Tan Lioe Ie adalah seorang penyair Indonesia yang bermukim di Bali. Ia sering menyanyikan puisi ciptaannya maupun puisi penyair lain yang disukainya. Kebalian secara budaya dan pergaulan internasional, menyilangkan sintesa yang khas dalam kepenyairan Tan. Kepada Jurnal Nasional ia berbagi pengalaman, pemikiran, dan pengharapan tentang sastra Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.
Seperti apa dunia sastra di Bali saat ini? Bagaimana peran komunitas, pers, perbukuan, kampus, dan figur-figur tertentu?
Untuk puisi, Bali memang selalu melahirkan penulis baru. Banyak yang bagus, namun masih perlu menemukan dirinya. Tapi mereka masih muda dan akan ada di antara mereka nantinya yang menemu. Pers memberi perhatian lumayan bagus untuk pemuatan sastra, di antaranya Bali Post. Untuk publikasi sekitar even dan dunia sastra, Radar Bali dan Bali Post. Jumlah media yang “mapan†di Bali memang tidak banyak.
Untuk penerbitan buku sastra, di Bali masuh kurang dan penerbit juga sedikit. Kampus, akhir-akhir ini tak sebagus dulu. Mungkin terpulang pada senat mahasiswa serta pimpinan kampusnya.
Dan kalau mau bicata soal figur, kalau untuk penulis terkini, akan lebih banyak bersentuhan dengan lingkaran pergaulan Warih Wisatsana dan Wayan Sunarta. Umbu Landu Paranggi juga masih menjalankan peran sebagai motivator, lewat media di mana dia menjadi redaktur, maupun sesekali dalam acara “lesehan†yang dirancangnya.
Anda sendiri sedang mengerjakan apa sekarang? Apa buku terakhir? Tentang apa?
Saya mempersiapkan buku puisi baru, mudah-mudahan bisa terbit sebelum akhir tahun ini. Juga mempersiapkan pementasan musikalisasi puisi, untuk akhir Maret ini, ditambah beberapa kegiatan lain terkait sastra.
Buku terakhir adalah Malam Cahaya Lampion (versi Belandanya Nach van de Lampionnen, terjemahan Linde Voute, penerbit Uitgeveij Conserve, diluncurkan 18 Januari lalu di Denhag, serangkaian dengan de winternachten festival) dengan tambahan 1 puisi di luar buku versi Indonesianya.
Temanya beragam. Seputar eksplorasi saya atas mitologi, ritual Tionghoa, kepercayaan Bali, bible, alam dll., (sebagai tubuh dari puisi) untuk di beri pesan (ruh) sesuai dengan “kekinian†yang saya alami, renungkan, harapkan, dan kritisi.
Bisa mengisahkan sedikit awal perjalanan kesenian Anda?
Bermula dari perjumpaan saya dengan beberapa teman penyair dari Sanggar Minum Kopi, seperti Warih Wisatsana, K. Landras Syaelendra, Sthiraprana Duarsa di tempat tinggal penyair Frans Nadjira pada 1989. Pada kesempatan itu, teman-teman tersebut meminta saya menjadi juri pembanding dalam lomba puisi yang akan mereka adakan beberapa hari kemudian.
Mendengarkan puisi-puisi yang dibacakan oleh ratusan peserta lomba, dalam 3 hari lomba, menimbulkan gairah saya untuk menulis puisi pada akhir tahun itu juga. Saya “beruntung†karena belum lama menulis, puisi saya memenangkan lomba, penghargaan serta dimuat di beberapa media yang tentu ikut juga memelihara semangat berkarya saya. Kemudian, membuat puisi pun sudah jadi semacam kebutuhan. Hingga, saya akan gelisah jika saya lama tak melahirkan karya. Namun, tetap saja saya terbilang tidak produktif secara kuantitas.
Anda sering menyanyikan puisi. Puisi dan musikalisasi puisi, apa artinya, bagaimana membedakannya dengan lagu yang terlebih dulu dituliskan liriknya?
