natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Mar
17th

Meraih Horison Harapan Baru

Files under Naskah, PUISI | Posted by blue4gie

Setelah dua zaman: kalabendu dan kalatida berlalu, Ronggowarsito meramalkan hadirnya zaman kalasuba, yaitu zaman stabilitas dan kemakmuran yang akan ditegakkan oleh Ratu Adil, yang banyak dinantikan. Rendra melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, tak jauh beda dari apa yang digambarkan Ronggowarsito. Namun Rendra tak sepakat jika kalasuba sekadar dinantikan dengan sabar dan tawakal menunggu datangnya ratu adil.

“Situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil. Ratu Adil itu omong kosong. Semua tergantung pada hukum yang adil, mandiri, dan terkawal,” kata Rendra dalam pidatonya saat menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang kebudayaaan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Adakah sang penyair tengah berusaha membangun kembali masa kejayaan Kerajaan Jawa? Seniman Sides Sudyarto tidak sepakat dengan pemahaman itu. Menurutnya, pemikiran Rendra didasari keluasan pandangannya terhadap sejarah termasuk tentang sejarah Jawa, tetapi selain itu Rendra juga memahami budaya luar Jawa termasuk budaya Barat. “Rendra tidak ingin hanya satu suku saja yang dominan. Ia ingin Indonesia maju sebagai sebuah kesatuan, satu entitas dalam suatu kebersamaan,” kata Sides.

Sides memandang, pemikiran Rendra berangkat dari analisis kondisi masyarakat Jawa di masa lalu. Rendra memandang kondisi masyarakat yang di masa lalu itu berpengaruh kepada masyarakat sekarang. “Dia mengajak masyarakat untuk memiliki kesadaran sejarah,” ujar Sides.

Aktor monolog Butet Kertaradjasa malah memandang orasi Rendra sebagai sumbangan masyarakat etnis untuk membangun Indonesia. Ia mengatakan, etnis manapun boleh memberikan kontribusi seperti yang Rendra lakukan. Itu tidak menodai kebhinekaan tapi memperkaya kebhinekaan. “Sangat lumrah jika Rendra berangkat dari sejarah Jawa, karena dia memang sangat dekat dengan hal itu,” kata seniman asal Yogyakarta ini.

Sementara itu, bagi Pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, Emha Ainun Najib yang turut hadir pada saat penyematan gelar tersebut menilai, tak ada hal baru yang diungkapkan oleh pendiri Bengkel Teater. Menurut Pria yang akrab disapa Cak Nun ini Rendra telah menawarkan pemikirannya mengenai Megatruh sejak tahun 70-an. “Rendra hanya menyesuaikan diri dengan pemikiran orang-orang yang terlambat tiga puluh tahun,” kata Emha.

Namun, Suami artis Novia Kolopaking ini melihat pemikiran Rendra yang ditarik dari trauma-trauma Kerajaan Mataram di mana hukum tidak ditegakkan, korupsi merajalela serta penguasa yang bertindak sewenang-wenang — sangat kontekstual dengan keadaan saat ini.

Nah, Emha percaya apa yang terjadi dengan Indonesia di masa silam, mempengaruhi wajah Indonesia masa kini. “Suatu bangsa mengalami perjalanan selama berabad-abad, apa yang terjadi pada sebuah bangsa hari ini memiliki relevansi dengan masa silamnya,” tutur Pimpinan Teater Dinasti ini.

Setali tiga uang dengan Emha, menurut Sides, pemikiran Rendra yang berangkat dari pengaruh Jawa yang sangat besar dalam sistem pemerintahan. Rendra mencoba berbicara melalui teropong masa lalu, di mana terdapat hubungan sebab akibat.

Sides mengakui adanya pengulangan masa lalu yang terjadi saat ini. Walaupun demikian, lanjut dia, tak berarti ujung episodenya harus ditutup cerita yang sama. “Masyarakat berkembang, terjadi perubahan-perubahan, persamaan bukan sesuatu yang disamakan tapi tidak sengaja sama.”

Sides memandang pokok pemikiran Rendra sangat relevan dengan keadaan saat ini, karena menyangkut kehidupan keseluruhan masyarakat Indonesia yang bercita-cita membentuk masyarakat yang adil dan makmur, namun belum tercapai. “Di negara kita rakyat miskin akan semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya. Keadilan dapat tercapai bila hukum ditegakkan,” kata Sides.

Jika ditengok dari sisi hukum, Sides menilai negara kita saat ini belum mencapai sebuah kultur yang memiliki kekuatan yang dapat mengatur masyarakat menuju adil dan sejahtera. Merunut ke belakang, sebagai bekas negara jajahan, sistem hukum di Indonesia mengadaptasi Belanda yang ternyata juga diimpor dari Perancis. “Sistem hukum itu tidak cocok dengan keadaan Indonesia,” ujar Sides.

