natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Jun
13th

Impoten

Files under Cerpen | Posted by blue4gie

Cerpen : Johannes Sugianto

“Mas, coba periksa ke dokter”
‘Lho buat apa? Aku cuma pilek dan batuk saja, kok. Paling besok juga sudah sembuh’

“Bukan untuk yang sakit itu. Kalau Cuma flu saja dikeroki juga sehat lagi. Tapi coba ke dokter spesialis, karena kamu sepertinya sudah impoten?”

“Hahhhh…!”

Aria ingat percakapan dengan isterinya Kartika, lima hari lalu ketika lewat larut malam dan si kecil, Nadia sudah terlelap di samping mereka. Bermula obrolan itu berkisar kejadian sehari-hari di rumah, arisan keluarga ke luar kota yang perlu dihadiri atau tidak hingga rencana pengecatan dinding ruang tamu yang sudah kusam. Entah darimana Tika mendapatkan pemikiran itu, tapi apa yang dikatakannya membuatnya kaget.

Dua hari ini hal itu jadi bahan renungannya. Kebetulan di kantornya sedang tak banyak pekerjaan. Produksi iklan layanan masyarakat dari sebuah departemen sudah selesai beberapa hari yang lalu, jadi sebagai marketing director agak berkurang kesibukannya. Seharian itu juga suasana kantor tidak riuh seperti biasanya, karena yang biasa membuat keriuhan sedang bertugas ke Pekanbaru.

Aria adalah sosok yang mengundang kagum rekan-rekannya di ‘Biru Agency” itu, terutama yang wanita. Sosoknya ideal sebagai lelaki, tidak tampak buncit perutnya meski usianya sudah 38 tahun, berkumis dan berpenampilan tidak formal. Secara fisik dia juga merasa tak ada masalah apapun, meski belakangan memang jarang berolahraga lagi sejak kesibukannya terus mendera.

Sedangkan isterinya, Tika yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asing adalah wanita berusia 33 tahun dengan tubuh yang membuat iri sesamanya. Mantan peragawati ini rambutnya sebahu, ikal, beralis tebal dan suka pakaian modis tapi tidak norak.

Asbak di meja Aria sudah hampir penuh. Dari pagi hingga siang dia terus di ruang kerjanya. Beberapa surat yang telah dipilah oleh Neni, sekretarisnya dibiarkannya saja, tak ditengoknya. Segelas kopi juga hampir ludes diminumnya.

Masih terus dpikirkannya ucapan Tika itu. Rasanya, tak ada yang salah dengan kemampuannya sebagai laki-laki. Biar dia tak perlu membuktikannya dengan wanita lain, tapi rasanya bukan itu solusinya.

Dicobanya menguraikan kejadian-kejadian masa lalu yang mungkin berkaitan dengan ‘ketidakberdayaannya’ sebagai laki-laki menurut versi Tika. Meski banyak peluang, godaan bahkan ajakan terselubung atau terang-terangan dari beberapa wanita yang dikenalnya, tapi tak pernah disambutnya. Termasuk juga dari relasi bisnisnya yang pernah menjamunya di klub-klub eksekutif yang banyak menjamur di Jakarta ini, dengan berbagai fasilitas plus plus yang menggiurkan. Ada salah satu ladies escort, Nirmala namanya yang pernah jatuh cinta dan tak lelah mengejarnya. Dengan susah payah Aria berhasil menghindar dari kejaran itu.

Aria menarik nafas panjang. Dinyalakannya lagi sebatang rokok, sambil mengumpat sendiri karena tinggal dua batang lagi. Segera dimintanya sekretarisnya untuk memanggil office boy. Kali ini rokok ini akan menjadi kererta api baginya. Hal yang selalu dilakukannya jika stress karena pekerjaan atau sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya.

***

Tiba-tiba melintas begitu saja kejadian sembilan bulan lalu, yang telah coba ditutupinya dengan memaafkan Tika. Kejadian yang tidak pernah dibayangkannya akan dilihatnya. Tika yang berada di kamar bersama seorang lelaki, saat Aria pulang kerja dan membuka pintu itu.

Aria diam saja ketika itu, menahan gejolak perasaannya. Tangannya terkepal, dengan wajah memerah. Sekilas dilihatnya ada besi di samping pintu, milik tukang bangunan yang baru membetulkan atap rumah. Tapi akal sehatnya ternyata masih ada. Dia ingat ada Nadia. Bagaimana anak itu nantinya jika mempunyai ayah yang mendekam di penjara?

