natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Feb
23rd

Cihuy, Jokpin Chatting!

Files under Naskah, PUISI | Posted by blue4gie

Oleh : Hasan Aspahani

[Tadarus Puisi # 024] Kontras, Paradoks, dan Ironi di
Jalan ke Surga

jalan menuju kantor-Mu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku

(Jalan Menuju Surga, Joko Pinurbo, 2007)

Jangan mencari sajak Joko Pinurbo itu di bukunya, atau
di surat kabar. Paling tidak saat tulisan ini ditulis, sajak itu belum dibukukan, dan belum terbit di koran. Jokpin - sapaan gaul Joko Pinurbo - menulisnya di ruang percakapan di jaringan internet. Cihuy, Jokpin chatting? Ya, memang. Dia pakai Yahoo ID “celanasenja”.

Lalu, kalau mengobrol dengan penyair apalagi yang enak
diobrolkan kecuali soal bagaimana menulis sajak. Itulah yang diobrolkan Jokpin. “Ayo kawan-kawan, kita menulis sajak pendek bergantian. Paling banyak empat baris,” begitulah kira-kira si celanasenja eh Jokpin menyapa.

Belasan orang di ruang obrolan yang dibuka oleh Johannes Sugianto alias “blue4gie” pun menyambut ajakan itu. Ada yang tiba-tiba mandek tak dapat ide. Ada yang lancar. Ramai. Dedi Tri Riyadi di ujung obrolan ditugaskan untuk membuat merangkum. Saya kebagian pekerjaan rumah menjelaskan soal kontras, paradoks dan ironi dalam sajak. Saya tunaikan tugas itu semampunya. Saya ingin menjelaskannya dengan
contoh sajak yang dikutip di awal tulisan ini. Saya kira ini sajak yang dengan baik memainkan kontras,
paradoks dan ironi.

Sesungguhnya kontras, paradoks dan ironi itu saudara
kandung. Ketiganya dihadirkan oleh penyair di dalam
sajak untuk mengejutkan pembaca, untuk merenggut
perhatian pembaca sajaknya. Demikian kalau kita setuju
kepada A Teeuw yang pernah bilang bahwa tugas penyair
adalah mengejutkan si pembaca, oleh penyimpangan dari
pemakaian bahasa yang sudah terbiasa, sudah familiar,
usang dan luntur.

Kontras, paradoks, dan ironi membuat bahasa dalam
sajak tidak datar dan lurus saja. Yang lurus dan datar
itu membosankan. Kontras, paradoks dan ironi yang
diulang-ulang pun akhirnya bisa jadi sesuatu yang
datar, lurus dan membosankan. Maka penyair bertugas
untuk menciptakan paradoks, kontras dan ironi yang
selalu baru dari sajak ke sajak. Untuk apa? Ketiganya
di dalam sajak yang baik berkhasiat memperluas dan
memperkuat makna.

KONTRAS. Kontras adalah perbedaan atau pertentangan
antarlarik, antarbaris atau antarkata atau antarimaji
dalam sajak. Misalnya kontras antara larik pendek dan
larik panjang. Kontras antara kalimat negatif dan positif. Kontras antara kalimat tanya, pernyataan dan kalimat seru. Dalam hal ini kontras bukan satu-satunya jurus. Ada kesejajaran yang bolehlah disebut sebagai lawan sekaligus pendukung dari kontras itu. Repetisi adalah wujud kesejajaran yang paling sering dipakai. Kesejajaran seakan melawan kontras sekaligus menguatkannya.

Pada puisi Jokpin di atas saya melihat kontras antara judul dan isi. Antara jalan menuju surga dan jalan ke kantor-Mu. Apakah surga itu adalah kantor-Nya? Ada yang membuat kita berpikir atau setidaknya merenung ringan ketika sampa pada kontras itu. Keduanya saling tindih, seraya menawarkan banyak hal. Kita pada akhirnya mungkin bisa menerima kontras antara dua hal itu, setidaknya dalam upaya kita memanen makna dari sajak itu sendiri.

