Jakarta (ANTARA News) – Sastrawan senior Taufiq Ismail menilai jumlah majalah sastra di Indonesia saat ini sangat sedikit sehingga menjadi salah satu penghambat perkembangan sastra.
“Kalau boleh saya bilang cuma ada satu, Horison, karena Basis dan Kalam lebih ke majalah budaya,” katanya saat perayaan ulang tahun ke-40 majalah Horison, di Jakarta, Sabtu.
Bila melihat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta, katanya, seharusnya jumlah majalah sastra di Indonesia seharusnya tidak hanya satu.
Taufiq yang juga pernah aktif di konferensi sastra dunia yang
diadakan oleh Dewan Kesenian Rotterdam, kemudian membandingkan dengan Mesir, negara dengan jumlah penduduk 60 juta orang.
Di negeri piramid itu, tercatat 12 judul majalah yang beredar.
Idealnya, Indonesia bisa memiliki 44 majalah sastra bila berpijak dari perbandingan dengan jumlah penduduk Mesir.
Dengan begitu, katanya, perkembangan sastra akan semakin cerah. “Sastrawan tidak akan antri panjang di depan pintu kantor majalah, menanti pemuatan karya mereka,” kata Taufiq yang juga dituliskannya dalam pengantar buku “Mengantar Sastra Ke Tengah Siswa”.
Beberapa majalah Mesir itu mirip dengan Horison, yaitu menggunakan resep gado-gado dengan meramu puisi, cerpen, esai, kritik, penggalan drama atau novel, serta berita sastra dalam satu kemasan.
Selain itu, katanya, juga terdapat majalah yang secara khusus mengulas satu “genre” sastra saja. Bahkan, ada majalah bulanan setebal 120 halaman yang semata-mata memuat ulasan buku. “Bayangkan betapa banyak buku sastra setiap bulan yang dibahasnya,” katanya.
Penulis sajak “Kembalikan Indonesia Padaku” itu juga membandingkan dengan apa yang terjadi di Korea Selatan. Negara dengan jumlah penduduk 50 juta orang itu mampu melahirkan 50 majalah sastra.
Dengan membandingkan jumlah penduduk Indonesia dan Korea Selatan, Taufiq beranggapan seharusnya Indonesia bisa memiliki 240 majalah sastra.
“Namun kenyataannya hanya satu,” katanya manambahkan.
Kondisi itu, menurut Taufiq, salah satunya disebabkan oleh kesadaran redaktur dan pengusaha, bahwa bisnis majalah sastra tidak menguntungkan. Hal itu diperparah dengan kenyataan bahwa masyarakat Indonesia lebih berminat membeli langsung karya sastra dalam bentuk novel, cerita pendek dan sebagainya.
“Majalah sastra justru dianggap sebagai jurnal untuk penelitian,” kata Taufiq.(*)
Copyright © 2006 ANTARA
27 Januari 2007 23:40
By ayu on May 20, 2010 | Reply
jadi apakah kelebihan majalah?