natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jun
9th

Pasar Malam di Wapres Bulungan

Files under JejakMedia, Liputan, Sastra - Budaya | Posted by blue4gie

16/05/2008 02:06

Jakarta senja tanggal 30 April diguyur hujan deras yang menyebabkan beberapa wilayah ruas jalan tergenang air. Mobil-mobil melambat. Motor berteduh di bawah jembatan layang memenuhi lebih dari separuh lebar jalan, membuat antrean panjang mobil. Cuaca Rabu petang itu membuat nyali ciut dan orang-orang cenderung ingin segera tiba di rumah, namun apa daya lalu-lintas tersendat oleh kepadatan kendaraan.

Namun situasi dingin dan basah itu tak memengaruhi acara yang hendak digelar di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan. Sejak pukul 18:30, kursi-kursi mulai terisi. Ada apa gerangan malam itu? Sedari beberapa minggu sebelumnya, sudah beredar desas-desus akan ada acara menarik yang melibatkan banyak seniman sastra dan musik, diselenggarakan di Wapres Bulungan. Menurut penggagasnya, Johanes Sugianto (Jo), acara “campur-campur” itu dinamai “Pasar Malam”. Terbayang akan banyak pertunjukan di sana-sini, puluhan tukang jualan, permainan dan hiburan… Bukan itu! Ternyata “pasar malam” merupakan ringkasan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam. “Rencananya, kegiatan ini akan diadakan rutin setiap Rabu malam di pekan terakhir setiap bulan,” demikian ujar Jo.

Acara malam itu, sebagai malam perdana, cukup memberikan warna tersendiri, meskipun penampilannya belum banyak ragam: masih di sekitar pembacaan puisi dan musik. Beberapa pembaca puisi, mencoba melakukan kreativitas yang tak biasa. Misalnya kelompok Mata Kail yang menyalakan kompor dengan wajan di atasnya. Setiap puisi yang selesai dibaca, diremas lalu dimasukkan ke atas wajan panas itu. Sepasang penyair jalanan yang mempromosikan bukunya bakal meluncur bertepatan ulang tahun Jakarta, usai membacakan dua puisi, menarik iuran berupa saweran dari para penonton.

Band The Rich asuhan Akmal Nasery Basral membuka acara, sehingga malam berhujan serentak hangat. Kudapan berupa jajan pasar disuguhkan di depan para tamu yang terdiri dari beberapa komunitas milis. Di antaranya adalah Apresiasi Sastra, BungaMatahari, Kemudian.com, Warung Puisi, serta para peminat kesenian dan bahkan orang kantoran. Tampak hadir Ramdan Malik dari Komunitas Leo Kristi, Hudan Hidayat dari Institute Creative Writing. Banyak pula wartawan media cetak, dua di antaranta Sihar Ramses Simatupang (Sinar Harapan) dan Dony Maulana (Radio BBC).

Pasar Malam yang dipandu oleh sepasang MC, Feby Indirani dan Vivi, berselancar cukup akrab. Perpindahan mata acara yang terkadang terganggu oleh jeda panjang karena persiapan sang penampil lebih disebabkan karena baru pertama kali terselenggara. “Saya hanya diberi waktu seminggu untuk merancang logo dan grafis untuk banner serta kaos,” demikian ungkap Zai Lawanglangit, yang aktivitasnya banyak di dunia advertising . Tetapi toh background panggung itu cukup menarik, dengan satu kalimat: “banyak pintu menuju sastra.”

Tentu banyak! Warung Apresiasi Bulungan salah satu wadahnya. Beberapa komentator yang diwawancarai oleh Radio BBC malam itu juga mengatakan antara lain: kegiatan ini merupakan media ekspresi para penyair dan penggiat seni yang bebas menyampaikan gagasan kreatifnya. Jangan lupa, Bulungan telah melahirkan banyak penyair besar. Acara semacam itu menjadi alternatif yang sehat ketimbang sibuk saling menyerang antarkomunitas.

“Ide kegiatan ini awalnya saya lontarkan kepada Yonathan Rahardjo, kemudian digodok ramai-ramai. Kami hanya ingin melepaskan sekat-sekat antar pribadi peminat sastra yang mungkin merasa sungkan untuk masuk ke salah satu komunitas, sementara dia bukan anggota. Pasar Malam juga bermaksud mendekatkan sastra kepada masyarakat,” Jo menjelaskan panjang lebar.

Sementara itu Clara Shinta, yang malam itu tampil membaca dua puisi Johanes Sugianto merasa surprised melihat kegiatan positif dan orang-orang yang melebur satu sama lain.

Disebut paguyuban tentu ada pengurusnya. Benar, memang itu menjadi semacam organisasi yang bisa bekerjasama dengan pihak mana pun. Rencananya, bulan depan (28 Mei) akan dilengkapi dengan diskusi pendek. Seperti halnya di malam perdana, naik ke atas panggung Fradhyt Fahrenheit, seorang penulis buku best seller Beauty for Sale dan Beauty for Killing . Pada akhirnya, panggung Pasar Malam akan menjadi ajang yang menampung segala aspirasi seni yang berakar pada sastra.

Sebagai awal, langkah ini patut didukung. Setidaknya penyair Amien Kamil, Pakcik Ahmad, Sahlul, Fahmi (dari Yogya), Yonathan Rahardjo, dan lain-lain, bisa tampil dengan semangat yang kebersamaan dan persahabatan. Pementasan aneka ragam yang dibiayai secara gotong royong ini juga dapat dimanfaatkan untuk arena penjualan buku sastra penerbit indie, dengan syarat penulisnya harus hadir. “Reboan” (hari Rabu), menurut Jo, hanyalah salah satu kegiatan yang difasilitasi oleh Wapres Bulungan. Kemungkinan akan meluas dengan kegiatan penerbitan jurnal dan pembelajaran sastra melalui diskusi yang tempat bisa di mana saja.

(Kurnia Effendi)
Sumber : http://www.tabloidparle.com/news.php?go=fullnews&newsid=1721

You must be logged in to post a comment.