Gambaran penyair yang acapkali tampak lusuh dan urakan tak tampak pada sosok Johannes Sugianto. Ia terlihat necis kendati kenecisannya itu tak serta-merta menyembunyikan gaya kepenyairannya yang kerap ceplas-ceplos dalam bicara. “Mungkin karena saya Arema (Arek Malang), kali ya,†ujarnya. Penyair cyber yang bekerja sebagai staf di Bogasari itu kini mengelola sebuah situs yang memuat puisi-puisinya, www.blue4gie.com. Ayah dari empat putri itu menuturkan pemikirannya tentang sastra dan pentingnya jaringan internet di dunia kepenyairan era teknologi informasi ini kepada Jurnal Nasional.
Anda dijuluki sebagai penyair cyber, bagaimana pendapat Anda?
Sebetulnya begini, aku gak ngerti ada sastra cyber apa nggak. Tapi soal tulis menulis aku sudah lama memulai, tapi memang semula bukan bidang sastra, ya. Dulu aku ini wartawan media cetak, paling tidak selama tujuh tahun aku jadi wartawan. Kebanyakan backgroundku soal-soal berita politik. Tidak kepikiran suatu saat menulis puisi. Kalo nulis puisi baru saja dimulai tahun lalu. Semua berawal dari pertanyaan bagaimana sih nulis puisi? Susah apa tidak?
Bagaimana ceritanya bisa ikut nimbrung nulis puisi di jagat dunia maya?
Persoalan yang utama bagiku itu kan soal meluangkan waktu. Sebagai orang kantoran yang jam kerjanya teratur dan padat, waktu untuk ngumpul-ngumpul sesama penyair itu kan sedikit, jadi sedikit sekali waktu untuk kumpul-kumpul sesama penyair kecuali waktu pentas. Lantas aku dengar ada milis-milis sastra di internet. Sejak itu aku mulai ikutan. Lama-lama banyak teman, dan aku baru tahu kalau ternyata di sana juga banyak pemulanya. Awalnya ya suka-suka aja, istilah anak muda sekarang ya puisi nyampah. Dari sana mulai ada interaksi dan ada semacam ujianlah dalam soal tulis menulis. Dari sana juga aku mulai belajar puisi dan aku usahakan ikut dalam acara-acara sastra.
Kenapa Anda memilih menulis puisi? Bukan novel atau cerpen?
Pertanyaan itu susah-susah gampang. Itu sama aja nanya kenapa saya milih cewek ini, bukan itu. Tapi ada tantangan tersediri di dalam menulis puisi. Menulis puisi itu soal bagaimana menyampaikan sesuatu dalam kalimat yang pendek tapi maknanya tetap dalam. Berbeda dengan cerpen atau tulisan lainnya yang bisa panjang dan mengungkapkan sesuatu secara bebas tanpa terikat oleh jumlah kata-kata. Semakin pendek puisi, semakin susah nulisnya. Sementara maknaya pun harus tetap dalam dan berarti. Puisi yang sederhana itu juga tak kalah susahnya, karena harus bisa menyampaikan sesuatu yang ada di balik kesederhanaan puisi itu.
Sebagai penyair, tentunya ada penyair senior lain yang Anda idolakan. Atau mungkin bahkan Anda tiru gayanya. Bisa Anda sebutkan siapa saja penyair yang banyak memengaruhi Anda?
Pada mulanya, dulu, pertama-tama saya meniru puisi Rendra dan Sapardi Djoko Damono. Proses paling susah itu menemukan bentuk tulisan. Aku juga coba bikin blog, nggak puas, akhirnya aku sewa domain sendiri. Di sanalah aku mulai menuliskan semua puisi-pusiku.
Kenapa blog? Kenapa tidak buku?
Aku hanya ingin ada suatu monumen atau dokumentasi puisi-puisiku. Awalnya memang aku juga ingin menerbitkan buku dan diskusi sama Joko Pinurbo. Ia menasehatiku soal buku itu. Banyak juga penyair lain yang juga membantu memberikan masukan padaku. Aku cuma modal nekat aja waktu itu, hanya ingin menulis puisi dan punya buku. Banyak kawan-kawan yang bantu. Sebagai penyair kita punya kewajiban moral kepada masyarakat tentang apa yang telah kita lakukan selama ini. Dan melalui buku itu kita bisa menunjukkan kepada masyarakat apa yang telah kita buat.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa sastra itu bacaan orang-orang yang sudah kenyang. Intinya elit. Lantas internet juga hanya bisa diakses oleh orang-orang berpunya. Intinya juga elitis. Lantas apakah Anda setuju kalau sastra cyber yang Anda tekuni sekarang adalah budaya elitis?
