natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jan
28th

Bukan Lirik Konvensional

Files under Naskah, PUISI | Posted by blue4gie

OASE BUDAYA

Berakar dari puisi, musikalisasi puisi tak seharusnya dijadikan pembanding bagi karya itu sendiri. Dua-duanya, dibaca maupun dilagukan dengan gubahan, sama-sama sulit. Terutama jika dibawakan dengan tujuan supaya bisa lebih menyentuh khalayak luas.

Sulit karena menggubah sebuah puisi tidak sama dengan membuat lirik dalam musik konvensional. Tidak sesederhana menyesuaikan lirik dengan notasi yang sudah ada. Sulit karena imajinasi musiknya hanya akan keluar jika senimannya dapat memahami puisi.

Salah-salah senimannya malah membawakan dengan tempo atau irama yang kurang sinkron dengan spirit puisinya. Biar bagaimanapun, kata penyair Tan Lio Ie, “Musikalisasi tidak boleh menjadikan puisi subordinat.”

Baginya, bukanlah masalah apakah definisi musikalisasi itu. Tapi nampaknya bukan membaca puisi dengan ilustrasi atau dengan latar musik. Yang seperti itu sama saja memberi pengertian bahwa puisi itu tidak musikal sehingga harus dimusikalisasi. Sesungguhnya, tukas Tan, puisi yang bagus itu sudah musikal. “Jadi dalam musikalisasi, saya menangkap atau menerjemahkan musikalitas suatu puisi. Dan itu cakupannya banyak, ya nuansanya, ya pesannya.”

Memang benar bahwa setelah dilemparkan ke masyarakat, puisi sekiranya bebas untuk ditafsirkan. Karenanya penafsiran itu tidak untuk diperdebatkan. Akan tetapi, menurut pimpinan Sanggar Matahari Freddy Arsi, akan lebih baik jika mengenal penyairnya. Agar bisa lebih menjiwai puisinya. Karena kebebasan menggubah puisi sebenarnya adalah kebebasan yang terikat. Misalnya oleh penghayatan.

“Tahap pertama kita harus membaca puisinya. Lalu menghayatinya. Kalau sudah bisa menghayatinya barus bisa membaca puisi dengan baik. Harus bisa membaca dengan baik dulu baru bisa menangkap kesan musik. Setelah itu adalah tahap mengimajinasikan musik apa yang akan disajikan,” ujar ayah dari enam orang anak tergabung dalam kelompok Sanggar Matahari yang rajin memenangkan festival musikalisasi puisi tersebut.

Sama dengan yang dilalui sang seniman Bali, setelah membaca, dirinya jadi tahu apa yang ditawarkan oleh puisinya. Ritme macam apa. Tempo seperti apa. Dan ini bukan catchy. Dalam sebuah diskusi, ia pernah menyampaikan tentang penilaiannya atas musikalisasi puisi Emha Ainun Najib, Perahu Retak, yang dibawakan Franky Sahilatua. “Siapa yang tidak suka lagu itu. Tapi pada bagian-bagian tertentu, nyanyian Franky tidak menggambarkan perahu yang akan karam. “perahu negeriku, perahu bangsaku jangan retak dindingmu” dinyanyikan dengan irama yang sepertinya tenang-tenang saja.”

Ini bisa jadi yang membedakan musikalisasi dengan musik konvensional. Franky, buat Tan, mungkin pemusik yang bagus, tapi bukan pemusikalisasi yang bagus, karena terpenjara selera pribadi. Tapi mungkin akan lain jadinya kalau ia memilih puisi yang sesuai dengan selera bermain musiknya. Jadi memilah penyair, sekaligus karyanya, bisa jadi faktor yang menentukan kesuksesan gubahan puisi menjadi musikalisasi.

Dalam aturan ini, pemain musik apa pun yang mengiringi musikalisasi tersebut, harus membaca puisinya. Karena faktor pemahaman berpengaruh pada komposisi. “Jika sedang mengungkapkan kerinduan akan Tuhan, misalnya, diiringi suara seruling. Lalu tiba-tiba saja ada bagian di mana vokal meninggi. Tentu harus ada pengiringnya yang cocok. Penafsiran dan komposisi musikal ini jadi nilai tambah saat festival. Ketidakselarasan iringan musik saat puisi dinyanyikan dan kemudian dibacakan bisa bikin kaget.”

Menurut Tan, yang akrab dipanggil Yoki, tentang keselarasan ini menyangkut manajemen bunyi. Musik itu sendiri adalah manajemen bunyi. Dan bunyi melekat pada kata yang membentuk puisi. “Jadi sebenarnya kita me-manage bunyi. Dan tempo sangat berpengaruh. Dalam musikalisasi, bahkan musik, adalah lazim untuk mengubah tempo.”

Makanya, ia pun mengaku tak selalu kronologis. Tapi tetap lebih ketat daripada musik konvensional. Karena tahap mencocokkannya tidak sampai pada mengubah lirik.

“Memang jadinya tidak ada standar. Di musik pop, reffrain sudah ada polanya. Kalau musikalisasi, reffrain bisa di mana saja. Puisi Sutardji, “tanah airmata tanah tumpah dukaku, airmata tanah air kami” bisa langsung jadi reffrain,” ujar Freddy yang kini telah bermitra dengan Departemen Pendidikan Nasional terkait Bengkel Sastra, Pusat Bahasa.

Alat musiknya pun bebas. Semua yang mengundang bunyi. Bambu, botol, bisa mengiringi. Jadi musikalisasi baik juga jadi sarana penunjang ide dan kreativitas. Dalam bentuk rock, seperti sajak Panggung Sandiwara-nya Taufik Ismail yang dibawakan God Bless, bentuk blues, atau balada, bisa saja. Asal itu tadi, mengulang pernyataan Tan, “jangan menjadikan puisi subordinat.”

Didasari pemahaman ini, Tan membuat pilihannya sendiri. Ia menggubah dengan minimalis agar bisa dibawakan siapa saja. Misalnya, diiringi dengan gitar saja, atau dengan biola. Sendiri ataupun kelompok, nantinya bisa mengembangkannya. Tujuannya, agar lebih attractive buat audience dan pesannya bisa sampai ke mereka.

“Saya beberapa kali jam session dengan pemusik jazz atau blues. Saya minta yang sederhana dari mereka. Lalu ketika mood-nya kena ya saya nyanyikan,” tukas pria yang menggubah sajak Umbu dan sajaknya sendiri ini ke dalam bentuk musikalisasi.

Sjifa Amori


Sumber : Jurnal Nasional, 18 Nov 2007

You must be logged in to post a comment.