natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jun
25th

Sastra, Abdul Hadi WM, dan Orientasi Penciptaan

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

Bagian ke-2 dari tiga tulisan
Ahmadun Yosi Herfanda
Redaktur dan pelayan sastra
Peran dan keberadaan (eksistensi) Abdul Hadi WM dalam sastra Indonesia sangat paradigmatik. Dia tidak hanya muncul sebagai penyair dan sastrawan ternama, tapi juga membawa konsep estetika penting — puitika sufistik — yang cukup berpengaruh pada perkembangan kesastraan Indonesia pada masanya dan masa sesudahnya.
Jika kebudayaan adalah sistem [...]

Jun
25th

Cilincing

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sajak-sajak terlindas roda truk
usai dinyanyikan para sopir
sambil menghisap rokoknya
di tengah senyuman getir
kesedihan jalanan
menjelma umpatan
yang menutupi kekalahan
kupungut sisa sajak
kupilih kata yang tersisa di trotoar
bagi sepotong sore
dan harapan yang belum terinjak
di sini kata-kata
menjelma kepahitan
omah, 22juni08

Jun
25th

Seperti Saat Kau Datang

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

seperti perjalanan sebelumnya
ketika kaki terantuk di bebatuan
dan harapan tersangkut di pepohonan
selalu kuingat saat menelusuri pijar di matamu
bercakap sejenak saat itu, lalu mereguk harap
tak seperti kisah masa lalu
tentang hangat yang tiba sekejap untuk lenyap
tak pernah aku bayangkan
ada tatapan mata yang mampu membuatku tersedak
kadang menjelma pedang menusukku
hingga mimpi beriring sepi
kecuali darimu, entah darimana cerita ini ada
di sebuah [...]

Jun
25th

Lebak Bulus

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sedang digalakkan lingkungan hijau
pot-pot dibagikan, pohon ditancapkan
‘lingkungan kudu ditata biar mempesona’,
seru pak lurah saat meresmikan
padahal dasar kali butuh diuruk
dari timbunan sampah, slogan dan pidato
padahal banjir itu soal manusia yang kemaruk
bukan sekedar bagi beras atau mie instan
warga hanya bisa menerima
tak ada yang ingin bertanya soal kemiskinan
kapan akan dirapikan
karena tahu bahwa soal nasih cumalah angka
yang didata seadanya [...]

Jun
18th

Ziarah Waktu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sebenarnya bukan tiba-tiba
saat membaca kecemasan merayap
begitu pekat, begitu pengap
dan sedetik tersadar :
tanganku bosan melambai
pada kehampaan yang sama
kecemasan yang berulang
yang bukan semata bayang
geraknya telah menjadi santapan
setiap hari lewat sayap-sayap waktu
‘tak bisa terus menjadi gagu’, bisikku
sambil mengibaskan tangan
di tengah puisi yang bertebaran
dan jarum waktu menisik ragu
siang, 18juni08

Jun
17th

Sajak Sore

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

kau berikan lukisanmu :
matahari dengan aneka bunga
dan pelangi yang memucat
tak lupa poster di dinding
yang memudar tulisannya
kita telah melewati banyak musim
belakangan terasa kering mengiring
udara di sekitar kita turut mendung
dengan kata-kata yang murung
kau terus melukis :
bulan dengan gagak melintas
mencengkeram kain yang koyak
yang kita beli saat sore bergegas
sore, 17juni08

Jun
13th

Orang Ingin Tahu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

siang ini jalanan macet
hujan datangkan banjir
selokan mampet seperti hidup ini
macet dimana-mana
tapi jangan seperti itu, kekasihku
cintamu turut tersendat
karena perjalanan kita makin berat
karena beda dalam banyak hal
hingga pendakian makin terjal
orang menonton banjir dengan simpati
atau kadang hanya karena ingin tahu
begitu juga dengan cerita kita
orang menunggu bagaimana akhir kisah
dan bisa diperkirakan dengan mudah
akan banyak yang akan mencerca
jangan lupakan, kekasihku
banyak [...]

Jun
13th

Menjumlah

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

merujuk gundah yang melanda
seperti deras hujan di sudut jakarta
banyak kemudian yang terhampar
hingga sulit dihitung berapa jumlahnya
tapi berapapun angka yang ada
hati terus merambat hati
seperti juga saat duka menghampiri
tak ada gembira yang melambai
wajah demi wajah
dengan tatapan tajam dan ragu
seiring gelisah yang enggan berlalu
merajam tajam
dan sambil memainkan pena
kujumlah sendiri semua gundah
siang, 29feb08

Jun
13th

Tak Pernah Ada Sia-sia

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

malam tiba-tiba mengirimkan pesan
tentang ikatan yang makin renggang
seperti puisi yang datang
tak tahu bagaimana menampiknya
kerut langsung saja menjadi karat
seputar tanya segera tiba
kerlip gelap begitu saja
dingin ini menjelma gerah
bait yang belum sempat terkait
segera kutafsir lagi kata demi kata
apakah rentang waktu meremang
hingga sayang berubah gamang
perlahan kenyataan bicara
perjalanan memang tak mudah
bagi kangen dan gundah
seperti juga kenyataan :
tak pernah ada [...]

Jun
13th

Pucuk di Uluwatu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

senja yang sejenak tenggelam
adalah irisan masa silam
yang terpotong pisau waktu
di ruang uluwatu
esok yang akan kita sapa
dengan embun di kelopak bunga
adalah ranting perjalanan
dari rerimbun dedaunan
beriring kemarin dan nanti
kutuliskan sajak ini
buat pucuk yang bersemi
dari perjalanan hati
uluwatu, 18Des07