Akhirnya Aria memilih berlalu, duduk di ruang keluarga dengan dada kembang kempis. Dipejamkan matanya. Dan ketika membuka mata, sempat sosok bayangan laki-laki itu berlalu, tanpa mengucapkan satu katapun, diiringi langkah Tika yang bergegas mengantarnya.

Ya, sejak itulah Aria mulai merasakan adanya sekat tebal yang tak terlihat mata. Meski sudah dimaafkannya perbuatan Tika, apalagi isterinya ini bersumpah tak melakukan apapun di kamar itu, tapi tak jarang bayangan itu mengganggunya. Masa lalu memang tak bisa dicegah oleh apapun, oleh siapapun, akan menyeruak mencari jalan keluar.

Aktivitas seksnya juga makin jarang dengan Tika. Pulang kerja, kadang Tika dan Nadia sudah tidur. Aria lalu membenamkan diri ke kamar kerjanya, sambil menyelesaikan novelnya yang pertama kali. Novel tentang dunia percintaan, intrik-intrik politik dan perselingkuhan di lingkungan sebuah kerajaan. Sudah dua bulan dia melakukan riset tentang sebuah kerajaan di Jawa Timur, yang di masa jayanya dulu sangat dikenal dengan ketangguhan angkatan perangnya.

Tika sendiri meski tahu perubahan suaminya, tetap tak pernah meminta maaf atas kejadian itu. Dia tetap berpendapat bahwa dia tak melakukan apapun. Baginya, kejadian waktu itu tak direncanakannya, karena Rudi yang teman kuliahnya sedang bertamu dan ketika hendak mengambil keyboard di atas almari dia membantu. Sedang bagi Aria, apa sulitnya meminta maaf dan berjanji tak mengulanginya lagi. Tidak masuk akal alasan itu, ada ruang tamu kenapa harus ke kamar?

Kemudian yang membuat hati Aria bertambah beku, adalah ketika tiba saat Lebaran. Tika tak mau meminta maaf atas segala kesalahannya. Aria yang duduk di bangku, usai shalat Ied, hanya bisa terbengong saja ketika isterinya itu lewat. Sempat terlintas dalam pikirannya, apakah jantung Tika telah terbuat dari plastik hingga tak ada lagi perasaannya seperti dulu.

***

Di kantornya, Tika masih menyelesaikan lembaran terakhir surat yang diminta oleh direktur-nya. Lelaki setengah baya itu sedang menunggu surat perjanjian yang harus dibawanya ke Singapore besok. Tak lama kemudian surat itu setelah dicek lagi untuk tidak terdapat kesalahan yang tak perlu, akhirnya dibawanya masuk.

Kembali ke mejanya, Tika segera tenggelam dalam lamunannya yang sudah berawal dari pagi. Sejak Aria diam saja sebelum dia turun di lobby kantornya. Sepanjang perjalanan tak banyak yang dibicarakan oleh keduanya, dan Tika tahu dari sahutan suaminya yang singkat-singkat saja sepertinya malas untuk menjawabnya.

Tapi perubahan sikap itu sudah terjadi dua bulan ini. Aria yang selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Aria yang tak lagi sehangat, bahkan sepanas dulu di ranjang. Jika terjadi percintaan, itu hanya berlangsung singkat saja karena Aria langsung tertidur. Tika tahu, suaminya bukanlah laki-laki yang lemah, bahkan memiliki libido yang tinggi.

Percintaan dua hari lalu dimulai dari Tika, yang sebagai wanita normal juga merasakan desakan-desakan kebutuhan biologis. Dibuatnya Aria supaya bergairah dan berhasil, meski didapatinya tak lagi ada dekapan seperti dulu. Tak lagi ada elusan di rambutnya setelah mereka usai, dengan keringat masih bercucuran. Seperti bercinta dengan mayat hidup.

Sungguh, wanita cantik ini tak habis mengerti, apa sebenarnya yang terjadi. Firasatnya mengatakan, ada wanita lain di hati suaminya, tapi tak ada bukti. Apakah karena kejadian sembilan bulan lalu, begitu tanyanya dengan wajah sedikit memucat. Ya, pastilah karena itu. Jika bukan karena seorang wanita, pastilah itu dan tak ada lagi sebab yang lain.

