natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
May
29th

MENGANTAR BUNDA

Files under Cerpen | Posted by blue4gie

Kata orang, aku punya wajah menarik dan disukai wanita. Aku ingat itu, ketika masih berusia 12 tahun, ada tetanggaku yang lebih tua enam tahun dariku, mbak Yuni namanya gemas sekali melihatku. Aku sering digodanya. Diciumnya pipiku suatu ketika, dan aku lari dengan wajah semerah senja yang hendak tenggelam menjemput malam.

Tapi bukan karena itu aku lalu jadi gede rasa alias geer. Kejadian itu sudah kulupakan ketika tahun berikutnya aku sudah duduk di bangku SMP. Hanya aku tertap remaja yang pemalu, dengan celana pendek dan berjalan kaki pulang pergi ke sekolah.

Maklum saja, ibuku hanya janda yang berjualan kelontong di rumah yang kontrakannya naik terus setiap tahunnya. Adikku tiga (Seno,Setio dan Rini) yang semuanya sudah sekolah, serta mbah-ku yang sabar dan welas asih, Kaminah namanya.

Karena kondisi ekonomi yang demikian, tak jarang uang sekolah terlambat dibayar. Untunglah, kepala sekolahku, Pak Mulyono mau mnegerti dan yang sering memberi kelonggaran waktu untuk pembaran SPP ini. Begitu juga dengan wali kelasku, Ibu Ngatmini, , yang juga guru bahasa Inggris. Beliau sangat sayang sekali sama aku. Dia ini perawan tua, konon kekasihnya yang mempunyai wajah mirip aku meninggalkannya begitu saja ketika menjelang pernikahan.

Menginjak kelas dua, banyak guru suka sama aku, mungkin karena nilai-nilaiku cukup bagus. Aku juga tidak termasuk anak yang bandel, suka membolos atau membuat keributan di kelas. Perlakuan mereka juga baik, termasuk kalau rambutku agak panjang sedikit tak dimarahi. Aku ingat, temanku Jono yang dijewer telinganya sampai merah, sedang aku hanya ditegur halus saja oleh bu Ngatmini itu.

Di kelas dua ini juga aku pertama kali mengenal yang namanya pacaran. Gadis yang beda kelas denganku ini bernama Nala. Kulitnya seputih susu, rambutnya sepundak, cantik dan kadang-kadang ketus. Bapaknya seorang pengusaha kaya, sedang ibunya dokter di rumah sakit ternama di kotaku. Tak heran, ke sekolah saja dia diantar oleh sopir, begitu juga pulangnya.

Entah bagaimana dia bisa tertarik sama aku. Aku hanya ingat, Lani teman dekatnya yang sekelas denganku yang pertama kali mengenalkan dia. Sejak pertama kali berkenalan, aku tahu dia ternyata tidak angkuh. Wajahnya yang cantik juga diimbangi dengna otaknya yang cukup encer. Namun bagaimanapun, perbedaan status sosial ini membuatku tak percaya diri, meski dia tak hentinya meyakinkanku bahwa hal itu bukanlah penghalang bagi kami berpacaran.

Rumahnya memang tidak jauh dari tempat tinggalku. Untuk ke rumahku,pasti melewatinya. Rumah dengan pagar berwarna biru tua, bertingkat dengan taman yang asri. Sedang rumah kontrakan yang kutempati sudah sesak dengan adik-adik, tumpukan barang dagangan dan almari pakaian. Teras yang pas untuk menaruh sepeda juga tampak kotor.

***

Hubunganku dengan Nala tentu saja berlangsung back street alias main belakang, Kadang dia nekad menemui aku saat malam, melompati jendela kamar lalu ke rumahku yang gangnya memang tak terang benderang. Di situlah kami biasa ngobrol sana sini.

Dia gadis yang pertama kali aku cium. Cinta pertama, kata orang. Begitu juga aku baginya.

Beda status sosial ini tak menghalangi aku dan Nala terus berhubungan, meski di sekolah berlangsung secara diam-diam saja agar tak menyolok. Tentu saja aku mesti memendam cemburu ketika banyak cowok mendekatinya, mencoba menarik perhatiannya.

