa nasional, yang menjanjikan untuk menghidupkan kembali Pulau Penyengat. “Pulau Penyengat harus menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Melayu, bahkan seharusnya bisa menjadi warisan dunia. Karenanya, kita harus menghidupkan kembali jejak-jejak kebesaran yang masih ada di pulau tersebut. Untuk mengoptimalkan pengelolaannya, kami akan membuat badan otorita khusus di pulau itu,” katanya dalam seminar yang merupakan rangkaian BAF 2005.
Pulau Penyengat, yang bisa dilihat dengan jelas dari Tanjungpinang merupakan pulau yang luasnya hanya 240 hektar. Namun pada awal abad ke-19 telah memiliki percetakan dan menerbitkan ratusan buku ilmiah dan keagamaan. Buku-buku yang ditulis di antaranya tentang perbintangan, obat-obatan, agama, dan tentang seks. Dari pulau itu juga terlahir para pujangga Melayu seperti Raja Ali Haji (1809-1873) dengan karya sastranya yang abadi Syair Siti Shianah, Syair Awai, dan Gurindam Dua Belas.Karya Raja Ali Haji tentang Silsilah Melayu dan Bugis dan Tuhfat al-Nafis telah menempatkannya sebagai seorang sejarawan penting Melayu. Dalam kedua buku itu, sejarah Kerajaan Melayu diuraikannya secara gamblang.
Lalu saat para pelajar SMA itu bertanya tentang kenapa puisi menjadi pilihan, saya dihadapkan pada pertanyaan diri sendiri ‘Lalu kemana para penyair Riau sendiri, apakah tak pernah menjelaskan para para pelajar ini? Bukankah dengan pantun yang menjadi kebanggaan masyarakatnya, Riau telah melahirkan penyair ternama seperti Cholzum Bachri dan Hoesnizar Hood?
“Sastrawan-sastrawan besar dari Kepulauan Riau, seperti Sutarji Cholzum Bachri, kebanyakan memilih keluar daerah kami karena memang di sini tidak prospektif untuk mengembangkan diri,” kata Hoesnizar Hood, Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau tahun 2005 di sebuah media massa nasional.
Jika BAF yang merupakan ajang bergengsi bagi kebudayaan Riau dan juga nasional dihadirkan seperti tahun 2006, yang bisa dibilang tampil dengan tertatih dan wajah pucat, bagaimana bisa sebuah pulau seperti Penyengat akan dihidupkan kembali. Masyarakat dan petinggi Riau saja yang mempu menjawabnya. Saya sendiri sepakat dengan salah satu tulisan Hoesnizar Hood di kolom “Temberang” yang berjudul ” Antara Aku, Engkau dan Kecemasan Itu”.
Pertanyaan dan kecemasan ini mengapung di lautan yang tampak dari jendela kapal yang menghantar ke Batam. Sampai bertemu kembali di Bintan Art Festival 2007 (jika masih ada).
Salam,
Yo