natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jan
29th

catatan ketoprak… : Catatan Ketuplak (dari Syukuran 2 Tahun Apsas)

Files under Berita, PUISI | Posted by blue4gie

Oleh : Akmal NB

catatan ini dibuat sambil makan ketoprak (bukan sambil main ketoprak), dan membaca kesan-kesan apsasian dalam acara kemarin.

saya sepakat bahwa pertemuan kemarin sangat hangat (meski di luar ruangan sempat hujan besar), mendekatkan (meski apsasian yang datang tidak hanya dari jakarta, tapi juga bandung, bahkan medan seperti duma a.k.a kobo yang selama ini lurking di apsas, itu di luar sms interlokal dan internasional yang diterima panitia), dan luar biasa (kendati semua yang hadir kemarin merasa “orang biasa-biasa saja”, bahkan juga remy silado yang bilang “tak tahu apa itu sastra”).

sekadar melengkapi keistimewaan acara kemarin dari pengalaman saya, saya ingin menyampaikan “daftar terima kasih” sebagai berikut:

1. Allah SWT, raja semesta, yang atas perkenan dan izin-Nya, waktu persiapan yang sedemikian sempit dan terbatas — tidak sampai 3 pekan termasuk hari libur — bisa dimanfaatkan dengan dikirimkan-Nya orang-orang terbaik di bidang masing-masing: para apsasian.

2. vivian idris dan kru ak.’sa.ra, kemang.

sms vivian pada satu pagi saat saya sedang di luar kota adalah awal semuanya bermula. tawarannya agar apsas menggelar hajat dengan deretan sederet kemudahan fasilitas, sungguh tak terlupakan.

apalagi ruangan yang digunakan untuk kegiatan kemarin adalah wilayah musik yang pada hari-hari biasa diminati para pencinta musik, khususnya retro, untuk berburu CD sampai plat rekaman (banyak yang vintage di sini).

dengan “mengorbankan” satu hari untuk menyokong kegiatan sastra (dan merugi karena tak ada pemburu musik yang bisa melampiaskan hobi mereka akibat ruangan didominasi apsas), vivian dan seluruh kawan-kawan ak.’sa.ra menambah panjang daftar sahabat apsas yang menunjukkan dedikasi luar biasa.

thanks, vi.

3. yohannes sugianto (dan keluarga).

om yo adalah “korban pertama” beberapa menit setelah saya mendapat sms vivian. karena kondisi saya tak memungkinkan untuk online saat itu, dengan semena-mena saya langsung menelpon om yo dan menceritakan ide dasar serta sejumlah alternatif yang bisa dilakukan.

menjelang sore, om yo menelpon balik, menceritakan bahwa bukan saja ide sudah masuk ke milis, tapi beliau bahkan sudah mengontak sejumlah kawan, mematang sejumlah mata acara, dan mengkoordinasikan lagi dengan vivian.

di tengah-tengah jadwal pekerjaannya yang saya tahu sangat sibuk — dan semestinya sulit dicari celah untuk menangani sebuah kegiatan dadakan yang non-profit seperti ultah apsas kemarin — om yo menunjukkan komitmen dan apa arti profesionalisme itu sebenarnya.

takzim saya untuk om yo, tak lupa juga untuk istri dan anak-anaknya yang ikut “terzalimi” karena waktu luang suami dan ayah mereka yang sudah amat sangat terbatas, harus pula diambil lagi sekian puluh persen untuk mengurusi syukuran sekelompok makhluk antah berantah yang bisa lupa waktu kalau sudah bertemu teks.

yo, you’re the best, bro!