Namun meski tak bebas setiap hari bersama, seminggu sekali saja terutama malam minggu, tapi aku sungguh bersyukur mempunyai kekasih seperti Nala. Kadang dia bawakan aku buah-buahan mahal yang cuma kulihat di televisi atau majalah. TKadang juga dia membelikan aku buku pelajaran yang harganya cukup untuk makan seminggu. Dalam waktu cepat keramahannya segera merebut hati keluargaku.

Penghasilan berjualan klontong tentu pas-pasan bagi ibuku, yang biar masih berusia 33 tahun dan cantik tapi lebih memilih tak menikah lagi. “Ibu ingin membesarkan kalian, dengan segala upaya agar tetap bisa terus sekolah. Setidaknya lulus SMA. Syukur jika ada rejeki, kalian semua bisa melanjutkan kuliah,” begitu selalu dikatakannya ketika adikku, Seno bertanya kenapa tak menikah lagi.

Adikku bertanya begitu dengan lugunya, karena melihat beberapa laki-laki kadang datang ke rumah. Ada yang membawa motor atau mobil, tak lupa dengan aneka jajanan untuk menarik simpati anak-anaknya. Tapi ibu tetap dengan pendiriannya, tak mau menikah lagi. Kadang adikku yang lain, Rini dan Setio juga bertanya hal yang sama.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ibu masih merindukan bapak yang pergi entah kemana. Kata mbah Kaminah, bapak pergi jauh setelah menghabiskan harta peninggalan suaminya di meja judi. Hingga kini, aku tak tahu mana yang benar, karena bapakku tak pernah kembali dan kujumpai.

Tapi orang yang ingin kupanggil bapak itu tak pernah datang. Agaknya ibu tidak pernah berpikir untuk memberiku seorang bapak. Maka kadang aku mencari sendiri bapakku. Di kamarku, aku pasang poster John Lennon yang biangnya The Beatles dan Soekarno yang bapak bangsa ini. Keduanya menjadi idolaku, menjadi bapakku dalam angan-angan. Sederhana saja, aku suka tokoh-tokoh pemberontak seperti mereka, yang mampu mengubah dunia, setidaknya lingkungan atau tanah airnya dengan perbuatan yang dikenang hingga saat ini..

Tak heran jika pelajaran sejarahku tak pernah mendapat nilai 8, selalu 9 atau 10. Malah pernah terpikir olehku untuk menjadi ahli sejarah saja suatu ketika. Biar bisa kupelajari banyak tokoh dunia yang belum kuketahui.

***

Sebagai anak sulung, aku dekat dan dimanja oleh ibuku. Adik-adikku biasanya cuma monyongkan mulutnya saja kalau aku minta sesuatu dan oleh ibu selalu diusahakan sebisanyA. Seperti ketika ingin menonton film kungfu yang saat itu sedang ngetop, ibu entah dari mana dapat juga uang untuk membeli tiket dan memberi uang jajanku ke bioskop.
Selain itu, banyak juga urusan di luar usaha dagang yang sering melibatkan aku. Ibu selalu mengajakku pergi usai pulang sekolah, seperti bertemu teman-temannya yang cantik-cantik.

Ibu seorang wanita yang sabar. Rasanya dia tak pernah mencubit apalagi memukul anak-anaknya yang kadang bandel. Jika ada yang salah, atau dia kesal terhadap sesuatu, paling suaranya mengeras. Jika sudah begini, aku dan adik-adik pasti tahu dan diam saja.

Ketika bersama teman-temannya, aku hanya bisa menikmati kemewahan rumah mereka, dengan akuarium air laut dan ayunan di taman. Aku hanya bisa iri, kadang minder juga. Hingga muncul ambisiku, jika nanti aku dewasa dan kaya, pasti kubuat tempat tinggal yang serupa. “Pasti orangtua Nala akan menerima dengan tangan terbuka jika aku nanti kaya,” pikirku ketika itu.

Dari teman-teman ibu, yang sering aku lirik dengan kagum adalah Tante Sisil, begitu aku memanggilnya. Entah nama aseli atau bukan, aku tak peduli. Dia setinggi ibuku, rambutnya pendek dan punya senyuman yang manis. Mungkin saat itu aku mulai memasuki usia puber, sehingga bengong ketika melihat wanita dewasa secantik itu.

