seringai malam
mengantarku pulang
bukan lelah yang terasa
hanya terangku telah padam
mlm, 03 01 07
seringai malam
mengantarku pulang
bukan lelah yang terasa
hanya terangku telah padam
mlm, 03 01 07
fajar dan senja memang dua musim yang saling bertatap, dalam cemas dan harap mereka meniti batas kesanggupan, untuk sebuah sajak yang senyap
Satra Reboan #25 : Pelan Tapi Pasti
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Itu penggalan bait pertama puisi “Puisi Ulang Tahun” karya Chairil Anwar. Pelan tapi pasti, begitu kalimat di baris pertama yang sudah pasti dan umum, tapi begitu berarti bagi siapapun yang bertambah usianya.
Begitu juga pada Sastra Reboan, panggung yang sudah berjalan sejak akhir April 2008 lalu secara rutin di hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Tak terasa sudah 2 (dua) tahun usianya. Angka yang hanya dua, tapi untuk sebuah gawe sastra sangat berarti.
Seperti awalnya, ketika mulai dilakoni, sempat muncul keraguan meski terus melangkah karena ini merupakan tantangan sendiri “Sejauh mana perjalanan sebuah panggung dengan tajuk sastra?”. Apalagi dibayangi dengan cerita bahwa panggung sastra biasanya hanya tiga atau empat kali saja, setelah itu tanpa kabar lagi. Dan para penggiat Sastra Reboan mampu melangkah terus hingga kini, dan semoga terus meski pelan tapi pasti.
Meski tak semerbak, tapi aroma bertambah usia mewarnai Sastra Reboan ke 25 yang seperti biasa di Wapres, Bulungan pada Rabu, 28 April 2010 ini. Tentu tak semata itu “panggung sastra bagi semua” ini, karena tetap dalam bentuk seperti biasanya dengan sajian seni, juga diskusi dan tentunya lontaran harapan bagi semua.
Seperti biasa, acara dipandu penyair Budhi Setyawan dengan pasangannya, Nurul Wardah yang akan mengantarkan acara pertama berupa Diskusi Buku Kumpulan Cerpen Mata Blater karya Mahwi Air Tawar, cerpenis dari Yogyakarta. Sastra Reboan merupakan langkah awalnya memperkenalkan karyanya sebelum beranjak ke Bandung dan Yogyakarta. Diskusi ringan yang dipandu Setyo Bardono ini menampilkan Ilenk Rembulan sebagai pembahasnya.
Ada sebuah kado kecil dari Teater Pintu 310 STBA LIA yang diwakili oleh Bung Kelinci, dosen bahasa Inggris yang flamboyan bersama Maya Sekartaji yang penampilannya selalu menawan, membawakan Monolog “Ranting”, adaptasi Novel “Garis Perempuan” karya Sanie B. Kuncoro dengan musik oleh Davey Cassaino.
Kemeriahan, jika boleh dibilang demikian, Sastra Reboan #25 yang tak jauh waktunya dengan Hari Kartini dan panggung politik seputar markus (makelar kasus) juga diisi dengan beberapa politisi yang menyukai sastra, terutama puisi. Mereka antara lain Ferry Mursyidan Baldan, Ganjar Pranowo, Wanda Hamidah dan Effendi Choiri yang akan membaca puisi bersama Valaby dari Bali serta kolaborasi pembacaan puisi Tegalan “Pengikat Serat Kawindra” bersama Dyah Setyawati dari Komunitas Asahmanah Tegal dan Nurochman dari medium sastra Indramayu.
Perjalanan Sastra Reboan selama dua tahun juga akan diceritakan secara singkat oleh Zai Lawanglangit,Wakil Ketua Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) sebagai penyelenggara Sastra Reboan, yang sebelumnya juga tampil membaca puisi. Pertanyaan seputar perjalanan ini bisa diajukan oleh pengunjung setia Sastra Reboan.
Tak cuma baca puisi, diskusi atau teater, Sastra Reboan juga menampilkan pembacaan cerpen, kali ini dari karya Agus Noor yang berjudul “20 Puzzle Cerita” dibawakan oleh Dian Ilenk dan Riri, serta Pantomin oleh Yuli Ono dari Yogyakarta.
Semoga waktu berkenan menuntun langkah kita ke Wapres Bulungan, Rabu 28 April ini di tengah lelah dan kemacetan jalanan untuk sekedar berbagi bersama pecinta sastra dan seni lainnya di Sastra Reboan. (gie)
***
Salam,
Awak Sastra Reboan : Zai Lawanglangit, Ilenk Rembulan, Setyo Bardono, Eva Budiastuti, Fitri Yuliana, Dorsey Silalahi, Budhi Setyawan, Weni Suryandari, Dedy Tri Riyadi, Sahlul Fuad, Nina Yuliana, Nurdin Ahmad Zaky, Hujan Tarigan, Nurudin Asyhadie, Kirana Kejora, Nurul Wardah, Yo Sugianto.
gubuk sederhana ini lebih nikmat dikunjungi bila menggunakan browser Mozilla Firefox dengan resolusi berkedalaman 1024 x 768 pixels.
Semoga berkenan di hati dan sejuk di mata.
Copyright © 2010 Jejak Kaki Dalam Kata
: Re-Designed by dYo