Puisi awalnya semacam “outlet†bagi saya untuk mengekspresikan berbagai hal, sehingga dia bersifat terapis juga atas diri saya. Dalam perjalanan kepenulisan saya, dari semula outlet berkembang lebih jauh menjadi pertanyaan eksistensial: di mana saya? Pertanyaan yang menurut saya penting bagi siapa saja yang bergelut dalam dunia penciptaan karya kreatif. Mungkin bisa dikatakan semacam “positioning†setelah semacam identifikasi atas apa yang telah dilakukan penulis lain.
Musikalisasi, bagi saya adalah upaya menerjemahkan musikalitas puisi ke dalam musik. Karena pada umumnya puisi itu sudah musikal. Dan prosesnya menjadi sangat mungkin karena bunyi melekat pada kata, kata melekat pada puisi, sementara musik menurut hemat saya adalah “manajemen bunyiâ€. Jadi, menyangkut bagaimana bunyi itu ditata, seperti apa melodi yang akan diberikan, berapa keras / pelan bunyinya, berapa cepat / lambat temponya, kapan jeda, dst.
Tentu dalam hal musikalisasi puisi perlu juga diperhatikan unsur lain selain bunyi. Seperti, nuansa apa yang ditawarkan puisi, pesan puisi… Singkatnya, antara puisi dan musik perlu bersinergi atau puisi bukan sekadar subordinat terhadap musik.
Untuk membedakan musikalisasi puisi dengan lagu yang terlebih dulu dituliskan liriknya, sulit, karena sama-sama lirik mendahului gubahan musiknya. Untuk membedakan yang liriknya ditulis belakangan, juga agak sulit jika dilihat dari “produk†jadinya. Namun, jika dilihat dari segi proses, karena pada musikalisas puisi, puisi ada duluan, maka jika pada
lagu yang liriknya ditulis belakangan, bisa disesuaikan jumlah suku kata dengan melodinya. Pada musikalisasi prosesnya terbalik.
Untuk pengembangan sastra, sejauh mana â€keberhasilan†musikalisasi puisi menurut Anda?
Prospeknya cukup bagus, karena bisa mengubah persepsi tentang puisi yang tadinya bagi sementara orang terkesan “angkerâ€, menjadi lebih “ramahâ€. Selama ini cukup berhasil.
Tentu, dari segi jumlah audiens jangan dibandingkan dengan musik pop, misalnya. Karena musikalisasi puisi punya segmen tersendiri. Dulu beberapa jenis musik, seperti jazz, misalnya, juga penggemarnya sedikit dan hanya segmen tertentu. Sekarang semakin meluas. Segmen
musikalisasi puisi, jika dibandingkan dengan segmen untuk pembacaan pusi secara “konvensionalâ€, lebih beragam.
Saya beberapa kali melakukan musikalisasi puisi di luar “publik sastra†yang lazim kita kenal, seperti untuk komunitas meditasi, dalam event yang dihadiri masyarakat dari berbagai segmen. Ternyata bisa diterima dengan baik. Bahkan anak-anak pun bisa menikmatinya. Hanya saja, karena insentif (terutama secara finansial), bagi kegiatan ini masih rendah, memang dibutuhkan “kegilaan†untuk bisa bertahan.
Seperti apa dunia sastra Indonesia kini? Bagaimana perpuisiannya? Siapa penyair â€senior†yang selalu mengilhami Anda? Siapa penyair muda yang potensial akan membesar?
Dunia sastra Indonesia, secara umum kini membaik, jika dilihat dari jumlah buku sastra yang terbit, event sastra, termasuk insentifnya, walau masih jauh dari ideal. Tapi untuk puisi khususnya, masih sulit
juga untuk mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan.