Ada benarnya juga. Memang dunia internet itu belum familiar bagi masyarakat luas Apalagi biayanya mahal. Sementara tak semua orang bisa mengakses internet, untuk makan saja susah. Namun menurutku, memublikasikan puisi di internet itu bukan hanya jadi kewajiban bagi para penyair pemula, tapi juga buat penyair senior.
Kewajiban? Bagaimana maksud Anda?
Tempat menulis puisi sekarang ini masih kurang, karena secara umum sastra belum menjadi perhatian. Nah, sekarang kalau ada kesempatan untuk menulis sastra di dunia maya kenapa tidak. Justru zaman sekarang anak muda banyak membuka internet dan ini kesempatan untuk memperkenalkan puisi pada mereka. Dengan demikian puisi semakin dikenal oleh generasi penerus. Seharusnya para penyair senior juga memergunakan kesempatan ini sehingga anak-anak muda bisa melacak jejak kepenyairan mereka sekaligus mengenal karya-karya para penyair senior itu. Daripada pergi ke perpustakaan dan capek-capek mencari buku puisi, dengan internet kan malah semakin mudah dicarinya.
Jadi media internet memang satu wahana yang Anda pikir paling cocok untuk penyair kantoran seperti Anda?
Di kota-kota besar seperti Jakarta ini, di mana kita selalu sibuk, maka internet jadi pilihan untuk memublikasikan karya-karya sastra. Karena waktu dan kesempatan yang tersisa bagi kita-kita ini ya cuma di kantor. Kebetulan kita bisa mengakses internet setiap saat. Maka saya gunakan kesempatan itu. Lantas apakah kalau karya-karya sastra dipublikasikan melalui internet mengurangi maknanya apabila dibandingkan dengan media cetak? Tidak juga. Yang terpenting adalah karyanya, bukan di mana karya kita dimuat. Itu tak jadi jaminan. Memang di media internet itu orang bebas menulis dan memublikasikan, yang menulis jelek banyak tapi yang nulis bagus juga tak kalah banyaknya.
Kenapa Anda tidak total terjun sebagai penyair? Apakah karena memang kehidupan penyair di negeri ini jauh dari kata makmur?
Begini, puisi itu, di negeri ini, sama halnya dengan cerpen belum bisa dijadikan tumpuan hidup. Apa yang terjadi pada bagaimana orang mengapresiasi puisi itu kan adalah cermin sastra secara umum di Indonesia. Kita juga lihat bagaimana apresiasi masyarakat terhadap sastra. Apresiasi itu juga cerminan bagaimana pendidikan sastra di Indonesia. Tapi saya juga, walaupun pegawai swasta juga punya hak untuk menjadi penulis puisi. Dan saya bangga dengan titel penyair. Sebagai penyair, saya adalah manusia bebas, bebas hendak mengatakan apa pun yang saya inginkan. Sebagai manusia tentu saya senang dengan kebebasan, kemerdekaan. Dan itu saya ungkapkan dalam puisi-puisi saya.
Anda tadi katakan soal rendahnya apresiasi sastra terkait dengan pendidikan sastra. Apakah Anda juga memberikan perhatian kepada soal itu?
Ya. Selama ini kan pendidikan sastra di sekolahan tidak dianggap sebagai pelajaran penting, bukan pelajaran estetika yang bisa memperhalus perasaan siswa. Pelajaran sastra juga cuma dianggap untuk hapalan saja. Coba lihat bagaimana anak sekolahan menerima pelajaran sastra dari gurunya. Katakanlah mereka disuruh untuk membaca Siti Nurbaya lantas mereka juga diminta membuat sinopsisnya. Pasti siswa itu membaca Siti Nurbaya dengan cepat tapi mereka kehilangan tujuan bahwa sebetulnya membaca sastra itu untuk memperhalus rasa dan seharusnya mereka bisa mengerti bahwa Siti Nurbaya adalah karya sastra yang bermutu dalam sejarah sastra Indonesia.
