lelaki dengan rindu yang bergetar
memandangi ujung jari yang menua
yang dibiarkannya terjuntai
dengan letih yang rebah di lantai
tapi dibiarkannya semua
lelah karena perjalanan itu biasa
menua karena usia tak bisa dicegah
dan dewasa adalah perkara jiwa
lelaki dengan nanar yang bergetar
inginkan rintik basahi wajahnya
seperti dulu saat dilihatnya girangnya bunga
ketika embun tak henti mengucuri kelopaknya
bergelombang awan menatapnya
mengirimkan kabar tentang embun yang rimbun
ada di seberang sana
pada tatapan yang menanti
perlahan ia melangkah
dibukanya pintu yang sunyi tanpa hari
remang-remang dilihatnya jalanan basah
tersapu sudah muramnya senyum
sore, 30 Okt 07
You must be logged in to post a comment.