4. yudhistira anm massardi & remy silado.

di tengah-tengah penggodokan acara oleh om yo dan tim, salah seorang guru dan sahabat lama saya, yudhis, mengontak untuk satu hal lain. di ujung pembicaraan, dengan lancang saya “todong” yudhis untuk berbagi pengalaman dalam acara apsas, yang awalnya dijadwalkan tanggal 21 januari. tak banyak cingcong, yudhis bersedia.

sayang pengunduran jadwal dari tanggal 21 ke 28 januari, membuat yudhis berhalangan hadir, karena dari tanggal 26-28 jan, yudhis harus di bukittinggi untuk mengelola temu alumni esq senusantara (yudhis sekarang menjadi pemred nebula, majalah yang diterbitkan esq/ary ginanjar, di mana salah seorang apsasian lain, fitri, menjadi desainer
grafis di kelompok itu).

batal dengan yudhis, membuat saya membuat daftar pendek nama-nama guru -cum-sahabat saya yang kira-kira bisa “ditodong” mendadak, sekaligus, ini yang terpenting, mau diperlakukan “pro bono”, karena apsas tak punya dana khusus untuk mendatangkan pembicara.

kriteria yang saya buat sendiri saat itu hanya dua hal: sastrawan senior dengan jam terbang sangat tinggi (sehingga sudah terbebas dari tetek bengek omongan teknik, bisa langsung menyampaikan esensi sebuah proses kreatif), dan cukup mengamati serta bersimpati dengan dunia muda. dari short list itu muncul nama: remy silado, presiden penyair mbelink.

maka hanya beberapa menit setelah obrolan yudhis dengan saya di tengah malam buta yang mengonfirmasi batalnya yudhis, saya mengontak remy, yang saat itu hanya menjawab pendek: insya Allah, mal.

beberapa hari kemudian saya kontak lagi, saya jelaskan konsep acara, dan soal “pro bono” itu. jawaban beliau: bisa, tapi sedang di bogor. (remy memang punya rumah di bogor, jadi saya duga ia sedang “menyepi” untuk menggarap sebuah tulisan). pada rapat panitia terakhir di omah sendok, saya kontak lagi remy tentang kepastiannya yang dijawab: bisa,
tapi jemput saya di bogor ya?

nah!

malam minggu, 27 jan, sepulangnya dari rumah dunia serang, menjelang tengah malam saya kontak remy menanyakan apakah besok tetap bisa datang dan kemana harus dijemput di daerah bogor itu? tak ada jawaban. subuh minggu pagi saya lihat inbox ponsel, tetap tak ada jawaban dari remy.

maka dengan mengantongi dugaan remy silado batal hadir, saya dan istri menyiapkan kebiasaan kami setiap minggu pagi,bersiap-siap untuk pergi ke pengajian dhuha di masjid agung sunda kelapa, menteng. selesai pengajian jam 9, saya nyalakan ponsel untuk melihat pesan masuk. salah satunya jawaban remy silado yang singkat, namun
menggembirakan: bisa mal, tak usah jemput ke bogor. saya sudah di jakarta, jemput saja di cipinang muara.

dan begitulah, siang itu akhirnya remy membeberkan banyak hal yang bagi saya sangat berguna untuk memperkuat modalitas sebagai penulis (”sesi favorit saya,” menurut epri tsaqib, sang komandan acara syukuran, dalam postingnya).

remy bukan cuma bicara karyanya yang sudah terbit, tapi juga calon novelnya “mimi lan mintuno” (terbit februari 2007), menyinggung soal musik, memeragakan perbedaan tafsir pop dalam khazanah musik (lengkap dengan perbedaan vibrasi antara mario lanza, louis armstrong dan elvis presley yang mengundang aplaus meriah hadirin, sebagai ilustrasi bahwa “pop itu bukan berarti murahan, melainkan harus digagas dalam
pemahaman dan konsepsi yang mendalam), dan membacakan puisi “encek peng kun” yang panjang, kocak, dan menyegarkan itu.

dan, lagi-lagi, harus disampaikan di sini, bahwa kehadiran munsyi dengan beragam bakat dan kemampuan itu, sungguh-sungguh sebuah “sedekah kreatif” yang tak terkira, karena selama ini remy juga dikenal sebagai seorang profesional yang tak ingin pesastra dipandang dan diberlakukan sebelah mata dalam konteks industri.

dengan menjadi pesastra, menurut keyakinan remy, tak berarti kita harus menjalani “kutukan para dewa” dengan menampilkan citraan sastrawan yang kucel, dekil, dan sebagainya, dan sebagainya.