Penyair “senior†yang mengilhami (saya lebih suka menyebut yang memotivasi), adalah Frans Nadjira dan Umbu Landu Paranggi. Ada yang menarik dari yang ditularkan Frans Nadjira ke saya dan teman-teman di
Sanggar Minum Kopi, Bali, dulu, yaitu budaya sparring partner. Kami biasa saling mengkritisi karya di antara kami, yang awalnya dicontohkan oleh Frans Nadjira, ketika beberapa dari kami memperlihatkan karya kami kepadanya, dengan mengkritisi dan membuka beberapa
alternatif atas pilihan kata, susunan kata dalam baris, dll. Namun, hasil akhir terpulang kepada penulisnya masing-masing.
Budaya sparring partner ini juga kini dikembangkan Raudal Tanjung Banua (yang pernah mengalami pergaulan kreatif di Bali) lewat komunitas Rumah Lebahnya di Jogja. Dalam perkembangannya, tentu juga, kami sparring dengan karya-karya penyair Indonesia lainnya
dan penyair mancanegara. Hanya prosesnya beda, tidak lewat tatap muka secara langsung. Sedang Umbu dengan caranya, misalnya, dengan menanyakan (lewat orang lain) apakah masih menulis, membacakan karya saya /teman lain dalam acara tertentu, pendekatan personal saat kami sakit atau punya masalah lain, dll. Semua itu, seolah mengatakan “terus dan teruslah menulisâ€.
Yang potensial membesar, jika dimaksudkan di kalangan penulis generasi saya dan setelahnya, sekarang ini saya melihat sedang terjadi semacam pemerataan karya bagus di Indonesia, dalam arti banyak karya bagus, tapi banyak yang belum menjawab pertanyaan, di mana saya? Beberapa yang karyanya sudah atau potensial menjawab pertanyaan itu, antara lain : Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Warih Wisatsana, Gus tf Sakai, Sinduputra, HU Mardiluhung, Oka Rusmini, Nur Wahida Idris, Suwati Sidemen, Zen Hae, Raudal Tanjung Banua, Agus Hernawan …
Pusat, pinggiran, masih relevankah istilah-istilah itu? Seperti apa dinamikanya dalam pergaulan keseharian sastra dan sastrawannya? Lalu, ada beberapa daerah yang terkesan â€tidurâ€, ada yang dinamis. Bisa Anda perkirakan masalah dan solusinya?
Kalau dari segi liputan media cetak maupun audio-visual atas sosok penulis, event sastra, pusat-daerah mungkin masih relevan, karena banyak event di luar Jakarta, misalnya, yang luput dari pemberitaan media. Kalau dari segi pemuatan karya, sudah tidak relevan, karena karya penyair berbagai daerah bisa dimuat lintas daerah dengan redaksi yang sama bagus (hanya tiras dan honornya mungkin yang berbeda). Dan yang menyenangkan, sekarang baca puisi di manapun, sama “prestisiusnyaâ€.
Cuma mungkin yang perlu dibenahi untuk program pemerintah, menyangkut sastra. Misalnya. Saya pernah mengusulkan, agar ada semacam pertukaran, yaitu saya dibawa ke daerah lain sementara penulis dari luar Bali dibawa ke Bali untuk acara yang diselenggarakan
Depdiknas. Mulanya ide ini ditanggapi baik, namun kemudian dikatakan, akan menjadi lebih mahal. Karena untuk acara di Kalimanatan, misalnya, penulis dari Bali dianggap ke Jakarta dulu untuk semacam “pengarahan†baru dari Jakarta menuju Kalimantan, sehingga tentu akan lebih murah (transpor-nya) jika mengajak penulis dari Jakarta atau yang dekat Jakarta. Jadi tidak heran jika birokrasinya seperti ini, berbagai program sastra dari pemerintah pusat (Depdiknas, misalnya), akan memperkecil peluang kesertaan penulis dari daerah lain, walau penulis tersebut bagus untuk program yang dibuat.
Kalau dinamika pergaulan, kadang cukup panas juga. Tapi pada umumnya secara personal hubungan antarsastrawan di Indonesia cukup bagus.
