Melengkapi laporan kang Kef yang secepat kilat, dengan detail dan urutan yang sama menariknya seperti cerpen- cerpennya, saya ingin sedikit melengkapi dan berbagi cerita seputar persiapan acara Syukuran 2 Tahun Apsas di ak.’sa.ra yang mungkin belum sempat diposting.
Meski kang Kef sudah menyampaikan ucapan terimakasih- nya, saya ingin mengulanginya kembali untuk semua yang berkeringat, ngantuk dan letih dalam mempersiapkan acara ini, mulai dari rapat malam-malam, saling kirim pesan via sms, telpon, ceting hingga ikut beres-beres usai foto
dengan narsisnya (biar nampang di Ruang Baca Tempo edisi Februari ya).
Usai acara, baru saya sadar saat ngobrol dengan kang Dedy Tri Riyadi (yang jadi moderator diskusi puisi), Lulhas alias caklul, Fitri, Feby, Dumaria (jauh-jauh dari Medan nih untuk ikut ceria di acara) dan Zakiyah (tenaga bantuan yang calon apsasian) bahwa gawean kali ini memakan waktu selama 5,5 jam. Rita dan keponakannya, Pujia (Jia, yang ngurus buku di SCTV dan keponakannya Rita) yang lupa disebut oom Kef
sebagai gelandang kiri dan kanan untuk urusan konsumsi baru saja beranjak dengan letih tapi cerita. Non stop mengalir bagai Bengawan Solo-nya Gesang digabung Hey Jude, tanpa gangguan apapun dan disimak penuh perhatian oleh apsasian hingga akhir acara. ‘Gila,oom. Acara dua
jam saja belum tentu berjalan mulus,’ kata Dedy dan Lulhas. Saya manggut saja dengan letih tapi puas. Apalagi dalam perjalanan pulang dapat komen dari kang Tanzil yang pandai beralasan gemetar segala saat baca sambutan kenegaraan kang Sigit dengan suaranya yang tak kalah dengan Bung Kelinci. Juga dari Iit dan Adi Toha yang masih menikmati
jalanan tol Cipularang yang membosankan.
Sehari sebelumnya, Sabtu saya bersama mbak Ochi (duh moderator satu ini akhirnya melakukan penampakan juga setelah hilang sekian lamanya) Rita, Feby, Jia, Caklul, Epri dan Anto serta Ciner (dua apsasian ini juga lupa disebut kang Kef) miting persiapan akhir di cafe ak.’sa.ra. Kang Akmal sendiri tiba langsung dari Rumah Dunia, Serang pas kami
baru mau beranjak balik, dan saya hanya sempat ngobrol sebentar untuk laporan soal persiapan. Tapi bukan langsung pulang, karena saya bermalam-mingguan dengan empat wanita (Ochi, Rita, Feby dan Zakiyah) di carrefour, Lebak Bulus untuk belanja pernik-pernik yang diperlukan
seperti gelas plastik, piring kertas, mangkok plastik, tissue, spidol dan lainnya. Kayaknya bisa seperti bossnya Wong Solo nih, dan mengalahkan A’a Gym (empat cewek lho pendamping Ketuplak).
Minggu pagi jemput Fitri dan Jia di Pondok Labu, dan dapat telpon dari Ochie yang mejeng di pinggir jalan Ampera lengkap dengan plastik berisi wadah jajan, steples, pelubang kertas dan lainnya. Lalu ada sms dari kang Tanzil yang ternyata sudah tiba di ak.’sa.ra bersama kang Jamal, Diphie dan Adi Toha. Untung ke empat seleb ini ceria, pagi-pagi
sudah berangkat dari Bandung, meski tak menutupi sikap yang pemalu dan lugunya (yang tepat kayak gini kayaknya kang Adi Toha, bukannya kang Tanzil yang terus tebar pesona). Di situ juga sudah hadir Anto dan Ciner yang membawa bekdrop dan spanduk (saya sempat pusing juga,
kemana barang yang selesai Sabtu sore). ak.’sa.ra sudah siap menerima kami dengan servis yang oke banget (tengkyu Vivian yang tampil cakep dengan kostum serba hitamnya).