[yang paling menyenangkan bagi saya dan keluarga (kemarin saya datang dengan istri dan ketiga anak), adalah saat remy menyalami istri saya dan bilang, "masih ingat nggak saya datang ke pernikahan kalian dulu?" istri saya tersenyum, "tentu ingat dong bang." katanya. komentar itu saya celetuki, "jangankan istri, mertua saya saja ingat kok bang remy datang, apalagi dulu dengan rambut kuning menyala yang berbeda dengan
orang lain". remy terbahak sambil mengusap rambutnya yang kini sudah kembali "natural" berwarna putih perak]

5. kawan-kawan panitia syukuran 2 tahun apsas.

saya kehilangan kata-kata jika harus berterima kasih setelah melihat militansi, kecintaan, dan kerja keras kawan-kawan panitia yang bekerja seperti “kesetanan” untuk membuat sebuah syukuran yang istimewa, berjalan lancar, dan patut dikenang.

banyak sekali nama yang harus disebut satu persatu. dan karena akan ada resiko ada nama yang terlewatkan kalau harus ditulis, maka saya tak akan menyebutkan secara spesifik selain berharap agar selain acara kemarin mendatangkan manfaat bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya, juga menjadi amal baik baik setiap orang yang akan
dilipatgandakan kebaikannya oleh Allah SWT lewat satu dan lain hal — cepat atau lambat.

di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin glamor oleh pernak-pernik materialistik sekarang ini, kawan-kawan panitia seakan bersekutu untuk menjernihkan makna dari sebuah kata yang kini sering diucapkan hanya sebagai basa-basi pergaulan modern: memberi.

memiliki kawan-kawan seperti ini, adalah karunia yang tak akan habis-habisnya dimiliki, sampai kapan pun.

6. kawan-kawan pengisi acara: apsas dan non-apsas.

karena acara adalah nyawa sebuah pertemuan, maka tanpa sebuah acara yang baik, enak diikuti, dan melibatkan banyak hadirin, sebuah pertemuan akan diingat hanya sebagai pertemuan yang membosankan, dan enggan untuk kita ikuti di masa depan.

kawan-kawan pengisi acara, sejak detik pertama acara dibuka sampai sekon terakhir acara usai, menunjukkan “apa yang disampaikan hati, akan diterima dengan baik oleh hati”. semua begitu istimewa (meskipun tak saya ikuti semua acara karena harus menjemput remy silado, dan menemani anak-anak saya makan siang di luar, selama beberapa puluh menit).

rangkaian acara yang sudah dirancang, maupun yang berubah di tengah jalan secara impromptu, membuat minggu kemarin layak dikenang sebagai hari istimewa yang bukan hanya karena ramainya saja. (semalam istri saya bilang ada pengunjung ak.’sa.ra/bule yang bertanya kepada dia, apakah “penyanyi yang sedang tampil” itu sudah punya
rekaman atau belum, karena mereka/bule-bule itu ingin membeli rekaman “penyanyi yang sedang tampil” itu. saya tidak tahu apakah “penyanyi” yang dimaksudkan bule-bule itu adalah rilla romusha? atau saat rilla berduet dengan bung kelinci? atau saat lainnya yang tidak saya ikuti. tapi komentar pendek pengunjung bule itu membuktikan bahwa “para penyanyi apsas” rupanya sudah layak bikin album rekaman sendiri, hehehe….).

7. kawan-kawan sponsor: apsas maupun non-apsas.

detil lengkap sponsor konsumsi sudah dibuat rita dan om yo, baik yang namanya disebutkan maupun yang tak ingin disebutkan. kawan-kawan sponsor (termasuk non-konsumsi) yang mendukung dengan memberikan produk, sampai uang. seluruh sponsor yang diterima panitia, dan dikembalikan kepada para apsasian melalui lucky draw, termasuk konsumsi yang boleh dibawa pulang, adalah bukti bahwa “sense of belonging” terhadap acara ini begitu tinggi.

(di mobil, remy silado sempat bertanya, “siapa yang menjadi sponsor acara ini, mal?” saya jawab, “tidak ada sponsor, kalau yang dimaksud adalah sponsor seperti dalam acara-acara besar yang lazim diadakan. syukuran apsas ini seperti sebuah potluck party, semua orang membawa apa yang bisa mereka bawa untuk menyukseskan acara sederhana ini.” remy menjawab antusias, “wah luar biasa itu.”)