Tentang ada daerah yang terkesan â€tidurâ€, menurut saya selama ini daerah yang berkembang /bertahan dunia sastranya, umumnya yang punya “tradisi sastra†yang panjang atau “senior†yang “peduli†terhadap perkembangan generasi berikutnya. Calon sastrawan yang ada di daerah semacam ini, lebih berpeluang untuk berkembang dibanding yang bukan.
Bagi daerah yang â€tidurâ€, tidak ada solusi instan. Harus ada program penumbuhan kecintaan akan sastra yang berkesinambungan yang bisa menumbuhkan sastrawan-sastrawan, atau membangunkan kembali
sastrawan yang tertidur, yang sebanyak mungkin melibatkan penulis / calon penulis dari daerah tersebut. Ini tentu butuh waktu tak singkat dan dana juga. Kalau programnya “hit and runâ€, sulit diharapkan.
Bagaimana pendapat Anda tentang komunitas sastra? Seperti apa yang ideal?
Komunitas sastra yang bagus adalah yang bisa memberikan atmosfir yang bagus bagi tumbuh kembangnya anggota atau yang bersentuhan dengan komunitas tersebut. Bersemangat egaliter di antara anggotanya dan dengan penulis di luar anggotanya.
Sepuluh tahun terakhir ramai-ramai soal sastra wangi, dan juga tentang tudingan dominasi TUK. Persoalan apa yang ada di sana?
Saya kurang suka dengan istilah sastra wangi, karena konotasinya seakan merendahkan penulis perempuan yang dianggap bagian dari sastra wangi tersebut dan mengabaikan pencapaiannya.
Soal dominasi TUK, mungkin dimaksudkan soal networking-nya yang semakin meluas? Kerap menjadi “rujukan†penyelenggara festival dari luar negeri sebagai mitra kerja? Ini, saya kira tumbuh tidak instan. Mereka berjuang untuk mencapai itu. Tentu dengan potensi yang mereka miliki dan bisa mendukung hal itu. Pertanyaannya, apakah ada swasta lain dengan kapasitas / fasilitas kurang lebih setara, yang juga mau membuat komunitas semacam TUK atau jika mungkin lebih bagus?
Beberapa festival atau lembaga di luar juga memang butuh partner yang bisa bekerjasama dengan baik, dengan mereka dalam membuat event atau dalam hal lainnya yang menurut kacamata mereka bagus dengan segala pertimbangannya. Memang akan lebih ideal jika ada lembaga / komunitas lain yang tak kalah bagus dari TUK. Dan lebih bagus lagi jika ada di banyak daerah. Misalnya, Dewan Kesenian di daerah seiring otonomi daerah mungkin perlu lebih diperkuat.
Tapi, hal ini akan terpulang dari pimpinan daerahnya, dan apa boleh buat banyak yang menganggap tidak perlu mengembangkan dewan keseniannya dengan lebih baik. Bahkan di Bali, yang dikenal sebagai daerah seni, tak ada Dewan Kesenian. Kendala lain untuk mengembangkan lembaga yang bagus di daerah-daerah, tak lepas dari
persoalan finansial. Mayoritas uang beredar memang masih di Jakarta, dengan proporsi yang sangat timpang dengan daerah lain di Indonesia. Kalau soal rekomendasi? Saya juga pernah diminta merekomendasi. Saya kira ada juga pribadi atau lembaga lain yang dimintai rekomendasi. Soal diterima atau tidak, itu soal lain.
Tapi kalau hegemoni, diartikan sastrawan Indonesia karyanya mengikuti apa yang dilahirkan “sastrawan TUKâ€, saya kira tidak seperti itu. Kalau ada yang mengikuti, mungkin karena sastrawannya belum mampu menjawab pertanyaan, di mana saya? Bukankah puisi Sapardi Djoko Damono (yang bukan dari komunitas TUK) pun banyak yang mengikuti? Di Bali sendiri, banyak penulis muda yang mengikuti Warih Wisatsana,
misalnya.
