natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Apr
1st

Publik Tak Pasrah Saja

Files under Coretan | Posted by blue4gie

Menarik, membaca uraian dan ulasan mbak Lan Fang yang lama tak terdengar sebagai cerpenis dan moderator, lalu berbicara lantang soal Pena Kencana (PK). PK tak hanya menarik dari kacamata orang sastra, tapi juga pelaku bidang lainnya misalnya psikologi massa, public relations dan lainnya. Ditambah lagi ‘polemik’ antara kang Yonathan dengan irisan pisau bedahnya dan Eka Kurniawan yang menambah perbendaharaan pengetahuan.

Selama ini yang dipersoalkan adalah kurang transparannya sistem penjurian, pemilihan media cetak di seluruh Indonesia (yang hanya 12 saja), soal ‘risih’ karena karya anggota tim juri dan panitia masuk dalam terbaik, polling via sms dan sebagainya.

Beberapa hal yang menjadi sorotan, selain mundurnya salah satu penyair yang karyanya masuk terbaik, adalah : 1. Sistem, standar dan tolok ukur penilaian serta penjurian yg jelas dan diketahui oleh publik. 2. Pertanggungjawaban penjurian yang terpublikasikan secara luas. 3, Kurang kuatnya dasar terpilihnya 12 Media cetak dari ratusan media se Indonesia . 4. Alasan penentuan terbaik via SMS yang dianggap kurang didukung argumentasi literer yang memadai. 5. Masuknya karya dari beberapa juri dan panitia sebagai yang terbaik. 6. Sistem waralaba dari program ini, yang masih belum terang benderang bagi insan sastra.

Persoalan, jika bisa disebut persoalan, muncul karena kurang pedulinya pihak penyelenggara terhadap pentingnya sosialisasi kepada publik yang menjadi target audience program ini. Ketidakpedulian ini tak bisa cuma disanggah dengan kalimat ‘tidak siap dengan tenaga yang ada’ jika melihat komposisi anggota panitia yang tak perlu diragukan lagi keilmuannya. Jika melihat keterlibatan pecinta sastra yang punya modal untuk mendanai program ini, hal itu tentunya juga tidak menjadi masalah besar.

Namun, persoalan yang berawal dari polemik (yang tak selalu dimulai dengan polemik besar) tidak bisa dianggap sepele karena bisa menimbulkan krisis, yang pasti terapi dan obatnya lebih mahal serta memakan waktu lama. Tentunya titik balik yang membuat sesuatu menjadi tambah buruk, dan karena itu disebut krisis, pasti tak dikehendaki oleh siapapun, terutama penyelenggaran PK ini. Karena, krisis tidak harus selalu diawali dari sebuah kejadian besar. Hal sekecil apapun, tetapi jika tidak dikelola dapat berpotensi menjadi issue.

Informasi

Masyarakat yang diharapkan oleh pihak penyelenggara mau mengapresiasi program ini, termasuk mengirimkan sms sebanyak-banyaknya (ini pun bisa diperdebatkan lagi), tidak bisa hanya dianggap sebagai sekumpulan orang yang pasif dan pasrah menerima informasi yang dikeluarkan seadanya. Ketika membicarakan soal pelayanan informasi kepada publik, kemasan yang menarik dan akurat tetap merupakan suatu keharusan.

Sebab dengan adanya informasi yang sesuai dengan kebutuhan publik maka kepuasan publik akan bisa tercapai, sementara dengan informasi yang berkualitas maka kredibilitas lembaga (bukan perorangan) di mata publik akan terangkat.

Di situs PK, panitia dengan lugas menyatakan ‘Anda — pembaca sastra Indonesia — bisa ikut memilih karya terbaik untuk menentukan cerita pendek dan puisi Indonesia terbaik 2008’. Kemudian dalam penjelasannya disebutkan ‘Anugerah Sastra Pena Kencana merupakan penghargaan untuk cerita pendek dan puisi Indonesia yang diadakan oleh PT. Kharisma Pena Kencana. Setiap tahun akan dipilih 20 cerpen dan 100 puisi yang berasal dari pemuatan di 12 surat kabar nasional dan lokal. MSetelah diterbitkan sebagai buku oleh Gramedia Pustaka Utama, masing-masing katagori dipilih satu Cerpen/Puisi Terbaik Pilihan Pembaca melalui polling SMS pembaca. (Catatan : kesalahan pada kata ‘setelah’ yang menjadi ‘Msetelah’ bukan dari saya, tapi masih ada di situs PK yang tidak pernah dilirik sama sekali untuk diperbaiki).

Apa yang dibutuhkan oleh publik dari panitia program ini? Kejelasan dalam sajian informasi yang menarik dan akurat. Ketika panitia mengumumkan hasil kerja dari Tim Juri yang terdiri dari 7 orang dengan reputasi yang tak perlu diragukan lagi, publik hanya disodori nama penulis dan karyanya. Tak dijelaskan apakah penulis itu mendapatkan imbalan karena karyanya terpilih sebagai yang terbaik. Belakangan setelah penyair Faisal Kamandobat menulis surat pengunduran dirinya, barulah publik mengetahui bahwa setiap puisi yang terpilih mendapatkan Rp 750.000,-. Artinya, jika ada penyair semisal mbah Sapardi, paklik Jokpin, paklik Sitok dan paklik Nirwan Dewanti yang masing-masing terpilih 3 puisinya, berarti setiap penyair itu menerima Rp 2.250.000,-. Suatu jumlah yang besar disbanding jika dimuat di media massa yang kisarannya rata-rata Rp 300.000,-, Upaya mengentaskan, menghargai penyair dalam hal ini tepat dan kena, apalagi lalu karya yang terpilih dibukukan dengan cantiknya dan dijual cukup mahal.

Kebutuhan lainnya tentunya bisa dideretkan di sini. Mulai dari apa criteria pemilihan yang diberikan oleh tim juri, agar tidak menimbulkan persepsi miring seperti perkoncoan atau ternyata tak semua edisi dalam kurun waktu 1 November 2006 -31 Oktober 2007 dibaca. Belum lagi karya juri dan panitia yang ternyata masuk dan terpilih sebagai yang terbaik, meski untuk hal ini telah diberikan argumentasi baik oleh juri maupun masing-masing penulis.

Publik tentu tidak berbicara soal kepantasan atau kelayakan untuk karya para juri dan panitia itu, karena yang harus diperhitungkan di sini adalah soal kepatutan, tanpa perlu memberikan sikap mundur saja sebagai juri atau menarik karyanya untuk dimasukkan terbaik. Kepatutan ini berkaitan dengan ‘rasa’ dalam penerimaan publik. “Lho, kok?’, begitu kira-kira pertanyaan dalam hati. Bila publik menganggap tidak patut, bisa saja akan muncul perasaan nggak enak, jengah, malu bahkan jika dianggap keterlaluan akan menunjukkan sikap protes.

Di sini, saya kira, dibutuhkan adanya kepekaan dari semua pihak yang terlibat dalam program Pena Kencana. Kepekaan untuk mengetahui bahwa sebaik apapun niat, yang disertai pengorbanan modal, waktu dan pikiran, belum tentu bisa diterima oleh semua pihak hanya karena penyampaiannya yang tidak menarik, tidak akurat. Sense of crisis harus ada, kecuali memang mau menutup mata seolah memang tak ada persoalan yang perlu ditanggapi dengan hati terbuka. (Yo)

Dikirim ke milis apresiasi sastra, 01 April 2008

You must be logged in to post a comment.