biasanya malam sering menggerutu
tapi kali ini diam saja ketika ia berjalan ke utara
saat disapanya malam yang cuma diam
hanya ada sunyi seperti hati sendiri
ditemuinya suara lain yang mengikutinya
yang tak berhenti meski ia coba mengakali:
berhenti juga kaki, suara itu terus menggerogoti
daunpun tak berbisik, tetapi ia tetap terusik
suara itu dan sunyi lalu bersahutan
ia teruskan perjalanan ke selatan
hingga di pelataran gereja yang tak berubah
pohon yang masih itu juga dengan rimbunnya
tempat dulu ia biasa memanjat saat misa
dan mendapat jeweran bunda karena robek bajunya
selamat malam, sapanya pada gerbang tua
ia ingat teman-teman bermainnya yang pasti serupa
tua oleh waktu, sedang waktu tak mau tahu
suara itu terus mengikutinya
hingga kembali marahnya merobek malam
dengan jawaban dari sunyi
yang membuatnya teringat akan masa silam
dan air mata yang lama tak diberikannya pada alam
di tengah luka yang makin terajam
siang, 24Okt07
You must be logged in to post a comment.