Bagian ke-2 dari tiga tulisan Ahmadun Yosi Herfanda Redaktur dan pelayan sastra Peran dan keberadaan (eksistensi) Abdul Hadi WM dalam sastra Indonesia sangat paradigmatik. Dia tidak hanya muncul sebagai penyair dan sastrawan ternama, tapi juga membawa konsep estetika penting — puitika sufistik — yang cukup berpengaruh pada perkembangan kesastraan Indonesia pada masanya dan masa sesudahnya. [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sajak-sajak terlindas roda truk usai dinyanyikan para sopir sambil menghisap rokoknya di tengah senyuman getir kesedihan jalanan menjelma umpatan yang menutupi kekalahan kupungut sisa sajak kupilih kata yang tersisa di trotoar bagi sepotong sore dan harapan yang belum terinjak di sini kata-kata menjelma kepahitan omah, 22juni08
baca selengkapnya |
No Comments »
seperti perjalanan sebelumnya ketika kaki terantuk di bebatuan dan harapan tersangkut di pepohonan selalu kuingat saat menelusuri pijar di matamu bercakap sejenak saat itu, lalu mereguk harap tak seperti kisah masa lalu tentang hangat yang tiba sekejap untuk lenyap tak pernah aku bayangkan ada tatapan mata yang mampu membuatku tersedak kadang menjelma pedang menusukku hingga [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sedang digalakkan lingkungan hijau pot-pot dibagikan, pohon ditancapkan ‘lingkungan kudu ditata biar mempesona’, seru pak lurah saat meresmikan padahal dasar kali butuh diuruk dari timbunan sampah, slogan dan pidato padahal banjir itu soal manusia yang kemaruk bukan sekedar bagi beras atau mie instan warga hanya bisa menerima tak ada yang ingin bertanya soal kemiskinan kapan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sebenarnya bukan tiba-tiba saat membaca kecemasan merayap begitu pekat, begitu pengap dan sedetik tersadar : tanganku bosan melambai pada kehampaan yang sama kecemasan yang berulang yang bukan semata bayang geraknya telah menjadi santapan setiap hari lewat sayap-sayap waktu ‘tak bisa terus menjadi gagu’, bisikku sambil mengibaskan tangan di tengah puisi yang bertebaran dan jarum waktu [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
kau berikan lukisanmu : matahari dengan aneka bunga dan pelangi yang memucat tak lupa poster di dinding yang memudar tulisannya kita telah melewati banyak musim belakangan terasa kering mengiring udara di sekitar kita turut mendung dengan kata-kata yang murung kau terus melukis : bulan dengan gagak melintas mencengkeram kain yang koyak yang kita beli saat [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
siang ini jalanan macet hujan datangkan banjir selokan mampet seperti hidup ini macet dimana-mana tapi jangan seperti itu, kekasihku cintamu turut tersendat karena perjalanan kita makin berat karena beda dalam banyak hal hingga pendakian makin terjal orang menonton banjir dengan simpati atau kadang hanya karena ingin tahu begitu juga dengan cerita kita orang menunggu bagaimana [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
merujuk gundah yang melanda seperti deras hujan di sudut jakarta banyak kemudian yang terhampar hingga sulit dihitung berapa jumlahnya tapi berapapun angka yang ada hati terus merambat hati seperti juga saat duka menghampiri tak ada gembira yang melambai wajah demi wajah dengan tatapan tajam dan ragu seiring gelisah yang enggan berlalu merajam tajam dan sambil [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
malam tiba-tiba mengirimkan pesan tentang ikatan yang makin renggang seperti puisi yang datang tak tahu bagaimana menampiknya kerut langsung saja menjadi karat seputar tanya segera tiba kerlip gelap begitu saja dingin ini menjelma gerah bait yang belum sempat terkait segera kutafsir lagi kata demi kata apakah rentang waktu meremang hingga sayang berubah gamang perlahan kenyataan [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
senja yang sejenak tenggelam adalah irisan masa silam yang terpotong pisau waktu di ruang uluwatu esok yang akan kita sapa dengan embun di kelopak bunga adalah ranting perjalanan dari rerimbun dedaunan beriring kemarin dan nanti kutuliskan sajak ini buat pucuk yang bersemi dari perjalanan hati uluwatu, 18Des07
baca selengkapnya |
No Comments »