Suatu hari ketika aku mencari ibu di kamarnya, aku buka pintu begitu saja, dan kulihat Tante Sisil sedang berganti pakaian. Hanya mengenakan celana dalam dan beha saja. Aku tertegun dengan tegang dan malu, sebelum aku membalikkan badan berlalu. Itu kenangan yang sangat melekat di hatiku.

Bisa dibilang, Tante Sisil merupakan sahabat baik ibu. Dia sering juga menginap di rumah. Dan jika begini, aku selalu teringat pemandangan saat dia berganti baju. Biasanya, aku berupaya mendekatinya sambil pura-pura bertanya tentang pelajaran sekolah.
Pernah ibu memergokiku ketika menatap dengan lekat Tante Sisil yang sedang menyisir rambutnya. “Adi, kamu cepat sekali ya besar sebagai remaja. Tante Sisil cantik ya?”, katanya sambil tersenyum. Saat itu aku tak menjawab, hanya segera kabur sebelum ibu tahu wajahku merah padam tak karuan.

***

Tak terasa, hubunganku dengan Nala sudah berjalan setahun lamanya. Meski begitu, karena takut ditolak atau dihina, aku tak pernah apel ke rumahnya jika malam minggu tiba. Pernah memang beberapa kali aku ke rumahnya, itupun ramai-ramai ketika kekasihku berulang tahun. Aku ingat, demi cintaku pada Nala, aku merengek kepada ibu agar bisa membelikan hadiah. Gengsi rasanya hadir tanpa membawa apapun, apalagi untuk pacar yang baik hati seperti Nala..

Kado itu, biar tak mahal, tetap kuingat karena tanpa setahuku rupanya ibu ternyata menjual gelang yang dipakainya. Sebagai ibu dia tak mau anak kesayangannya ini menanggung malu, datang ke pesta ulatang tahun kekasihnya tak membawa apa-apa. Hal ini kuketahui ketika sudah menginjak dewasa, Rini yang bercerita sambil tertawa.

Nala menerima hadiahku dengan mata berbinar, dan hanya aku saja yang melihatnya. Orangtuanya tetap tak tahu hubungan kami, meskipun mereka terlihat rama.

Ketika aku berjabat tangan dengan bapaknya, kuperhatikan wajahnya yang gagah dan berwibawa. Sejenak aku merasakan cemburu dan rindu tentang sosok ayah seperti dia. Andai saja dia bapakku, begitu gumamku setelah bersalaman.

Sedangkan ibunya, secantik Nala dengan keramahannya yang membuatku teringat pada ibu. Dia tak kelihatan sombong. Dipersilahkannya aku dan teman-teman sekolah untuk mencicipi makanan lezat yang terhidang begitu banyaknya di meja. Lalu dia mondar-mandir sana sini untuk memotret dengan kameranya.

Sekali waktu, aku pernah ke rumah Nala lagi untuk belajar bersama dua teman lainnya. Maklum, otakku yang encer memang memudahkanku untuk diterima dalam pergaulan teman-teman yang lebih kaya saat itu.

Biasanya, jika bisa bersama, sambil mencuri kesempatan aku genggam tangan Nala dengan kewaspadaan tinggi untuk tidak dipergoki. Gawat jika sampai orangtuanya tahu, atau pembantu rumahnya melaporkan ke majikannya.

***

Di rumah, dagangan ibu semakin bertambah. Tak lagi kelontong saja, tapi juga kebutuhan rumah tangga lainnya, yang dijual dengan cara angsuran atau kredit kepada tetangga.

Biasanya, ibu mengatakan bahwa ada temannya yang memberi modal untuk menambah usaha. Cicilan dari tetangga atau teman-teman yang memesan barang itu dikembalikannya kepada sang pemilik modal. Sedangkan keuntungannya oleh ibu ditabung. “Untuk biayamu nanti kalau masuk SMA,” ujarnya. Aku termenung menahan baru akan kasih sayang dan pengorban ibu.

Namun, ketika Rini jatuh sakit akibat demam berdarah, hingga harus dirawat rumah sakit selama seminggu, tabungan itu habis untuk membayar biaya perawatan dan membeli obat.

