natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Aug
29th

Ringkih

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

berpuluh rokok yang menyengat dan wanita yang berkeringat adalah sekedar saja menemani kaki yang terasa majin rentah hari-hari makin tampak compang-camping kepalsuan jadi tetesan anggur lebih dari segelas bir sedang mata makin letih menghitung berapa banyak yang tersisa tawa yang masih ada dalam kepalsuan dan kelelahan begitu ringkih kita seperti cerutu mencumbu api saat berhadapan [...]

Aug
28th

Sisa Mimpi

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sambil menenggak sebotol mimpi dari air mata orang-orang kelaparan aku teringat sejarah kemerdekaan yang berawal dari timbunan mimpi untuk menjadi diri sendiri telah lewat enampuluh tahun usia kita telah beralih wajah makin menjadi orang lain hingga menjadi asing di rumah sendiri mimpi juga telah beralih nama dalam pasal dan ayat undang-undang yang ditukar dengan tumpukan [...]

Aug
26th

Rendra: Aceh Pelopor Bahasa Melayu!

BANDA ACEH, JUMAT–Sastrawan dan budayawan WS Rendra mengatakan, Aceh merupakan pelopor bahasa Melayu baru yang diperkenalkan Hamzah Fansyuri, ahli tasawuf pertama yang menggunakan bahasa Melayu dalam sastra. “Dari Aceh inilah banyak orang tekun berusaha menerjemahkan bahasa-bahasa dari Arab, India, Parsi sehingga semakin matang menjadi sastra yang tinggi. Hal itu pertama kali terjadi pada masa Hamzah [...]

Aug
26th

Tarung Penyair Panggung di Tanjungpinang

tertoreh sebagai Berita, PUISI | Leave a Comment

Senin, 25/8/2008 | 16:25 WIB JAKARTA, SENIN –Pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (27/8) di Gedung Kesenian Aisah Sulaiman, menggelar lomba baca puisi terbuka untuk penyair. Lomba bertajuk Tarung Penyair Panggung ini, diikuti antara lain Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, Hoesnizar Hood, Lawen Newal, Teja Alhabd, Bhinneka Surya, Efiar M Amin, Said Parman, Safaruddin dan Heru [...]

Aug
22nd

Kalau Saja Kau Tahu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

suara yang kubiarkan menyusup di pori-pori pagi dengan desah yang pasti tak sengaja kau buat adalah embun yang luput dari matahari setiap hari kuhadapi pertarungan bukan untuk meraup menang atau kalah tapi untuk mengolah kehidupan kalau saja kau tahu suaramu bagai simfoni dengan harpa yang membuatku makin tahu bahwa lelah dan kalah bisa menjadi teman [...]

Aug
21st

Apa nikmatnya jadi orang merdeka?

tertoreh sebagai Sastra - Budaya | Leave a Comment

(Undangan Terbuka Reboan #5. Wapres Bulungan, 27 Agustus 2008, pkl. 19.00 – selesai) Orang merdeka bisa diartikan sebagai orang yang bebas berkumpul dan berpenda- pat. Oleh karena itu, kami dari PaSaR Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam), me- ngundang anda kembali untuk hadir dan menikmati suguhan musik dan puisi serta berbincang-bincang tentang sastra dan komunitas terutama [...]

Aug
14th

Sang Presiden Penyair Raih Award

tertoreh sebagai Berita, PUISI | Leave a Comment

Rabu, 13/8/2008 | 17:41 WIB JAKARTA, RABU–Penyair Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai” Presiden Penyair Indonesia” meraih penghargaan bergengsi “Achmad Bakrie” 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra. “Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno,” kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu, [...]

Aug
13th

O LA LA

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

mata yang menancapkan gelisah mengusir bait yang baru tiba jadilah puisi yang tak utuh tapi di rimbun alismu banyak kata yang belum kupetik meski isyarat itu tampak jelas seperti gerimis yang rintik sambil terus bicara tentang malam diselingi tanya yang diam kutata lagi bait yang tadi biar sunyi bergegas pergi pagi,12agt08

Aug
13th

Di Kafe

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

pesanan sudah tiba salad kata dan segelas huruf melengkapi asbak yang penuh dengan puntung gelisah pagi,12agt08

Aug
13th

Resensi yang Maknyus

tertoreh sebagai Coretan | Leave a Comment

Terus terang, ulasan Dursilawati Ilenk binti Sang Hyang Narada akan ‘Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan’ yang sudah meluncur di milis belum pernah saya baca. Baru pagi ini mencoba nyimak di kompas.com (http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/08/12/2103526/menyemir.sepasang.s\ epatu.sendiri.dalam.hujan). Terus terang, resensi ini jadi kriuk-kriuk dikunyah, malah kadang seperti empang di dekat rumah Pakcik yang dinaungi rimbunan pohon bambu di sekitarnya. [...]