Lama Tika terdiam. Rudi hadir begitu saja, setelah sekian tahun tak bertemu. Saat itu, setelah jalan-jalan di Plasa Senayan bersama teman-teman kantornya, mereka bertemu tak sengaja di sebuah kafe saat anteri untuk membayar di kasir. Berlanjut dengan saling telepon, yang awalnya bagi Tika hanya sebagai kelanjutan dari nostalgia masa lalu saat masih di kampus.

Hingga suatu hari, menuruti emosinya yang memang sering meletup, Tika mencurigai Aria mempunyai simpanan, berdasarkan pengaduan dari Betty, salah satu temannya semasa aktif di dunia catwalk. Tak diketahuinya, Betty mencintai Aria tapi tak pernah ditunjukkan pada sahabatnya ini. Sampai muncul keinginannya merebut lelaki yang tak pernah mau pindah dari hatinya itu dengan cara yang dibacanya dari sebuah novel. Betty tahu, Tika mudah percaya pada ucapan teman-temannya dan selalu khawatir suaminya direbut wanita lain.

Dari pertengkaran demi pertengkaran yang tak membuahkan hasil berupa pengakuan dari Aria, ditambah lagi dengan cemburunya, akhirnya Tika menjadi lebih dekat dengan Rudi. Makan siang yang semakin sering, curhat yang terus menerus saat bertemu, lewat sms atau telepon, akhirnya berakhir dengan percintaan di sebuah hotel. Kebetulan ketika itu terjadi, Rudi menginap di hotel itu karena sedang berlangsung seminar tingkat internasional dan dia bertanggungjawab sebagai salah satu ketua panitia. Kejenuhan, kemarahan dan rasa cemburu yang tak juga hilang akhirnya larut dalam dua gelas whisky yang meledak dalam percumbuan panas.

Tika makin terperangkap dalam permainan dengan Rudi. Permainan yang dianggapnya sebagai bentuk balas dendam karena Aria sendiri telah meniduri wanita lain tanpa mau mengakuinya. Permainan yang perlahan membelit menjadi perasaan cinta pada Rudi.

Karena itu, ketika Rudi mengantarnya setelah makan siang bersama Nadia dan Aria masih di luar kota, lalu memergoki keduanya di kamar, tetap ada ada rasa bersalah padanya. Toh mereka tak melakukan apapun, masih berpakaian lengkap, jadi tak ada bukti bagi Aria untuk menuduhnya berbuat mesum bersama Rudi.

***

Kantor itu sudah sepi. Jam sudah menunjuk angka 10. Tinggal satpam dan office boy, yang selalu setia menemaninya, menanti perintah boss satu ini apakah sekedar membeli nasi goreng, sate atau rokok. Aria memang dikenal ramah terhadap stafnya. Satpam yang usianya sudah lebih dari setengah abad ini ingat, ketika dalam keadaan bingung membayar uang masuk puteranya ke STM, tanpa diduga Aria memanggilnya dan memberinya amplop yang jumlahnya berlebih, hingga masih tersisa untuk menutupi biaya itu. ”Jangan pikirkan bagaimana mengembalikannya, pak Tohir. Ini bantuan dari saya pribadi, kebetulan kemarin mendengar kesulitan bapak. Moga-moga bisa membantu sekolah anak bapak. Sampaikan salam saya ya untuk keluarga di rumah.”

Aria baru saja membuka bungkus rokoknya yang ketiga sehari itu. Mie goreng yang baru saja disantapnya masih teronggok di kursi. Kakinya ditaruh di meja. Lengkingan gitar Eric Clapton yang menyayat mengiringi suara Phil Collin dalam ’I wish rain down’ tak mampu mengusir gundah hatinya.

Baru saja ditemukan jawaban atas masalah impoten yang dipersoalkan oleh Tika. Dan Aria tahu, tak diperlukan ahli dari manapun untuk mengobatinya, karena dokter yang tepat adalah dirinya sendiri. Ya, penyebabnya adalah perasaannya sendiri. Perasaan yang telah mati terhadap isterinya, hingga yang terjadi adalah basa-basi, dialog seadanya dan juga percintaan seadanya.