Lalu menyusul Epri, Caklul, Fitri, Dedy, Bangwin, Rilla, Dino, Lia, Akmal, Kef dan lainnya yang segera saja membantu mempersiapkan acara. Bangku-bangku yang sudah disiapkan ak.’sa.ra terpaksa dimarginalkan karena tikar mesti digelar. Kartu pos kang Sigit dipasang di pilar sisi kiri acara, hasil kreatifitas Krisdian yang bukan oom (jelas, oom kok cantik gini uppssss…) bersama Diphie. Anto, Ciner, Caklul dan Epri sibuk pasang buku untuk dipajang, bekdrop
dan angkat-angkat kardus. Bangwin sendiri meski seleb papan atas tak ketinggal ikutan gelar tikar,lho. Para ‘bidadari’ lainnya kayak ibu-ibu mau selamatan sibuk persiapkan jajanan (termasuk Tahu dan sambelnya yang kang Kef suka, belut goreng dan segunung makanan
lainnya), buku dan majalah Imajio (lalu nyusul kaos dari inksomnia wear street) sebagai hadiah serta lucky draw di ruang kantor ak.’sa.ra.
Acara baru mulai jam 11.30 ketika kang Akmal beranjak menjemput oom Remy Silado. Memang molor satu setengah jam, karena memang jam 10.00 kepagian.’Walah…sastrawan disuruh bangun pagi kan susah,’kata Ita Siregar dan Tiur sambil menikmati jajanan pasar dan belut goreng dengan lahapnya. Setelah Dino dan Rilla yang jadi emsi membuka acara, saya bicara sebentar secara Ketuplak, untuk disambung oleh Vivian, dan mengalirlah acara demi acara di tengah membanjirnya apsasian dan lainnya.
Acara awal memang disengaja dibikin dalam bentuk Perkenalan, meski sudah pake stiker, biar lebih akrab. Dan ternyata berhasil (termasuk Fitri yang memproklamirkan sebagai pendukung poliandri – dan dengan malu-malu saya angkat tangan untuk mendaftar ehmmm- ).
Di tengah acara saya sendiri mondar-mandir sana sini, memastikan acara berjalan oke (seperti dua emsi yang oke : Dino yang tak lupa berpacaran terus dan Rilla yang aktif mencicipi jajanan bersama Fitri, Febby dan Kris). Sesekali ngerokok dulu ke cafe bersama Vivian dan ngobrol dengan oom Remy Soetansah (ssstt..ternyata oom RS ini pengen
nerbitin juga kumpulan puisinya) dan oom Arief Wicaksono.
Dari Daftar Hadir yang dibuat dengan gaya sendiri, didesain oleh Fitri yang cihuy seperti halnya bekdrop (plus spanduk yang tak bisa dipasang di luar ak.’sa.ra karena persoalan pajak biar cuma sehari saja) tercatat 74 apsasian maupun simpatisan (termasuk pakde Yanto dari Norwegia – sayangnya gak sempat dengar kang Akmal ber-norwegian wood- meski sudah nenteng gitar Yamaha-nya) yang mengisi dan mendapat tempelan stiker dengan id di baju, kaos atau roknya. Diperkirakan 100-an yang hadir, karena ada yang bawa pasangan atau lupa absen karena langsung larut dalam acara.
Sungguh, saya bahagia acara bisa berjalan lancar meski akhirnya letih terasa menyengat juga. Sekali lagi terima kasih buat awak panitia yang kerjanya oke, para moderator yang menunggui sampai usai, parapenyumbang makanan untuk hajat hidup orang banyak, pengoleksi barang-barang antik dan menarik, penyumbang buku, majalah dan kaos
untuk dijadikan hadiah serta lucky draw. Semua nama telah disebutkan, dan saya harap tak ada yang terlewat. Maaf jika memang terlewat, seperti juga maaf disampaikan jika banyak yang kurang dalam persiapan selama 18 hari (dipotong 4 hari libur, Sabtu dan Minggu).
Seperti juga harapan apsasian yang lain, gawe semacam ini (tentu dalam bentuk lain) bisa digelar lagi (dan dengan Ketuplak yang lain ya, biar bisa jadi penonton manis hehehe). Juga buat apsasian yang selama ini ‘ngumpet’ sebagai penikmat saja, mungkin setelah ikut hadir bisa menampak- kan diri lewat tulisan-tulisannya juga kayak mbak Ochi.
Sama seperti kang HAH, saya juga cuma bisa bilang ‘makin betah nih di Apsas’.
Salam,
Yo
NB : kang Jokpin mengucapkan selamat ultah buat Apsas dengan acara syukurannya.