lelaki dengan rindu yang bergetar memandangi ujung jari yang menua yang dibiarkannya terjuntai dengan letih yang rebah di lantai tapi dibiarkannya semua lelah karena perjalanan itu biasa menua karena usia tak bisa dicegah dan dewasa adalah perkara jiwa lelaki dengan nanar yang bergetar inginkan rintik basahi wajahnya seperti dulu saat dilihatnya girangnya bunga ketika embun [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
tanyanya kadang seperti remaja saja tentang sedapnya bunga yang gugur lampu jalanan yang bersetubuh dengan hujan juga pahitnya kecupan kehidupan tapi kali ini ia makin manja dalam tanya ‘apakah sayangmu seperti putik mawar di tengah kelopak usai dicumbu matahari?’ lelaki menatap dengan membisu dengan senyum langit yang biru lalu tanya itu terhenti saat lelakinya mengulurkan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
disalahkannya angin yang membawa kabar tapi kemudian dia tersadar anggapnya yang telah memberi sesat karena mata senja tetap melembut meski kata-kata menyudut ia ingat akan rindu panjang dan cemas yang merambati jari-jari bunga hingga malam turut tersirap ketika tatapan mata itu mengendap hingga lantak semua lelah dipeluknya angin dengan seringai malu dititipkannya prosa dan sajak [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
baginya sebuah bola dengan warna awan tidak hanya dipukul melewati telaga atau jatuh di rumput dengan perlahan lebih dari itu artinya, kawan sebuah tongkat yang diambilnya dari sudut digenggamnya seperti senja segera tiba dipandang ujungnya dengan sesak jiwa karena di situ ada masa lalu yang menatap menanti dipukulkan dengan duka mengendap baginya sebuah pukulan adalah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
ia tahu akan masa lampau tak hanya angkuh tapi juga bisa keji mampu memberinya penjara lebih dari terali dengan dinding dingin yang membuat gigil hingga air mata yang bisa dikirimkannya meski hanya secuil seperti kemarin : masa lampau dengan kelopaknya yang telah mengering wanginya jadi beku tanpa udara ada hening yang tersimpul dari kata hati [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Penyair Inggit Putria Marga — penerima Anugrah Kebudayaan 2005 dari Menteri Pariwisata dan Kebudayaan — melenggang ke panggung. Sambil membaca secarik kertas di tangannya, kata-kata puitis pun meluncur dari bibirnya: Beri aku sajakmu Matahari yang belum pernah terbit di langit lain Kicau yang belum pernah berdesau di pohon lain Tubuh yang belum pernah memeram sukma [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
ia ingin ke pelabuhan seberang menikmati senja yang tenggelam sambil bertanya apakah matahari juga turut tenggelam bersama bulan yang terkurung begitu tipis melengkung sering ditanyanya pada kepulan asap rokoknya benarkah matahari mengitari bumi lalu bercumbu hingga lahir bunga membakar hati di gubuk-gubuk yang kumuh dengan derita renta ia ingin menyeberang menanti kekasihnya yang tenggelam bersama [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
ada yang tahu riwayat hidupmu mungkin diam-diam dia sedang menuliskannya menduga-duga apakah sangkakala diam saja ketika tangismu membelah dunia ketika ada yang menelikung tanganmu hingga memar ada kata-kata dibisikkan menjelma gubuk terbakar panasnya menyengat hingga melepuh kulitmu lalu kau hanya tersenyum saja membisu ada yang tahu perjalananmu bertemu kunang sepi tak menjadi gelap saat pendarnya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sambil memasang wajah prihatin seorang lelaki bercerita ada teman baru operasi jantung dan ginjal ‘lusa aku akan menengok, sepulang kantor,’ katanya sambil menggerus camilan sang isteri menjawab “bukankah perutmu belakangan sering kumat ketika banyak sajak menggeliat?” lelaki itu beranjak dari duduknya sambil memungut sajak yang lupa dikantonginya takut dijadikan camilan isterinya yang juga ketakutan suaminya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
masih ada satu tanya lagi yang menggayut tapi masih ditahannya meski kening berkerut melati telah mengering dengan wangi menguap saat tanya menjelma jawab dipungutnya dengan hati sembab untaian dusta yang memucat siang, 25okt07
baca selengkapnya |
No Comments »