natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Oct
24th

Launching Kumpulan Puisi “Karna, Ksatria di Jalan Panah”

tertoreh sebagai JejakBerita | Leave a Comment

Teman-teman,
Dengan ini saya mengundang Anda untuk menghadiri acara launching buku kumpulan puisi “Karna, Ksatria di Jalan Panah” yang diselenggarakn pada :
Hari/tanggal : Jumat, 9 November 2007 pukul 19.00 – selesai
[...]

Oct
24th

Di Sebuah Kota

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

biasanya malam sering menggerutu
tapi kali ini diam saja ketika ia berjalan ke utara
saat disapanya malam yang cuma diam
hanya ada sunyi seperti hati sendiri
ditemuinya suara lain yang mengikutinya
yang tak berhenti meski ia coba mengakali:
berhenti juga kaki, suara itu terus menggerogoti
daunpun tak berbisik, tetapi ia tetap terusik
suara itu dan sunyi lalu bersahutan
ia teruskan perjalanan ke selatan
hingga di [...]

Oct
24th

Dinantinya Hujan

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

bahkan sering ia ingin sekali menangis
sambil menahan kantuk yang masih menyergap
meski kering yang berbulan gerahka jiwanya
tapi ia malah tak inginkan hujan bergegas tiba
baginya berbulan ini hujan yang lain diterimanya
yang sering menampar wajahnya
kadang tanpa dia tahu dimana salah
tahu-tahu melintang banyak luka
tapi entah kenapa pagi ini diharapkannya hujan turun
karena di balik tamparan itu kadang dinikmatinya
semilir di wajahnya [...]

Oct
23rd

Aku Ingin Mengatakan

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

aku ingin mengatakan salah padamu meski kau tak salah
karena masih ada ragu yang menyeruak dalam rindu
saat anyelir cinta kuselipkan di ikal rambutmu
lalu kau bertanya ‘apakah ini rayu atau sungguh?’
aku ingin serukan jujur dalam mencintai
meski aku sering juga marah dan ingin memaki
karena saat bersamamu tak hanya terang yang kudaki
hingga kegelapan muram tak lagi kutemui
tapi aku jadi [...]

Oct
23rd

Saat Menanti

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

bila kau anggap hanya ruang hampa yang kau nanti, dik
pastilah kau salah, karena tak ada yang hampa dalam penantian
karena harapan adalah pucuk daun yang terus berganti
saat mengering cokelat dia akan terus bersenggama dengan matahari
begitu juga saat kau menanti
telah kau kunyah pedas kehidupan setelah hadirku padamu
rindu yang cuma kau baca dalam buku sering mampir
seperti juga bayangmu [...]

Oct
23rd

Makan Malam

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

denting sendok dan piring
di malam kering
semangkok lelah
diam saja di meja
tinggal tiga suap perih
bercampur malam sunyi
malam, 22Okt07

Oct
22nd

Di Pagi Menemuimu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

serbuk fajar yang jatuh
menetesi dadaku yang ringkih
mematuk kesadaranku akan leith
menyatu dengan dahan kering
di pelataran rumahmu
tapi kau tak di rumah itu
ada di sana, begitu jauh
sudah berulang kuseru dunia
tetap saja kau tak tiba
lalu kilat mengerjap dari mata
tiada siapa di sana
seperti dulu saat pergimu
dan sunyiku memeluk sunyimu
sore, 22Okt07

Oct
22nd

Delapan Belas Tahun Sudah

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

berapa puluh orang yang tak mengerti
bahwa waktu juga bisa berhenti
ketika sapa berbusa penuh benci
salah menjadi cemeti tak henti
mimpi yang terangkai dalam kata
dianggap sekedar busa saja
dalam rangkaian warna indah
lalu terikat pita kuning jingga
berapa puluh orang yang tak mengerti
sambil menelan malam dan kopi pahit
perjalanan hati hanya tereja dalam kata
di pojokan jalan yang sudah berubah
dan pelukis tua melukis [...]

Oct
22nd

Koreksi Untuk Saut Situmorang

tertoreh sebagai Naskah, Sastra - Budaya | Leave a Comment

Oleh Mohamad Guntur Romli.
Kurator TUK, Jakarta.
Makalah Saut Situmorang, “Politik Kanonisasi Sastra”, yang ditulisnya untuk Kongres Cerpen V di Banjarmasin, menjelang akhir Oktober 2007 ini, membidik sebuah sasaran utama: TUK. Bagi Saut, TUK adalah biang keladi “politik kanonisasi sastra” yang tidak sehat yang berlangsung sekarang.
Tetapi Saut tak mengerti apa sebenarnya TUK. Dia mengatakan, TUK adalah sebuah [...]

Oct
19th

Daun Berbisik Menawar Mimpi

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

lalu kau tahu, wanita
bulu-bulu waktu mengambang
seperti segala perlambang
yang telah kita jejakkan
di halaman dan pematang
berapa kali kuhitung waktu
kau hanya melempar tawa geli
‘biarkan daun berbisik menawar mimpi’ katamu
aku turut tertawa sambil menendang sepi
di tepian oktober ini
kucoba merayu hari biar mengerti
rindu ini ingin cepat bertandang
menggamit rindumu yang rindang
sore, 19Okt07