natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
May
28th

Budi Darma sang Pendongeng

Files under Sosok | Posted by blue4gie

Dr. Fabiola Kurnia, ketua Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, dalam berita sms-nya mengabarkan: ’’Kami sudah siap merayakan ulang tahun Pak Budi Darma yang ke-70 tanggal 25 April depan tetapi beliau menolak dan berkata: I’m Nobody’’. Saya segera menjawab, memang hanya seorang besar yang mampu mengatakan bahwa ’’saya bukan siapa-siapa.’’
Prof. Dr. Budi Darma, M.A., kelahiran Rembang 25 April 1937, sarjana sastra Inggris UGM (1963), sejurusan dengan W.S. Rendra, Bakdi Sumanto, dan Sapardi Djoko Damono. Lulusan Program Basic Humanities University of Hawaii (1971), peraih Sea Write Award, Anugerah Akademi Jakarta, Anugerah Ahmad Bakrie, dekan FKSS IKIP Surabaya untuk beberapa kali masa jabatan, rektor IKIP Surabaya, novelis, cerpenis, esais, dan sejumlah gelar lain. Budi Darma bersama Umar Kayam, Iwan Simatupang, Danarto, dan Putu Wijaya dianggap sebagai pembaharu cerpen Indonesia (Horison Sastra Indonesia, Kitab Cerita Pendek, 2002). Walau kelima cerpenis itu disebut sebagai pembaharu cerpen Indonesia, sifat pembaharuan yang dilakukan masing-masing penulis berbeda.

Karirnya sebagai penulis dapat ditelusuri melalui majalah Tjerita, sebuah majalah ’’pelanjut’’ majalah sastra Kisah yang mati, dan nantinya diteruskan dengan majalah Sastra yang juga harus ’’dibunuh’’ pada 1964, namun berhasil lahir kembali sebagai Horison pada 1966 yang masih terbit sampai saat ini. Dari Tjerita kita baca Dia Datang ke Batas, Parto Gombloh dan Seorang Sinting di Rembang, semua dimuat pada 1958 dengan nama pengarang Budi Darmo. Karyanya juga dimuat dalam majalah Budaya, Indonesia, Basis serta Roman antara 1957-1960. Apa dia menulis puisi? Jelas, sebagaimana kebanyakan sastrawan lain, dia juga menulis puisi walau tak banyak, sebagaimana Sapardi Djoko Damono, yang penyair tapi juga menulis sejumlah cerpen. Puisinya dimuat di Indonesia, Basis, Horison, dan Budaya Djaja antara 59-71.

Apa yang istimewa dengan cerpen dan novel Budi Darma? Membaca cerpen-cerpen eksperimental yang ada kita sering merasa dibohongi. Pengarang hanya beraneh-aneh dengan apa yang diceritakan, termasuk cara menceritakannya. Walau Budi Darma seorang eksperimentalis, kalau boleh saya sebut begitu, sebetulnya dia menulis dongeng baru. Semua yang dia ceritakan, yang selintas nampak tak masuk akal, menjadi realitas kehidupan yang tersaji rapi, penuh imajinasi, dan sama sekali tak membodohi pembaca. Kita merasa melihat diri kita sendiri saat membaca cerita-cerita unik dari Orang-orang Bloomington. Kita tertawa mengikuti pikiran dan perilaku tokoh-tokohnya dan berkomentar: ’’Itu aku! Aku juga mungkin merasa begitu.’’

Olenka, sebagaimana Orang-orang Bloomington, walau mengambil seting di Amerika, terasa sekali mengenai diri kita sendiri, yang ’’share the feeling, share the imagination’’ dengan mereka. Yang diceritakan bukan orang yang jauh di awang-awang, tetapi adalah pribadi-pribadi yang kita kenal. Rafilus yang diceritakan melalui kesaksian salah seorang tokohnya, juga menjadi tokoh yang sangat realis, padahal ceritanya sangat abstrak. Nyonya Talis tak berbeda. Kita merasa ingin terus membaca sampai tutup buku, karena ’’dongeng-dongeng’’ yang ditulis Budi Darma sangat memukau. Kita menjadi kanak-kanak yang haus cerita.

Dalam proses kreatif, menurut Budi Darma, sastrawan berdialog dengan dirinya yang ternyata merupakan proses mengejar cakrawala. Jawaban demi jawaban ternyata hanyalah terminal, bukan final. Karena itu, eseis, pengarang, dan penyair selalu mempunyai tema yang lebih kurang sama (Harmonium, 1995). Karena dia selalu bercerita tentang manusia, bagaimanapun, maka kita dapat melihatnya sebagai persoalan kita. Apalagi, sekali lagi, kelebihan Budi Darma adalah kelihaiannya mengangkat masalah sehari-hari menjadi masalah kita semua, menyadarkan kita tentang berbagai aspek kehidupan yang menempel dalam diri kita sendiri. Kita bercermin. Melihat wajah kita sendiri, sebagaimana Chairil Anwar yang pada 28 April ini juga kita peringati hari wafatnya: Aku berkaca/ini muka penuh luka. Budi Darma menyeret kita untuk berani melihat wajah kita sendiri, walau bopeng, walau penuh luka.

Sayang sekali, dari sekian banyak cerpennya, hanya beberapa yang dibukukan, yakni dalam Orang-orang Bloomington atau Derabat, cerpen pilihan Kompas yang memakai judul cerpen Budi Darma sebagai judul kumpulan. Seharusnya masih bisa terbit satu atau dua cerpen-cerpennya dalam buku kumpulan. Sayang, walau cerita-cerita dan juga esai tulisannya bagus, penjualannya kurang lancar.

Selamat ulang tahun ke-70 Pak Budi! Semangat yang Anda pancarkan sebagai penulis serbabisa melecut generasi yang lebih muda untuk melakukan ekplorasi dalam berkarya sastra, untuk bernapas panjang seperti Anda. Semoga tetap sehat, panjang umur, dan kreatif. Amien. ***

*) Sunaryono Basuki Ks, sastrawan pengagum Budi Darma
Sumber : Radar Lampung, Sunday, 22 April 2007

You must be logged in to post a comment.