Mengapa? Karena sistem hukum tersebut hanya memperhatikan kepentingan penjajah, tanpa menghiraukan keadaan masyarakat di daerah jajahan. “Siap tidak siap kita perlu memperjuangkan kesadaran penuh masyarakat seperti di Eropa.”

Tak jauh berbeda dengan pandangan kedua rekannya, Budayawan Butet Kertaradjasa menilai, apa yang dibicarakan Rendra dalam pidatonya adalah sebuah horison harapan. Dan ia sepakat jika horison harapan itu harus diraih.

Menurut seniman yang baru saja menggelar pementasan Sidang Susila ini, dengan adanya horison harapan berarti Indonesia masih bekerja untuk meraih harapan itu. “Kalau kita tidak punya harapan berarti kita sudah putus asa. Nah horison harapan ini bisa menjadi stimulus bangsa Indonesia agar bekerja keras dan mendandani dirinya,” ujar Butet.

Benarkah Indonesia sedang terpuruk dalam lubang hitam zaman kalabendu? Jika Butet dan Sides sepakat memandang terjadinya zaman kalabendu ditandai dengan kondisi rakyat yang semakin sengsara, di mana kekuasaan berkompromi dengan kekuatan penjajah, tidak dengan Emha.

Emha memandang tidak ada batasan periode zaman kalabendu. Menurutnya, zaman kalabendu adalah sebuah pilihan apakah manusia mau menjalaninya atau tidak. “Memang manusia maunya kalabendu, gimana lagi”

Ia juga tak begitu sepakat pada ramalan Jayabaya yang meramalkan datangnya zaman keemasan setelah zaman kegelapan. “Sudah biasa kalau ada gelap pasti ada terang, kalau dalam quran disebutkan pada saat kesusahan pasti ada jalan keluar tinggal tergantung kita milihnya yang mana.”

Menurutnya, pemikiran Rendra mengenai megatruh sebenarnya sudah didengungkan sejak zaman orde baru. Tetapi, lanjut dia, tidak terjadi perubahan dalam bangsa kita karena bangsa kita memang tidak menginginkan.

Lain halnya dengan Sides, ia melihat untuk keluar dari zaman kalabendu dibutuhkan pemimpin yang memperhatikan nasib rakyatnya. Bukan pemimpin yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri maupun segelintir golongan saja. “Negara lain bisa mengapa kita tidak,” tuturnya.

Menurutnya, untuk mecapai kesempurnaan itu, hukum yang harus ditegakkan adalah hukum yang berpihak pada kedaulatan rakyat, hukum yang memikirkan kepentingan rakyat. “Kedaulatan berdasarkan suara terbanyak itulah yang dimaksud dengan demokrasi.”

Dengan berpihaknya hukum pada golongan tertentu, lanjut Sides, hanya mencederai rasa keadilan masyarakat. Nah, untuk menuju kondisi tegaknya hukum, kata dia, masyarakat harus dibekali pendidikan. “Rakyat perlu didewasakan, rakyat perlu dibiasakan, konstitusi mengamanatkan pemerintah untuk mencerdaskan rakyatnya,” kata Sides.

Jika memang dibutuhkan Satria Piningit yang dalam paham masyarakat Jawa kala itu, merupakan tokoh yang mampu menegakkan hukum dan keadilan. Dalam ramalan Jayabaya disebut satria piningit akan tersembunyi. Namun berkaca dari kenyataan saat ini, Sides berpendapat, tokoh satria piningit adalah pemimpin yang maju ke depan. “Tokoh tersebut harus dikenal rakyat agar perjuangannya didukung oleh ralyat, kalau tersembunyi bagaimana rakyat tahu.”

Ia mengatakan, analisis Rendra yang tajam telah menawarkan sebuah jalan keluar dari labirin kegelapan. “Dia menunjukkan cara dengan mengacu beberapa kemungkinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa kita,”

Butet juga berpendapat, kita tidak perlu menunggu datangnya ratu adil, tetapi kita harus menegakkan keadilan. “Bagaimana tidak menyerah pada harapan, kita harus merebut harapan itu dengan cara menegakkan hukum, menegakkan keadilan sosial,”.

Untuk mengakhiri zaman kegelapan, menurut Butet masyarakat harus bahu membahu dengan pemerintah untuk mengkalkulasi seluruh potensi bangsa. Misalnya, kata Butet, Rendra menawarkan pengembangan budaya maritim Indonesia yang punya potensi luar biasa. Sejak zaman dahulu kala potensi maritim Indonesia tidak tergarap dengan baik, padahal Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yg punya laut luas. “Sumber daya alam kita belum dieksplor sebagai sumber daya ekonomi yang kuat.”

Grathia Pitaloka

Sumber : Jurnal Nasional, 16 Maret 2008, Rubrik Oase Budaya

You must be logged in to post a comment.