8. apsasian yang ingin hadir, tapi karena satu dan lain hal, berhalangan hadir.

terima kasih atas dukungan apsasian semua, sms, telpon, yang menyatakan ingin hadir tapi terganjal oleh satu dan sebab lain. semoga yang sedang sakit, segera dipulihkan kondisinya. semoga yang sedang terimpit beban lain, diberikan jalan oleh-Nya untuk mengatasi beban-beban kehidupan itu.

perhatian kawan-kawan yang berhalangan hadir, adalah energi yang sangat besar artinya bagi kami yang datang kemarin, karena kami yakin bahwa keriaan tak hanya berlangsung di ak.’sa.ra kemang, melainkan juga di hati masing-masing yang sedang bersuka cita dengan perjalanan apsas.

9. and last but not least: buat istri dan anak-anak saya, serta semua keluarga besar dari anggota apsas yang hadir kemarin.

menghadiri sebuah pertemuan (yang sebetulnya perwujudan dari “hobi”) sang suami, istri, atau ayah, dalam waktu panjang (dan belum tentu dinikmati oleh anggota keluarga lain), adalah “perjuangan” yang tak mudah.

apalagi di keluarga kami sudah ada komitmen bahwa hari sabtu-minggu, kecuali saya sedang ada tugas ke luar kota, adalah hari keluarga yang WAJIB dijalani bersama-sama, tak boleh terpisah.

maka ketika pekan lalu itu, jadwal saya “habis” oleh kegiatan sastra (sabtu diskusi di rumah dunia, serang), terus terang saya sudah dalam posisi “sulit” untuk menjelaskannya kepada istri dan anak-anak. apalagi salah seorang sahabat kami (sahabat istri sejak kuliah) juga mengadakan pesta ulang tahun untuk anaknya, kemarin).

untunglah, istri saya muncul dengan “inisiatif revolusioner” untuk membatalkan datang ke acara sahabatnya itu (”bisa diundur minggu depan,” katanya, “kalau syukuran apsas kan nggak bisa.”) dan anak-anak saya yang sudah non-stop melek sejak subuh, lumayan tahan mengikuti acara sampai selesai.

terima kasih yang tulus juga saya sampaikan untuk kawan-kawan yang membawa keluarganya masing-masing pada hari itu, seperti olin monteiro yang bukan cuma membawa anaknya, juga ayah-ibunya ke sebuah acara sastra (that’s very nice, lin! mestinya olin dapat penghargaan anggota apsas paling total yang mendukung syukuran, karena hadir 3 generasi!), bung kelinci yang hadir dengan istrinya yang sedang hamil tua, dan anak perempuannya yang untunglah mewarisi wajah istrinya, lalu tante kris yang akhirnya membuat cemburu om yo karena lebih dekat dengan tanzil (hehehe…), dan kris juga membawa putrinya yang kini sedang bersaing dengan kecantikan mamanya, lalu … ah, karena sibuk mondar-mandir, saya minta maaf jika luput memperhatikan ada apsasian lain yang juga membawa anggota keluarganya kemarin (termasuk yang
membawa pacar masing-masing ke acara sastra seperti broer dino umahuk, aurelia tiara, dll, sebagai calon keluarga besar apsas. that’s very romantic!)

wow, tak terasa ketoprak saya sudah tandas dari tadi, tapi posting ini tak habis-habis juga rupanya. jadi sebelum muncul lagi keinginan saya untuk melahap seporsi ketoprak berikutnya, saya sudahi sampai di sini dengan sebait pantun titipan dari tukang ketoprak:

bumbu kacang bumbu ketoprak
sedikit pedas menambah rasa
hatiku senang seakan berjingkrak
syukuran apsas ternyata luar biasa

(ah, ternyata saya memang penulis pantun yang jelek. harus berguru lagi nih pada hasan aspahani dan pakcik ahmad).

salam,

~a~
sumber : http://groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra/29 Jan.07

You must be logged in to post a comment.