perjalanan kata
adalah air mata
perjalanan tawa
adalah langkah
lalu sajak mengetuk
dan pintu terbuka
bagi kita
sore,18juli07
perjalanan kata
adalah air mata
perjalanan tawa
adalah langkah
lalu sajak mengetuk
dan pintu terbuka
bagi kita
sore,18juli07
meski malam benamkan awan
guratan itu tetap terbaca
dari kacamata hati
yang terus terguyur rindu kekasih
‘akan kita tanam mawar
di lekuk bukit dan belukar
biar embun terus mampir
menyambut matahari pagi
yang hinggap di jendela kita’
lelaki dengan pendar bianglala
memercikkan embun di matanya
sambil memeluk kata-kata
dari wanitanya
malam,29juli07
sisa embun masih ada
menjadi titik koma
pada kata di baris
yang baru diselesaikannya
tatapan dari telaga
mewarnai seorang lelaki
yang menggurat rindu
dengan tinta di sajaknya
akan dititipkannya pada pagi
sajak buat kekasih
yang memberi embun
pada degup hari-harinya
jelang 29juli07
membaca sebuah sajak
seorang penyair
cuma bisa terhenyak
diejanya kata dan kata
seperti seorang bocah
menghitung huruf
yang baru ditemukannya
di hamparan awan
sajak yang ingin diraupnya
hanya bisa ditatap
dengan kagum yang senyap
jelang 29juli07
Agni Rahadyanti dan Putu fajar arcana
Sebelum baris terakhir, pergilah lebih jauh dari mimpi//Dengan remang topeng tikus// dan samaran muram mantel koyak// lintasi belukar malam, nyeri batuk dan sengat maut!//Kita kurcaci diburu kemalaman. Tak ada lubang// Kelinci. Tak ada tempat aman lagi untuk sembunyi….
Penggalan puisi berjudul Sebelum Baris Terakhir ini ibarat penegasan sikap hidup yang sejak [...]
dari dua belas purnama
tercipta sajak dan cerita
terselip di dedaunan
air menjaganya
dengan air kehidupan
kadang gemercik hujan
membasahi kata-kata
hingga matahari menjadikannya
sekering daun yang gugur
awan bertutur dengan lembut
tentang perjalanan sajak
dengan dingin mencipta gigil
dan gelombang menghentak
masih banyak purnama lagi
untuk ukir cerita baru
bagi cinta yang biru
di ujung merahnya senja
yang merajut rindunya
4us,24juni07
kadang antara kata dan bait
berdiam diri dalam sajak
kata berseru dalam diamnya bait
bait menjawab dalam bisunya kata
jika sajak tak bisa membuat
keduanya saling terkait
alam yang akan membantunya
atau dalam rekah kelopak bunga
kadang ada ingin terbawa ingin
terbawa ke lembah yang dingin
sepoinya melenakan dua sajak
yang bertatapan tanpa gigil
: cinta menghangatkan jiwa
hingga tak tersisa kata
untuk melukiskannya
pagi, 01juli07
Karya F.Dewi Ria Utari
(Cerpen Pilihan Kompas 20052-06)
Narpati memasuki Rumah Hujan pertama kali saat usianya lima tahun. Saat itu hari kelima musim kemarau. Ibunya membangunkannya tepat di kokok pertama ayam jago. Ia tak mandi saat itu. Udara kering masih terlalu dingin. Ibunya hanya membilas wajahnya dengan air di bak yang tinggal setengah. Ayahnya pasti lupa menimba [...]
Kebesaran Sutardji Calzoum Bachri (SCB) bukan karena puisinya saja, tapi juga diperheboh oleh kelakarnya. Tardji, demikian sapaan akrab penyair asal Riau kelahiran Rengat 1941 ini, memang dikenal piawai berkelakar, bahkan berolok-olok dan akalan-akalan saat berdebat. Orang yang tahu beberapa kelakar di seputar Tardji adalah penyair Wan Anwar.
Wan Anwar banyak tahu ihwal itu karena pernah sama-sama [...]
Kata-kata harus menciptakan makna. Kata tidak sekadar membawa pesan.
Penyair sekaligus cerpenis bukan hal aneh dalam sastra Indonesia modern, walaupun
tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerita pendek. Sutardji Calzoum Bachri
dikenal sebagai penyair, dia juga menulis cerita pendek.
Nama kepenyairan Sutardji lebih besar daripada cerpenis. Bahkan – dalam bahasa
ekstremnya – nama besarnya sebagai penyair telah telanjur [...]