sendiri yang terbaring pada malam dan pagi
bukanlah racun yang kuberi
karena mengarungi waktu
bukanlah nanti yang tak bertepi
siang,28sept07
sendiri yang terbaring pada malam dan pagi
bukanlah racun yang kuberi
karena mengarungi waktu
bukanlah nanti yang tak bertepi
siang,28sept07
hati yang terbelah
adalah sungai yang tersobek dua
hati dengan dua sisi
adalah sunyi tanpa tepi
sungai yang menjulur ke utara
menikam senja tanpa kata
sungai yang menyapa selatan
menggumamkan sajak perlahan
hati ini menghitam tanpa sinar
begitu diam tanpa dasar
siang,27sept07
tetes pucuk kamboja di sisimu
seperti rahasia langit yang dulu
apakah pergimu ini pertanda
tentang hidup yang sederhana
mampir di warung kopi
lalu beranjak pergi
masihkah kau suka sajakku
tentang tetesan perih?
aku duduk di sisi ranjangmu
rerumputan liar mulai tumbuh
yang kusiram dengan tetesan
bening dari mata renta
tapi kau diam saja
sore, 25sept07
kau tak perlu mencari tahu
apa yang aku sembunyikan
karena tak ada ladang rahasia
dalam jiwa yang cuma berisi harapan
jejak-jejak perjalanan tetap ada
yang bertambah saat kita bersama
meniti sore yang enggan pergi
kau tak perlu bertanya lagi
apakah ada puisi lain di hati
karena semua kata yang jadi bait
bukanlah penghuni liar
seperti sangsimu yang kadang keluar
nanti bisa kau buka dengan mudah
pintu hati ini [...]
di ruang tengah tempat kita biasa bercakap
sering kutemui kursi dan suara senyap
meski suara televisi tak henti
menyemburkan kalimat yang menguap
kemana pergi suara yang dulu mengisi rindu?
lama aku menatap tembok yang kosong
ada foto terpasang di situ
juga lukisan yang masih itu juga
tapi cuma kusamnya tembok yang ada
tanganku tak bisa lagi menggores senja disitu
lalu aku duduk di sampingmu
membuka kumpulan [...]
Resensi Buku:
Dalam Dekapan Takdir Sunyi
Oleh: Hasan Aspahani
Judul Buku : Impian Usai
Pengarang : Wayan Sunarta
Penerbit : Kubu Sastra, Denpasar, Agustus 2007
Tebal : 131 halaman
INILAH buku penting seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta. Buku ini berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima [...]
titik-titik tidak sekedar satu
tapi telah berpuluh di peta itu
yang kita buat dari timbunan rindu
suka duka menjadi kata dan bait
seiring waktu yang kadang menyakitkan
kita baru usai menggores satu titik lagi
lebih tebal garisnya yang tergurat
hingga terlihat kemana langkah nanti
akan menyeret kaki dan hati
dan di rambut indahmu
begitu jelas peta itu kubaca
hingga membisu semua kata
yang baru sempat kutata
siang,04Sept07
beribu wajah puisi di jalanan
dengan bait dipoles lipstik
kadang dengan warna ungu
membuat penyair jadi termangu
‘tak satupun punya genangan senja
di mata yang membuatku luruh
dengan lelah yang terbasuh’
kini aku mengerti kenapa
kamulah puisi itu sendiri
seperti serat senja
yang mengurat pada kata
pagi,25sept07
sementara aku cuma termangu
mendengar tawamu beriring ombak
dengan sajakku yang menggelegak
sementara aku cuma menunggu saja
membuka lembar halaman hati
apakah ada lupa darimu
hingga tak sempat memberi sapa
sore,24sept07
sering kutulis kalimat
sambil menatap bulu-bulu waktu
yang beterbangan ke segala penjuru
sedang diriku tetap dalam pusaran ragu
sering tertancap selembar bulu waktu
saat malam tanpa binar bintang
dengan wajah-wajah membayang
menatap hingga getar terentang
dalam ruang sepi aku disergap perih
seperti musim yang enggan berganti
dan bunga tumbuh dengan kelopaknya
yang tertetes embun di helai daunnya
kutemukan juga akhirnya bulu-bulu waktu
yang beterbangan dalam nanti dan rindu
di [...]