Anda sering bepergian ke berbagai negara, seperti apa sastra di â€sanaâ€? Bisa digambarkan tren mutakhir perpuisian dunia? Atau kecenderungan di negara tertentu yang Anda amati?
Kalau di Australia ada writers centre yang membuat event, memberi award di negara-negara bagiannya. Tapi liputan media, tak terlalu bagus. Di Suriname ada kelompok penulis yang menyelenggarakan event, liputan medianya bagus. Di Afrika Selatan Centre for Creative arts University of KwaZulu-Natal, Durban yang kerap mengadakan event seni termasuk festival sastra Poetry of Africa setiap tahun, yang sudah lebih dari 10 kali. University of Western Cape, Capetown juga cukup aktif.
Ada juga penyelenggara event seperti Spiers Arts Trust di Stellenbosch.
Di Belanda ada winternachten festival, yang tidak hanya membuat event di Belanda, juga membawa penulis dari beberapa negara ke festival di luar Belanda. Di Berlin ada festival dan komunitas sastra yang bagus. Di Paris, yang saya tahu ada komunitas yang peduli karya sastra Indonesia. Kalau dari segi audiens umumnya apresiatif. Mungkin perbaikan perlu dilakukan atas kedubes RI, terutama menyangkut atase kebudayaannya. Perlu ditempatkan orang yang apresiatif terhadap seni-budaya. Bukan hanya peduli pada “misi kesenian klangenan†yang dikirim pemerintah. Karena cukup banyak seniman Indonesia dari berbagai bidang seni, di luar misi kesenian tersebut, yang tampil di luar negeri dengan publik umumnya warganegara setempat, dan ini mungkin yang le bih tepat disebut misi kesenian.
Kalau kecenderungan puisinya, tak jauh beda dengan kita di Indonesia. Kecuali mungkin apa yang disebut puisi bunyi, yang tak banyak juga di sana.
Nobel? Adakah kendala Indonesia mendapatkan Nobel Sastra?
Yang diperlukan adalah, menjadikan karya dan sastrawan Indonesia lebih mudah dikenal di luar negeri, minimal di kalangan kritikus sastra, sastrawan, lembaga-lembaga terkait sastra termasuk penerbit. Tanpa ini, peluang mungkin masih ada, namun lebih kecil. Pergaulan sastra dunia memang tidak mudah.
Arie MP Tamba
Tan Lioe Ie lahir di Denpasar. Menamatkan SD sampai SMA di Kota yang sama. Pernah kuliah arsitektur di Universitas Jakarta (tak tamat). Menamatkan S1 manajemen di FE UNUD. Selain menulis puisi, juga menulis cerpen, esai dan melakukan musikalisasi puisi. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media di Jakarta dan daerah, juga dalam lebih dari 20 kumpulan puisi bersama. Puisinya juga pernah disiarkan dalam program poetica Radio ABC Australia.
Kumpulan puisi tunggalnya yang pertama Kita Bersaudara sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris Oleh DR. Thomas M.Hunter, jr dan terbit dengan judul We are all One. Kumpulan puisinya yang terbaru Malam Cahaya Lampion (Bentang Pustaka, 2005), bersama 1 puisi tambahan, telah diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh Linde Voute, dan terbit dengan judul Nach van de Lampionnen, Januari lalu.
Tan tahun lalu menjadi editor bahasa Indonesia untuk beberapa cerpen Belanda yang diterjemahkan Maya Liem untuk program “Buku Dengar” Radio Belanda. Selain berbagai event sastra di Indonesia, Tan juga pernah mengikuti event sastra di Tasmania (sekaligus jadi writer in residence di sana), Suriname, Afrika Selatan, Belanda, Perancis, Jerman. Puisinya juga adayang telah diterjemahkan dalam bahasa Perancis, Jerman, Mandarin.
Sumber : Harian Jurnal Nasional, 16 Maret 2008, Rubrik Gelanggang
You must be logged in to post a comment.