natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jun
11th

Tradisi Sosio-Religi Cerpen Indonesia

Files under Cerpen, Naskah | Posted by Yo

S Prasetyo Utomo

Tradisi penciptaan cerpen Indonesia mengalami gelombang pasang surut yang panjang. Puncak-puncak eksperimentasi daya cipta telah diekspresikan para cerpenis kita. Akan tetapi, di antara para cerpenis yang melakukan eksperimentasi cara bertutur, bahasa, dan struktur narasi itu, adalah cerpen-cerpen yang bernapas sosio-religi dan tercatat dalam sejarah sastra?

Ada beberapa kitab yang monumental dalam sejarah sastra, yang ternyata memuat beberapa cerpen yang bernapas sosio-religi. Di antara banyak kitab kumpulan cerita pendek, kita dapat menyingkap tradisi penciptaan cerpen dengan obsesi sosio-religi pada Laut Biru Langit Biru (Ajib Rosidi), Horison Sastra Indonesia 2 Kitab Cerita Pendek (Taufiq Ismail dkk), Angkatan 2000 (Korrie Layun Rampan), dan kitab-kitab kumpulan cerpen lain. Tentu saja pemuatan cerpen-cerpen bernapas sosio- religi dalam kitab-kitab itu mempertimbangkan benar kadar literernya.

Perkembangan cerpen-cerpen bernapas sosio-religi memang tak bisa seutuhnya kita lihat dari beberapa kitab itu. Masih cukup banyak buku kumpulan cerpen yang mengekspresikan akar penciptaan cerpen bernapas sosio-religi, bahkan mencapai transendensi. Akan tetapi, tentu, kita tak mungkin melacak seluruh cerpen Indonesia yang bernapas sosio-religi dalam sebuah rangkuman pembicaraan yang ringkas. Banyak teks cerpen yang tercecer, luput dari perhatian, meski mungkin lebih bernilai secara literer.

Narasi sederhana

Dengan struktur narasi yang sederhana, cerpen ”Jadi Santri” karya Djamil Suherman menandai gairah penciptaan yang bersumber dari tradisi penying- kapan sosio-religi masyarakat kita. Cerpen ini beraliran realisme, berakar pada kehidup- an yang diakrabi pengarang- nya. Tak ada keinginan pengarang untuk melakukan dekonstruksi cara bertutur maupun struktur narasi. Karena itu, ekspresinya terhadap kekuatan tema menjadi tumpuan daya cipta pengarang. Cerpen ini benar-benar ”tipis-konflik”, bahkan hampir- hampir tanpa konflik.

Barulah kemudian A A Navis mengungkap kesadaran sosio- religi kita dengan cerpen ”Robohnya Surau Kami” secara mengejutkan. Terasa benar bahwa cerpen A A Navis ini telah membongkar kesadaran kita tentang keyakinan, keimanan, dan laku sosial, dengan struktur narasi beraliran realis yang dramatis. Pada cerpen ”Kadis” karya Mohamad Diponegoro, kekuatan sosio-religi juga menjadi obsesi yang membangkitkan katarsis, lantaran ambiguitas konflik: keduniawian atau religiusitas. Agaknya cerpen Mohamad Diponegoro ini dicipta untuk memberi kekuatan batin pada pembaca, dan penyelesaian yang lebih manis dari tragedi yang ditinggalkan A A Navis dalam ”Robohnya Surau Kami”.

Umar Kayam pun menulis cerpen-cerpen bernapas sosio- religi. Terutama cerpen-cerpen bertema Lebaran, dengan kelincahan narasi, lukisan suasana, dan akar tradisi yang kental. Cerpen-cerpen bernapas sosio- religi karya Umar Kayam memang tak banyak, tetapi telah memberi nuansa tematik yang lain di antara karya-karyanya sendiri yang ”tak bercerita”, seperti ”Istriku”, ”Madame Schlitz”, dan ”Sang Raksasa” sebagai dongeng kosmopolitan yang indah.

Pada cerpen Mahbub Junaidi, ”Tanah Mati”, misalnya, juga menampakkan kesuntukan obsesinya pada kancah sosio-religi, masih dengan tradisi realisme. Syahril Latif dengan cerpen ”Gank” dan ”Pengembara Sunyi” memiliki kelugasan faktualitas yang dikemas dalam kelincahan gaya bertuturnya yang menyerap empati pembaca.