Telah direnungkannya semua yang telah terjadi dalam setahun belakangan ini. Perjalanan rumah tangga yang dibinanya dari nol, ketika mereka masih tinggal bersama orangtua Tika, hingga memiliki tempat tinggal seperti sekarang ini. Sebuah rumah yang mewah, di komplek perumahan mewah yang asri.

Hampir sepuluh tahun rumah tangga itu diarunginya. Dalam tiga tahun terakhir ini, dirasakannya peran yang dibawakannya selama ini tak lebih dari sebagai suami, kepala rumah tangga dan pekerja yang mencetak uang untuk kebutuhan rumah. Biarpun gaji Tika sebagai sekretaris juga mencukupi, tapi Aria tak pernah memintanya untuk turut dalam pemenuhan kebutuhan yang ada.

Aria tahu, perasaannya pada Tika bagai obor yang perlahan padam, entah tertiup angin atau mendapat tetesan air hujan sepanjang bulan. Ditelaahnya perasaannya sendiri dalam renungan di kantor, saat ke daerah bersama stafnya, ketika menikmati jalanan yang lenggang tengah malam dan dalam kepulan asap rokoknya.

Dia tak mau membawa semua gelisahnya pada wanita lain, seperti Nirmala yang masih setia menantinya membuka diri. Pelarian itu malah akan memberinya beban tambahan. Beban baru yang tak ingin dipikulnya hingga dia menemukan jawaban atas apa yang telah terjadi.

Dalam satu bab novel yang hampir selesai itu, dimasukkan semua luka dan resahnya pada tokoh Panji yang lama kelamaan mirip dirinya, dengan segala nasib yang tak beda.

Pernah terbersit keinginannya untuk menceritakan semua ini pada sahabatnya, tapi diurungkannya karena berarti membuka aib dirinya sendiri. Kadang ingin mengadu ke ibunya yang pasti mendengarkan dan memberinya jalan keluar. Tapi diurungkan juga niatnya ini, karena bagaimanapun pasti membawa luka sekecil apapun pada wanita yang melahirkannya itu.

Aria makin gelisah. Hingga keesokan harinya, hingga hari-hari berikutnya. Hubungannya dengan Tika makin mendingin. Seolah ada tumpukan salju di setiap sudut ruang rumah mereka.

Tak ada yang mau memulai berbicara tentang apa yang dirasakan, tentang apa yang terjadi. Keduanya menjadi robot yang terbungkus pakaian mewah, terlindungi kaca mobil yang melaju di jalan tol dengan mulusnya. Keduanya menjadi manusia ketika hadir dalam resepsi perkawinan, pesta-pesta atau bertandang ke rumah orangtuanya masing-masing sambil membawa Nadia.

***

Malam, sudah larut malah, Aria memanggil Tika yang hendak bersiap tidur.

”Aku mau bicara. Kita sama-sama tahu apa yang terjadi pada diri kita belakangan ini.”

”Ya, aku tahu dan mencoba mengerti kenapa. Apakah kamu mencintai wanita lain dan akan meninggalkanku?”

”Bukan. Bukan itu. Kamu tak akan pernah mengerti, karena memang tak pernah merasa bersalah. Tapi sudahlah, apa yang sudah terjadi tak usah kita ungkit lagi”

”Lalu…?”

”Aku sudah lelah, Tika. Biarkan aku pergi. Biarkan aku menenangkan diri, tak usah mencariku lagi. Aku telah mengajukan surat pengunduran diri di kantor dan besok tak lagi bekerja di sana. Akan kubawa semua kenangan kita, pahit dan sukanya. Jika kamu bahagia dengan Rudi, jalanilah aku tak akan menghalangimu”

Tika seketika terdiam. Sungguh tak diduganya, Aria yang biasanya tak banyak omong kali ini berbicara dengan lugas. Menyebut lagi nama yang sepertinya haram untuk didengar lagi di rumah itu. Tergagap dia berkata, tapi tak satupun kata yang diucapkannya.

Dia tahu percuma saja. Aria memang pendiam, tapi memiliki sifat yang keras jika meyakini sesuatu yang dianggapnya benar. Aria tak akan mundur atas prinsipnya, siapapun tak akan bisa menghalanginya.

Perlahan matanya basah. Ditatapnya dengan nanar ketika Aria membawa tiga koper yang sudah disiapkannya di ruang tamu. Dan Tika tetap termangu hingga deru suara mobil itu lenyap dari pendengarannya. ***

You must be logged in to post a comment.