ujung belati kata-katamu
memerihkan hingga darah
tak sempat lagi membasahi tanahku
menjadi butiran huruf-huruf
sekejap saja bertaburan bait
dari masa lalu yang mengucur
tak henti mengguyur tiap sudut
hingga ruangku penuh dengan sakit
bila saja bisa dikupas bait demi bait
hari kemarin tetap saja jadi lembaran
yang cuma bisa dibalik halamannya
kadang dengan tulisan yang tak terbaca
kusimpan saja torehan luka kata
sambil mencoba mengurai
berapa untai luka yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
berbulan, bertahun, berwindu
kata-kata akan diam membisu
senyap saja yang aku tahu
seperti itukah inginmu?
kata yang entah apa artinya
mampir saat baru kutatap senja
merahnya mengucurkan tetesan
yang juga entah apa perihnya
lalu kata-kata apa
dapat tergores dalam rindu
yang menikam dengan ramah
hingga baitpun tak bisa tercipta
siang, 13agt07
baca selengkapnya |
No Comments »
bagi Kamirah
melawan bedil dengan rambu runcing
sudah jadi bagian sejarah yang kadang tak penting
bukankah begitu, cucuku?
handphone dan internet jadi penjajah baru
yang kutatap dengan tidak mengerti
namun ketika aku harus anteri
sekedar dua tiga liter minyak tanah
aku semakin tidak mengerti lagi
merdeka apa yang aku teriakkan
sambil memangku teman yang gugur
dengan perut tertusuk sangkur
kapan kau akan berkunjung lagi
ingin aku tahu apa [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
kado untuk bapak
semestinya tak pantas secangkir kopi saja
kubawa dengan nampan tua
untuk menemanimu dan sebungkus rokok
yang tinggal separuh di meja
biar bosan dengan ceritamu yg dulu
namun dalam usiaku yang tergusur waktu
jejakmu tetap jadi kisah indah
dan pasti kuceritakan pula untuk anakku
yang akan menyapa dunia dari lelakiku
kubawakan juga sepiring puisi untukmu
merekalah yang menjagaku tetap tabah
karena hanya kata-kata yang bersetia [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
SEBUAH ajang yang merambah jaringannya hingga ke tingkat internasional tentu akan menjadi penting bagi publik sebuah negeri. Sebagai pembelajaran, tukar-menukar pengalaman, perigi pendidikan, dan (atau) sekadar forum unjuk kebolehan, pada efek tertentu akan memberi motivasi kuat bagi publik negeri untuk memacu dirinya dalam persaingan di tingkat internasional. Begitu pun semestinya Utan Kayu Literary Bienale 2007 [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
serupa apa
luka yang tercacah
di sekujur tubuh
seyatan yang melintang
dalam senyum entah
sedang mata teteskan
air dan darah
serupa nganga jiwa
yang terobek pisau
kata-kata malam
terucapa begitu dalam
tinggalkan lubah tanya
bahkan kidung itu
tak mampu mengelusnya
luka bertambah luka
dalam bait puisi yang layu
tak sempat termangu
serupa apa ingin
dari desir angin
malam ini dan esok?
tolmlm, 21Agt07
baca selengkapnya |
No Comments »
Mewarisi kekayaan imajinasi dam kelenturan bertutur kesusastraan China klasik, dunia politik modern memacunya berkreasi.
Arie MP Tamba
tamba@jurnas.com
Gao Xingjian, Novelis China, penerjemah, penggiat teater, sutradara, kritikus dan aktor, ini memenangkan Nobel Sastra pada 2000. Teaternya memadukan berbagai
unsur drama topeng klasik China dengan pola teater Barat modern yang banyak dipengaruhi Artaud, Brecht dan Beckett. Kariernya sebagai penulis mengalami [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
jika coba cari jejakku
ihatlah pada mata
yang tak cuma berlinang
dengan air atau darah
karena hanya ada titik beku
yang membusuk oleh waktu
saat pagi menyapa kisi hati
ada mata menatap perih
jangankan kata atau bait
hurufpun diam dalam sunyi
tak beda senja menyapa
merahnya teteskan luka
dengan sajak tak berbaca
tenggelam dalam malam
cobalah koyak saja jiwa
pasti kau temukan juga
daging yang terobek
darah yang tak lagi darah
merah yang [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
seretak cermin wajah
luka itu juga yang menganga
kata-kata berhamburan
kata-kata terkoyak
tanpa bisik, tanpa teriak
bait itu sudah mati
disantap sepi
sajak tak lagi ada
telah diterkam kelu
yang membatu
pagi, 20agt07
baca selengkapnya |
No Comments »
tapak kecil yang tertutup airmata waktu
perlahan tersapu angin kata-kata
belum juga kering luka yang terbebat
saat bayangmu makin mendekat
seberapa besar kini tapakmu
bisakah menutupi segala perih
yang menjelma dari hari ke hari
mengantar lamunan penyair
menjadi bait-bait getir
jejakmu mengusik pagi
terus merambat pada siang
mengangakan luka malam
yang makin kelam
tapi telah kularungkan segala bimbang
untuk menebus waktu yang mengambang
berwindu mengunyah rindu
hingga sajak-sajakku turut beku
siang, 16Agt07
baca selengkapnya |
No Comments »