Kulihat ibu beberapa kali memandangku, seperti minta maaf yang kutanggapi dengan biasa saja saat itu. Aku tak tahu apa yang menjadi beban pikirannya, tapi kuanggap ibu pasti sedang sedih karena memikirkan keadaan Rini.

Pulang dari rumah sakit, Rini tetap membutuhkan perawatan, karena di tengah kondisinya yang lemah, rupanya ia juga didiagnosa gejala usus buntu.

“Darimana dapat uang untuk operasi usus buntu itu?,” begitu kata ibu yang kudengar ketika sedang berbicara dengan Tante Sisil di kamarnya.

“Sabarlah, kita cari jalan keluarnya. Mumpung Rini masih istirahat di rumah, kan tidak langsung dioperasi. Kita masih punya waktu kan”, jawab Tante Sisil dengan suaranya yang lembut.

Untunglah Rini cepat sembuh dan kembali sekolah, bergurau seperti semula. Aku juga tidak lagi memikirkan kejadian itu. Toh adik perempuan satu-satunya ini sudah sehat kembali.

Hingga menjelang ujian untuk lulus SMP dan bersiap melanjutkan ke SMA, timbullah kesulitan lain, dagangan ibu mendadak seret. Awalnya aku tak tahu, tapi ibu kemudian bercerita jika ada temannya yang tak mau membayar cicilan barang yang cukup mahal harganya. Bahkan temannya telah pindah rumah tanpa diketahui dimana kini keberadaannya.

Kulihat ibu pontang-panting sejak itu untuk melacak temannya, sambil terus menagih kepada yang lainya. Sepertinya dia tak mau kecolongan lagi. Kadang, dia pulang agak malam. Bahkan pernah ibu tidak pulang, dan paginya ketika aku hendak sekolah dan ibu sudah di rumah, saat aku bertanya dia hanya menjawab kalau sudah kemalaman hingga harus menginap di rumah Tante Sisil.

Ibu semakin sering pulang malam, dan ini akhirnya menjadi hal yang biasa bagi anak-anaknya., karena tahu bahwa hal itu terjadi karena ibu bersusah payah mencari uang untuk biaya sekolah, makan dan membayar kontrakan rumah.

***

Ujian SMP telah selesai, tinggal menunggu pengumuman saja. Aku belum tahu, apakah akan melanjutkan sekolah ke SMA seperti yang diinginkan ibu, atau masuk STM saja biar mendapatkan keterampilan supaya cepat bekerja.

Tapi aku sadar, aku tak pintar soal teknik. Sejak SD aku lebih suka hafalan daripada hitung-hitungan, apalagi yang namanya fisika dan kimia. Belum lagi keterampilan teknik seperti membuat bel, radio atau semacam itu. Biasanya aku minta bantuan temanku, Bagio yang lebih ahli mengutak-atik peralatan elektronik itu.

Namun untuk masuk SMA Negeri ketika itu, jelas tidak mudah. Selain tempatnya yang terbatas, juga tahu uang pangkalnya tidak sedikit. Apalagi untuk sekolah favorit yang banyak dihuni oleh anak-anak orang kaya. Pesimis aku jadinya. Bukan soal kemampuan menghadapi soal-soal tes masuk, tapi lebih pada biayanya.

Karena itu, aku tenang-tenang saja sambil menanti hasil ujian itu. Aku tetap bemain bersama teman-temanku, mendengarkan musik atau baca komik. Aku benar-benar tak peduli akan melanjutkan sekolah kemana. Itu soal gampang, kataku pada ibu yang hanya bisa memandang dengan matanya yang sebening embun. Biasanya jika aku menjawab begitu, sambil tersenyum tangannya yang lembut mengusap kepalaku. Aku senang diperlakukan demikian, karena ini pertanda sayang yang membuatku terpejam sejenak.

Dugaanku memang tak salah. Aku lulus dengan baik, bahkan masuk 3 besar untuk peringkat terbaik. Sedangkan Nala masuk dalam 10 besar. Kami merayakannya dengan saling berpelukan di kebun belakang sekolah.

Kubawa hasil ujian itu dengan wajah berseri-seri. Kutunjukkan pada ibu, yang lalu memelukku sambil membisikkan akan membuat syukuran kecil-kecilan atas kebersilanku itu.

