kutulis sajak ini jika memang
bisa kau sebut sebagai sajak
karena kubuat dengan mata retak
melihat mendung di wajah para ibu
yang tak mampu memberi susu
meski gusti allah telah mencipta
dua mata air kehidupan di dada ibu
terasa menahun tangan ini kaku
kata-kata bersembunyi di segala sudut
tak bisa kutemukan, apalagi kupungut
jadilah sajak tak tercipta
meski rindu terus menggema
lalu kini sajakku menghampiri
saat kau terbaring dalam nyeri
berbotol infus menyusup
di lenganmu yang puitih
yang selalu kuelus tak henti
kutulis sajak ini jika memang
masih mau kau nikmati
mungkin dapat kau lihat
dengan mata hati
betapa inginku di situ
menemani berkisah akan kita
yang masih dalam seribu tanya
bagaimana melanjutkan langkah
dalam istirahatmu
kutulis sajak ini untukmu
awan, 07 01 07