Barulah kemudian Danarto dengan ”Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” mengembangkan fiksionalitas yang puitis, fantasi yang membawa kita pada kesadaran transendental. Cerpennya menjadi berbeda dengan teks-teks sosio-religi sastrawan lain, karena kekuatan imajinasinya dalam mengekspresikan kesadaran keilahian. Begitu pula cerpen ”Armageddon” (dalam Laut Biru Langit Biru), menampakkan kesadaran humanisme dalam bertutur antara ”kebatilan” dan ”keluhuran”. Ia menampakkan kesadaran bahasa yang puitis. Pada pergeseran cerpen yang lebih lanjut, Danarto mengukuhkan pergulatan sosio-religi. Ini tampak pada karyanya yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2002, ”Jejak Tanah”. Dalam kumpulan cerpennya Setangkai Melati di Sayap Jibril terasa benar kekuatan sosio-religi yang dipancarkan dari teks-teks sastra di dalamnya.

Cerpen ”Batu-batu Setan” karya M Fudoli Zaini menyuarakan penyingkapan kesadaran transendental yang mengatasi perbedaan ras, politik, dan kepentingan golongan. Dalam cerpennya, ia hendak menyampaikan pesan bahwa religiusitas mempersatukan manusia dari kepentingan yang berbenturan. Kekalahan terhadap nafsu (setan) hanya akan menghancurkan manusia. Cerpen ini sarat dengan pesan sosio-religi, meski dimaknai melalui penafsiran simbol-simbol.

Dua perempuan pengarang Indonesia yang gencar terlibat dengan napas sosio-religi datang dari Angkatan 2000, yaitu Abidah El Khalieqy (”Jalan ke Sorga”) dan Helvy Tiana Rosa (”Jaring-jaring Merah”). Pada cerpen Helvy Tiana Rosa, keterlibatan sosio-religi telah berkembang dalam fiksionalitas yang membawa pergulatan hidup manusia dalam melawan ketertindasan nasib dan cabikan luka sejarah.

Dari generasi yang disebut Korrie Layun Rampan sebagai Angkatan 2000, muncul pula sastrawan yang bergulat dengan spiritualitas yang terobsesi pula menulis cerpen bernapas sosio-religi. ”Doa yang Mengancam” karya Jujur Prananto (dalam kumpulan Jejak Tanah) merupakan cerpen bernapas sosio-religi yang sungguh memikat, memberikan kesadaran religiusitas dengan cara bertutur yang bersahaja.

Meledak-ledak

Telah cukup lama tradisi penulisan cerpen dengan napas sosio-religi dicipta dalam sejarah sastra kita, meski tak menampakkan kegairahan yang meledak-ledak. Pada mulanya cerpen-cerpen yang dicipta dengan napas sosio-religi itu belum lagi menampakkan kekuatan konflik yang mendasar dan struktur narasi yang memikat. Akan tetapi, pada perkembangannya kemudian, cerpen-cerpen yang ditulis dengan napas sosio-religi itu menampakkan pergulatan konflik yang mendalam, dan muncul suatu pandangan baru, meski kontroversial, sebagaimana A A Navis ketika menulis ”Robohnya Surau Kami”.

Pada cerpen-cerpen Danarto kancah perhatian sosio-religi terus-menerus menjadi kesadaran obsesinya. Kehadiran cerpen- cerpen dengan napas sosio-religi semacam ini memang bisa memberi warna lain bagi eksplorasi tema cerpen Indonesia mutakhir. Eksplorasi tema-tema cerpen Indonesia mutakhir yang mengarah pada ”keterbukaan seksualitas”—seperti ditulis Djenar Maesa Ayu, misalnya—menemukan antitesisnya pada cerpen-cerpen Danarto. Cerpen- cerpen yang ditulis dengan obsesi sosio-religi ini menjadi penawar bagi keliaran eksplorasi tema dan pandangan sastrawan yang terlalu profan.

Yang perlu dilakukan para cerpenis yang melakukan penjelajahan tema sosio-religi adalah secara terus-menerus mencari cara bertutur yang mendekonstruksi struktur narasi sebelumnya. Pembongkaran struktur cerpen, pencarian stilistika, dan pertaruhan estetika menjadi bagian daya cipta. Bila ia berhenti melakukan dekonstruksi struktur narasinya sendiri, yang bakal mengalir sekadar pengulangan-pengulangan daya cipta.

Kita beruntung memiliki beberapa cerpenis yang terus-menerus melakukan eksplorasi tema dan cara bertutur, dan pada puncak pencariannya, mencipta cerpen bernapas sosio-religi. Cerpen-cerpen itu dicipta dengan mempertaruhkan estetika sebagai puncak empati pembaca. Hadir sebagai religiusitas cerpenis yang paling hakiki, serupa Chairil Anwar ”melenyapkan diri” dalam puisi ”Doa”. Ada intensitas yang total—dan bukan kepura-puraan daya cipta—untuk mencipta karya bernapas sosio-religi, dengan struktur narasi, cara bertutur dan estetika yang memperbarui tradisi penciptaan cerpen.

S Prasetyo Utomo, cerpenis dan pemerhati sastra, tinggal di Semarang.
Sumber : Kompas, 06 November 2005

Post a Comment