saat kau petik dengan embun masih membasahi putiknya bunga itu masih belum layu ‘begitu jugakah cintamu?’ tanyamu batang hijau terus tumbuh di hati yang tak sering letih dengan duri mengitari di tengah terpaan angin tanyakan pada tukang kebun kenapa embun setia mengecup bunga usai malam bergegas pergi dan belum juga tampak matahari malam, 30maret 08
baca selengkapnya |
No Comments »
kata bukan sekedar tumpukan huruf yang diucapkan asal meletup kata ingin dimengerti dan dipahami bukan cuma diolesi wewangi seperti langit dan rintik hujan kata ingin menaungi jiwa biar tak cuma tampak wajah dari jalinan huruf indah siang, 27 maret 08
baca selengkapnya |
No Comments »
adalah malam dengan angin membisu yang menemani rindu hingga lampu jalanan turut termangu malam, 23 mret 08
baca selengkapnya |
No Comments »
Bagian pertama dari tiga tulisan Katrin Bandel Kritikus sastra asal Jerman Akhir tahun 2007 novel Saman karya Ayu Utami diterbitkan dalam terjemahan bahasa Jerman oleh penerbit Horlemann. Tentu saja penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar, sebab Horlemann hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman. Namun, peristiwa penerbitan novel [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
aku membawa rintik gerimis untuk mengantarmu ke sana tempat yang belum pernah singgah tapi kita akan menyapanya di pipimu yang bening kulihat cahaya embun sisa pagi yang belum terhapus dan selalu membuatku tertegun di pintu itu kugenggem jemarimu tanpa kata hanya isyarat saja yang pasti kau pahami artinya tentang cinta bening yang selalu mengiring siang, [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
suatu hari kamu bertanya tentang puisi aku tak menjawabnya karena itu bukan ingin yang pasti kureka saja seperti memilah bulir hujan di dedaunan kali ini dengan tergagap usai sadar bahwa kata tak hentinya senyap suatu hari kamu berkata lagi mestinya sebelum bersyair ekonomi mesti bagai karang di seberang pesisir sejak itu ketika puisi tercipta kusimpan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Tan Lioe Ie adalah seorang penyair Indonesia yang bermukim di Bali. Ia sering menyanyikan puisi ciptaannya maupun puisi penyair lain yang disukainya. Kebalian secara budaya dan pergaulan internasional, menyilangkan sintesa yang khas dalam kepenyairan Tan. Kepada Jurnal Nasional ia berbagi pengalaman, pemikiran, dan pengharapan tentang sastra Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Seperti apa [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Pameran Lukisan “Nature On Colour” SP/Ferry Kodrat Tiga seniman, penyair WS Rendra membacakan puisi, pelukis Susilowati Natakoesoemah melukis, dan gitaris Jubing Kristianto memetik senar gitarnya, dalam “Collaborathree” pada pembukaan pameran lukisan tunggal Susilowati di Hotel Four Seasons, Jakarta, Jumat (14/3). Alam merupakan sumber inspirasi bagi setiap seniman. Menurut ungkapan yang sering muncul di kalangan para [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
WACANA Shiho Sawai Tokyo University of Foreign Studies Bagian Terakhir dari Dua Tulisan Di Indonesia, belakangan muncul juga komunitas yang berbasis gerakan literasi, seperti Rumah Dunia, 1001 Buku dan Indonesia Membaca. Komunitas sejenis ini dimotori oleh individu yang memiliki kepedulian tentang kurangnya akses buku bagi kalangan tertentu. Mereka membangun rumah bacaan di masyarakat lokal, atau [...]
baca selengkapnya |
1 Comment »
Setelah dua zaman: kalabendu dan kalatida berlalu, Ronggowarsito meramalkan hadirnya zaman kalasuba, yaitu zaman stabilitas dan kemakmuran yang akan ditegakkan oleh Ratu Adil, yang banyak dinantikan. Rendra melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, tak jauh beda dari apa yang digambarkan Ronggowarsito. Namun Rendra tak sepakat jika kalasuba sekadar dinantikan dengan sabar dan tawakal menunggu datangnya [...]
baca selengkapnya |
No Comments »