Anda punya ide tentang pendidikan sastra yang ideal?
Mungkin seharusnya kepada siswa juga diperkenalkan riwayat penulisnya, semisal siapa itu Marah Rusli. Sepertinya sekarang ini, seolah-olah kan siswa dididik untuk jadi kritikus sastra, padahal seharusnya mereka menjadi pembaca yang baik dulu, lantas jadi penikmat sastra dan setelah itu serahkan kepada mereka mau apa. Idealnya begitulah sastra diajarkan.
Soal kehidupan sastra pada umumnya dan puisi pada khususnya di negeri ini, apakah Anda punya pendapat juga?
Di negeri ini, puisi memang tak punya nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, lebih parah lagi dari nasib puisi, ada juga penulis naskah drama yang juga terpinggirkan. Kita bicara sastra adalah bicara juga soal estetika. Sekarang orang lebih banyak berlogika, tapi estetika belum tentu. Kalau dulu ada pelajaran budi pekerti yang mengajari siswa tentang tata krama dan kesantunan. Nah, sekarang tidak ada lagi pelajaran itu, gantinya ya pelajaran sastra yang bertujuan untuk memperhalus rasa. Intinya nilai-nilai estetika itu perlu diajarkan, bagaimana caranya, ya lewat sastra. Gak aneh kalau di negeri ini banyak koruptor dan penjahatnya. Masyarakat kan gampang marah, gampang ngamuk, kalau pejabat ya sekarang gampang juga korupsi nah semua itu dampak dari kegagalan mengajarkan estetika kepada masyarakat. Dengan kata lain, mungkin, karena sastra dan seni yang bertugas memperhalus perasaan manusia juga tak pernah diajarkan secara serius di sini.
Bagaimana mengatasi persoalan itu, menurut hemat Anda sebagai penyair?
Salah satu cara lewat media massa. Persoalannya media massa pun jarang ada yang memperhatikan sastra. Bahkan ada yang sama sekali tak memiliki halaman sastra. Itu belum lagi radio misalnya, apa ada radio yang punya rubrik sastra apalagi televisi. Media juga punya tanggungjawab untuk menumbuhkan estetika pada masyarakat. Kalau saya sendiri, karena selama ini bisa mengakses internet, media itulah yang saya gunakan untuk turut menyebarluaskan puisi dalam kaitan memperkenalkan fungsi estetika pada masyarakat.
Menurut Anda apakah standar estetika itu perlu?
Tidak, buat apa? Kenapa sastra perlu diseragamkan. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana dunia sastra yang kini terasa pengap dan terbelakang bisa dibuka lebar-lebar supaya ada udara segar masuk. Satu hal lain yang harus dicatat, sastra tak boleh dipolitisir. Pelaku sastra kalau mau berpolitik silakan, tapi jangan menyeret sastra ke dalam politik. Standarisasi estetika dalam sastra itu sama halnya dengan mempolitisasi sastra. Buat apa. Tak perlu ada standar estetika dalam sastra.
Apa sih arti puisi buat seorang Johannes Sugianto?
Bagi saya puisi itu yang terpenting menyuarakan hati nurani, mau puisi cengeng mau puisi romantis atau puisi yang mengajak orang untuk berontak yang penting datang dari hati nurani terdalam. Pada saat menulis puisi saya tidak pernah berpikir bahwa puisi saya bisa bikin orang berontak atau merenung. Itu tidak pernah saya pikirkan. Kalau pun ada orang yang nulis puisi katakanlah puisi nyampah, ya dibiarkan saja. Biarkan seleksi alam yang bicara, biarkan pembaca yang menilai. Lagipula biasanya penyair itu butuh proses untuk menemukan gaya kepenyairannya. Sekali lagi, biarkan saja pembaca yang menentukan.
Apakah Anda akan terus bertahan menulis puisi? Dan seyakin apa Anda dengan puisi?
Saya yakin puisi di masa yang datang bisa berkembang lebih baik dan digemari. Ada masanya kok. Mungkin sekarang masanya novel disukai, terus cerpen juga demikian. Nanti puisi ada masanya. Saya yakin seyakin-yakinnya.
Sebagai penyair apakah Anda punya ideologi?
Humanisme
Bonnie Triyana
Dimuat di Harian Jurnal Nasional, edisi 27 Januari 2008, Rubrik Gelanggang.
You must be logged in to post a comment.