PARADOKS. Paradoks adalah pertemuan atau persandingan
dua hal yang seakan-akan atau setidaknya dianggap
bertentangan. Paradoks bisa hadir atau dihadirkan di
mana-mana dengan berbagai macam cara. A Teeuw melihat
paradoks ada pada kata “berkakuan” dalam sajak Chairil
Anwar “Kawanku dan Aku”. Imbuhan ke-an lazim digunakan
salah satunya untuk menunjukkan dua benda atau dua hal
yang saling berhubungan dengan kata yang diimbuhinya.
Misalnya pada kalimat “rumahnya dan masjid berdekatan”, artinya rumahnya dan masjid saling terhubung dengan kata “dekat”. Dalam hal kata “berkakuan” bisakah dua hal dihubungkan dengan kata kaku? Ini paradoks, kata A Teeuw. Setidaknya dalam konteks sajak itu, dan setidaknya pada saat itu. Ada paradoks antara fungsi gramatis ke-an dengan niat
Chairil menggunakan imbuhan itu dalam sajaknya.

Dalam sajak Jokpin yang sangat pendek itu saya menemukan paradoks antara orang yang ingin menuju ke surga dengan kesadaran orang itu bahwa dia adalah seorang pencuri. Bukan sembarang pencuri pula. Dia bukan sekadar mencuri mobil. Soalnya mobil yang dicurinya banyak, antre bikin macet. Pencurian itu ganjarannya dosa. Lho orang mau ke surga kok modalnya membawa dosa? Paradoks sekali. Sekaligus ironis.
Semuanya telah menjadi lambang. Mobil tidak lagi sekadar mobil. Mencuri tidak lagi tampil sebagai mencuri. Surga bukan lagi cuma surga, dalam sajak itu. Ini memang sajak yang amat mencihuykan.

Arif B Prasetya menunjukkan jurus paradoksal yang berhasil dipakai oleh Sutardji dalam sajak “O”. Yang-personal dihadirkan dalam yang-kolektif. Yang-sakral diejawantahkan dalam yang-profan. Sajak itu, kata Arif, pada dasarnya adalah pencarian makna kehidupan yang bersifat sangat personal. Tetapi Sutardji, katanya, seolah menyediakan jalan bagi
khalayak untuk turut memasuki ruang personal
pengalaman puitiknya.

IRONI. Lalu apakah ironi? Ironi adalah tabrakan atau
tubrukan antara ruh dan wujud sajak, antara sajak dengan hal lain di luar sajak, antara niat sajak dan syariat sajak. Sapardi Djoko Damono menunjukkan ironi antara niat protes yang keras dalam sajak “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”
Goenawan Mohamad dengan cara protes itu disampaikan.
Sajak itu tidak berteriak lantang tetapi disampaikan
dengan sikap dan jiwa yang sudah mengendap. Ironis.

Ironi telah saya sebutkan ada dalam sajak Jokpin di atas. Kita bisa menemukan ironi lain. Perkara akhirat adalah perkara iman, perkara agama, perkara batin. Ini bukan perkara materi. Tetapi dalam sajak itu hal yang immaterial itu diungkapkan dengan cara yang sangat materialistik. Manusia modern menganggap mobil atau apapun barang mewah lainnya sebagai kebutuhan yang harus dikejar dan terpenuhi. Agama seringkali digugat, dipertanyakan dalam kehidupan modern. Jokpin memanfaatkan ironi itu. Yang batin ditabrakkan dengan yang zahir. Yang material ditubrukkan dengan yang immaterial. Lalu meledaklah atau setidaknya
memerciklah makna.

Paradoks, ironi dan kontras, kata A. Teeuw dan Sapardi
Djoko Damono adalah ciri-ciri utama puisi modern.
Makna diantar, dimaksimalkan, ditimbulkan oleh ketiga
hal itu. Ketiga hal itu, bersama-sama ambiguitas kata
membangun konflik sekaligus juga merujuk-mengacu, lalu
meniti dua jembatan sekaligus: satu jembatan mengantar
pada ujung keutuhan (unity) dan satu jembatan lagi
berujung pada kompleksitas (complexity). Jika pijakan
pada kedua hal itu lepas, maka si sajak akan tercebur
pada sajak encer yang tak menarik untuk dimaknai atau
sajak gelap yang menyesatkan atau bahkan tak mungkin
dimaknai.

Kita tidak menemukan ketiga hal itu misalnya pada pantun “kalau ada sumur di ladang / boleh kita menumpang mandi / kalau ada umurku panjang / bolehkita  lagi /. Pada pantun itu - dan pada pantun umumnya - pesan atau amanat adalah ciri utama yang harus diantarkan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya.

You must be logged in to post a comment.