Tapi itu rupanya kegembiraan itu tak berlangsung lama. Ketika hasil tes masuk SMA Negeri diumumkan aku tak diterima. Sedangkan Nala lolos dengan mulusnya. Kata seorang teman, pastilah itu karena pengaruh bapaknya yang pengusaha, yang konon memberikan sumbangan 5 unit komputer ke sekolah itu. Aku diam saja, tak berani membenanrkan meskipun ada tanda tanya dalam hati.

Sejak itu, aku dan ibu berkeliling mencari sekolah swasta yang baik dan terjangkau biayanya. Tapi tetap saja yang baik sudah dipenuhi pelamar. Saat menunggu formuli, seorang ibu dengan dandanan mewah kudengar berbicara kepada temannya. Mereka menyebut angka dengan enam nol di belakangnya sebagai jaminan alias pelicin untuk diterima tidaknya di sekolah itu.
Tentu saja nyaliku menciut mendengar itu, begitu juga ibu yang mendapat informasi serupa dari temannya. Aku ingat, ketika itu kami pulang dengan membisu dan wajah pucat.

“Ibu tetap ingin kamu sekolah, nak. Jangan takut. Soal biaya, ibu akan upayakan sebisanya. Tak usah khawatir, ibu tidak akan hutang. Lagian kalau hutang, kita juga tak tahu membayar dengan apa nantinya. Kita masih punya waktu dua minggu kok”.

Sekali lagi aku diam saja. Di tengah gundahku, kurasakan semangat ibu itu mampu menghiburku.

***

Belum lagi mendapatkan uang, Rini kembali jatuh sakit. Usus buntunya kambuh, dan ketika dibawa ke dokter umum dekat rumah, disarankan agar dibawa ke rumah sakit karena harus dirontgen.

Rupanya penyakit ini sudah cukup berat, sehingga Rini harus dirawat inap sebelum nanti diputuskan akan dioperasi atau tidak. Kepalaku terasa berat mendengar hal ini. Terbayang uang pangkal untuk masuk sekolah yang belum jelas, kini dibebani lagi dengan biaya operasi untuk adikku.

Dua hari kemudian, usai menjenguk Rini, ibu minta diantar ke rumah temannya di dekat stasiun kereta api. “Adi, ibu ada urusan dagang yang jika lancar kita bisa membayar biaya rumah sakit adikmu, sekaligus uang pangkal sekolahmu.”.

Kemudian ibu memberiku uang untuk jajan adik-adikku, sekalian ongkos pulang. Ibu bilang, jika jam 9 malam belum pulang berarti dia menginap di rumah temannya. Ia berpesan minta dijemput pagi hari di stasiun saja biar tidak merepotkan temannya. ”Ibu akan pulang subuh saja, biar bisa menyiapkan makan pagi untuk kalian sebelum berangkat sekolah,” katanya sambil memasuki sebuah rumah di pinggir jalan itu. .

Dengan hati berbunga-bunga aku pulang. Malam setelah warung ditutup, di kamar sambil memutar lagu ’Buku Ini Aku Pinjam”-nya Iwan Fals, aku berkhayal mengenakan celana panjang dan kembali bersama Nala. Saat itu aku berjanji akan lebih rajin sekolah dan juga menabung, biar bisa membeli sepeda motor untuk mengantar adik-adikku ke sekolah.

Kubayangkan juga bagaimana bangganya aku jika bisa membonceng Nala bermain ke air terjun yang pernah kami kunjungi ketika study tour. Kali ini tentunya berdua. Dia akan memeluk pinggangku dengan mesra, dengan wanginya yang selalu membuatku mabuk.

Setelah shalat Subuh, aku bersiap menjemput ibu. Setelah cuci muka, kubuka pintu perlahan, takut membangunkan adik dan mbah Karminah. Kupakai jaket karena jam segitu kotaku seperti kulkas, dingin sekali.

Tak terasa udara dingin itu mengantarku berjalan lebih cepat. Jarak antara rumah dan stasiun yang cukup jauh kutempuh saja dengan jalan kaki saja, sesekali berlari seperti olahraga pagi.

