Minggu, 27 April 2008 | 11:19 WIB
Laporan Wartawan Kompas Agnes Rita Sulistyawaty
BUKITTINGGI, MINGGU - Puluhan penyair dari lima kota berkumpul di Payakumbuh untuk mengikuti Temu Penyair Lima Kota, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sumatera Barat, Dewan Kesenian Payakumbuh, dan Dinas Kesenian Payakumbuh, 27-29 April 2008.
Ketua Temu Penyair Lima Kota Iyut Fitra, Minggu (27/4), mengatakan acara ini […]
baca selengkapnya |
No Comments »
bila hidup berarti menanti
sebuah kemenangan atau kekalahan
lalu apa yang bisa terucap
dari baris kalimat
yang membuat senyap
: gelap akan membuatmu lelap
sore, 29april08
baca selengkapnya |
No Comments »
sekali ini bukan tentang cinta
karena kata bukan hanya itu saja
yang terpahat dalam puisi
menjadi rantai atau temali
semestinya gerimis berikan sejuk
usai kemarau tak henti merajuk
tapi kata malah mempercepat kelam
dan menitikkan muram
perjalanan ini lebih berdesir
seperti langkah yang menyisir
dari pantai ke hati yang gontai
dari sedu ke nyanyian tak merdu
penyair hanya bisa bersedekap
menikmati kata yang makin pengap
merangkai bait tanya sendiri
dalam […]
baca selengkapnya |
No Comments »
Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ Di antara gedung, rumah tua, pada cerita/ Tiang serta temali, kapal, perahu tidak berlaut/ Menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut//.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kepak elang/ Menyinggung muram, desir hari lari berenang/ Menemu bujuk pangkal akanan.Tidak bergerak / Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak//.
Tiada lagi. Aku […]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh: Gendhotwukir *
Pada tanggal 16-18 Mei 2008, kalau tidak ada halangan dan aral melintang, Komunitas Hysteria Semarang akan menggelar hajatan sastra. Hajatan sastra ini direncanakan akan dilaksanakan di desa Gebyok, Gunung Pati dengan memboyong semboyan yang cukup menggelitik yaitu “Sastra Balik Desa”.
Makna di balik slogan itu tentu saja masih misteri dan menjadi teka-teki karena hajatannya […]
baca selengkapnya |
No Comments »
ketika serumu yang tak lebih keluh
meresap dalam pori-pori
dengan denting perih
mendung makin mengusir pagi
aku juga mendengar bisikan
tentang hari-hari yang tak sama
untuk kujalani sendirian
melalui gelombang pasang
dan menghempas bayang-bayang
ada dingin mengental
dengan selimut kabut di kepalaku
dan sungai mengalirkan luka
yang dulu sempat tersumbat
dengan hadirmu
tak cuma rasa tapi juga kata
dalam cinta yang merajah
dan luka makin penuh nanah
pagi, 24april08
baca selengkapnya |
No Comments »
aku tak tahu bagaimana menghapusmu
karena itu seperti bumi meretakkan diri
atau sungai dengan muara yang sunyi
sungguh, aku tak pernah bisa tahu
dirimu telah menjadi bayang
memenuhi semua ruang
musim telah kau ubah
dengan hadirmu pada tiap kata
sambil menatap belantara rahasia
kutelusuri keheningan ini
hingga kembali aku terdampar
dalam kenyataan yang sama
aku tak akan pernah bisa
menggeser dirimu setapak saja
siang, 24april08
baca selengkapnya |
No Comments »
[JAKARTA] Festival Pantun Serumpun bertema “Dengan Pantun Junjung Marwah Bangsa” yang diselenggarakan pada 25 hingga 29 April di Taman Ismail Marzuki (TIM) mempertegas Tanjung Pinang sebagai negeri pantun.
Demikian dikemukakan Ketua Panitia Festival Pantun Serumpun Asrizal Nur dalam jumpa pers Festival Pantun Serumpun di Jakarta baru-baru ini. Menurut dia, selain giat melestarikan pantun, ibu kota provinsi […]
baca selengkapnya |
No Comments »
ada isyarat kau beri
seperti detik dari matamu
yang menetes saat bertemu
aku mendengar dalam diam
sesakmu yang menggema
beberapa hari ini langit pongah
ingin mempertontonkan kuasanya
tak peduli gundah meruang
atau melebarnya perih tanya
ada isyarat kuterima lagi
menarik hari-hari sepiku
yang lama diam meski waktu
terus bergerak menyobek
lembar-lembar almanak
sebuah ceruk telah melingkar
menjadi lebat dalam belukar
menyimpan kelu
seperti dulu
pagi, 23april08
baca selengkapnya |
No Comments »
Penyair Mardi Luhung mencul dengan puisi-puisi bernuansa khas: bau sesetan ikan dan kota tepi laut, Gersik sekitarnya, khususnya pesisir Lumpur Gersik. Mardi Luhung memang berkreasi dengan menunjukkan keakrabannya yang kental atas lingkungan kelahiran dan tempatnya bertumbuh, serta menjadi wilayah kerjanya sampai kini. Berikut obrolannya dengan Jurnal Nasional.
Apa kabar?
Baik-baik
Apa buku Anda terbaru? Tentang Apa?
Buku saya yang […]
baca selengkapnya |
No Comments »