Rupanya aku sampai di sana lebih awal. Peron masih lenggang. Tukang becak masih lelap dalam tidurnya, sambil memeluk radio yang rupanya semalaman menyiarkan pertunjukan wayang. Warung bakso di pojok situ juga masih tutup, mungkin pemiliknya juga masih bermimpi di rumahnya.
Lebih dari setengah jam aku menunggu di situ. Lalu ketika aku baru keluar dari peron, kulihat sebuah mobil sedan warna abu-abu berhenti di depan stasiun.

Ibu keluar dari mobil itu, dengan wajah lelah. Rambutnya agak kusut. Beberapa saat kuperhatikan, dia bercakap dengan pengemudi mobil itu sambil sesekali diselingi tawanya yang renyah.

Rupanya percakapan itu begitu mengasyikkan, sampai aku tak berani mendekat, takut ibu marah. Pasti itu teman ibu yang cantik, seperti Tante Sisil.

Pengemudi itu agaknya masih ingin ngobrol. Dia keluar dari mobilnya……dan ternyata dia laki-laki. Aku penasarsan, lalu berjalan mendekat sambil merapat menyelinap di warung-warung yang masih senyap.

Rasanya aku mengenal wajah itu. Apalagi kumis tipisnya itu. Sekali lagi, kulihat dengan mesranya dia merangkul ibu, lalu mencium pipinya.

Sebelum masuk ke mobil, kulihat dia selipkan segepok uang ke tas ibu sambil kembali mencium pipi dan melambaikan tangannya. Ibu membalasnya sambil tersenyum.

***

Kini, semua itu menjadi kenangan yang menyakitkan bagiku. Di usiaku yang sudah hampir 35 tahun, bayangan itu tak pernah hilang.

Aku memang masuk SMA swasta yang ketika itu cukup ternama, setelah Rini keluar dari rumah sakit. Kedua adikku yang lain juga berhasil menamatkan sekolahnya. Setio lulus dari STM dan kini bekerja di sebuah kontraktor. Rini menamatkan sekolah perawatnya dan sudah berumah tangga yang memberiku keponakan lucu. Sementara Seno yang sejak kecil suka menonton film-film perang menjadi perwira polisi di Riau.

Ibu sendiri sudah tak lagi berjualan, karena anak-anaknya secara patungan sudah membelikan rumah secara kredit, dan tahun lalu sudah lunas sehingga menjadi miliknya.

Sedangkan aku? Menjadi penulis cerpen yang hidupnya tak tentu, belum punya rumah apalagi isteri. Aku sengaja tak melanjutkan kuliah, meski waktu itu ibu memaksaku untuk memilih perguruan tinggi di kotaku atau di daerah lain yang aku suka.

Nala, kekasihku sudah lama aku putuskan, bahkan sejak kelas I SMA, dengan alasan yang kukarang sendiri, dan membuatnya menangis berhari-hari. Bahkan setelah lulus SMA, dia masih mengharapkanku kembali, tapi tak pernah kuladeni.

Tulisan-tulisanku terus menghiasi media cetak. Tapi bukan tentang cinta atau semacamnya yang romantis, karena hampir semuanya muram karena tentang kepahitan dan kematian.

Satu yang menjadi ciri khas tulisanku, dan ini sering dibahas oleh para kritikus sastra, adalah adanya sosok yang menjadi korban baik itu pembunuhan atau penyiksaan secara fisik atau psikologis oleh tokoh yang kuciptakan sendiri.

Banyak wartawan penasaran atas hal itu, dan memintaku untuk menjelaskan, kenapa aku suka ‘menganiaya’ sosok yang sebenarnya lebih pantas menjadi pahlawan itu. Lelaki yang gagah dan sukses dalam bisnisnya. Biasanya, aku hanya tersenyum saja tanpa pernah menjelaskannya.

Bagiku, itu tak perlu. Biar itu jadi rahasiaku saja. Biar bisa kuciptakan sosok-sosok yang sama seperti itu. Sosok yang kubuat menderita dan ini memuaskanku. Rasanya semakin dia menderita, semakin dalam kepuasanku, seperti dalamnya kebencianku. Tak ubah panas matahari yang menyengat.

Sosok itu tidak hanya merenggut kedekatanku dengan ibu, tapi juga Nala kekasihku, yang begitu baik dan mencintaiku.

Sosok itu adalah lelaki yang di mobil abu-abu itu, di stasiun itu. Ayah Nala. ***

You must be logged in to post a comment.