August 7th, 2008
tulisan Ana Mustamin, diambil dari http://www.ryanamustamin.com/
(Surat untuk Kurnia Effendi)
APA kabar, Mas? Lama kita gak saling menyapa. Meski demikian, kurasa, kita gak pernah sungguh-sungguh menjauh. Buktinya, menjelang 30 Juli lalu, aku tetap ingat bahwa ada sebuah hari yang pernah kita beri tanda - yang rasanya akan tetap kukenang jejaknya sampai kapanpun. Sebuah ‘monumen’ yang menandai hubungan kita: persahabatan yang indah, tulus, dan barangkali tak ada duanya.
Menjelang tanggal bersejarah itu, aku dikabari Mas Yo (Johannes Soegianto - kepala suku Komunitas Sastra Reboan), bahwa “Pasar Malam†akan digelar di Warung Apresiasi - Bulungan, pada pekan terakhir Juli. Tepatnya di 30 Juli 2008! Dan, aku terlonjak. Hai, bukankah itu tepat 12 tahun “Seribu Puisi�
Sontak, aku kabari Mas Yo tentang peristiwa itu. Dan di luar dugaan, ia menawari aku untuk tampil membaca puisi di ajang itu. Kebetulan, tema Sastra Reboan kali ini bertajuk “Kenanganâ€. Astaga, kok bisa kebetulan begitu? Aku ‘panik’ sekaligus gembira. Panik, karena aku sudah sangat jarang tampil di panggung-panggung sastra. Tapi juga gembira, karena ternyata aku masih diberi kesempatan untuk mengenang peristiwa itu.
Orang lain mungkin bingung, apa sih yang istimewa pada tanggal itu? Dan mengapa kita tampak begitu kompak dalam urusan sastra? Aduh. Aku juga suka bingung menjelaskan. Bagaimana mengurai peristiwa dalam rentang waktu hampir seperempat abad? Bahkan, kurasa, orang-orang terdekat kita pun masing-masing, bisanya hanya mahfum. Mereka pasti paham bahwa cinta kita pada mereka tidak akan berkurang sekarat pun karena ‘hubungan unik’ ini. Bahkan sebaliknya, akan terus menjelma menjadi energi positif yang juga akan mengaliri orang-orang terkasih kita. Bukankah kita adalah dua batu, yang jika saling digosokkan satu sama lain akan memercikkan api: api kreavifitas. Bukankah muara dari semuanya adalah karya-karya yang indah (dan bahkan monumental untuk kita)?
Tigapuluh Juli, 12 tahun lalu, rasanya tetap hangat di benak aku. Ketika kita duduk mencangkung di tanggul pantai Losari Makassar (saat itu masih bernama Ujungpandang) menjelang paruh malam. Berdua saja. Hanya ditemani kesiur angin. Dan lampu mercusuar di kejauhan. Kita berbincang tak henti-henti. Membuka kenangan berlipat-lipat. Saat itu, kuingat, ada penyesalan menyesak, lantaran kita tahu bahwa kita dipertemukan pada tahun yang - menurutmu - salah. Bukankah kita sudah merancang pertemuan ini jauh-jauh hari di Bandung? Bahkan 10 tahun sebelumnya!
“Seharusnya sudah banyak karya yang kita lahirkan!†katamu, sungguh-sungguh.
“Lebih banyak dari yang sekarang!†aku menimpali.
“Dan seharusnya Na tidak mandek seperti ini!â€
Aku terdiam. Aku tahu bahwa saat itu kamu memergoki aku dalam kondisi yang tidak terlalu baik.
“Bagaimana menebusnya?â€
Menebus! Aku suka sekali pilihan kata itu. Seperti ‘pintu’ yang terkuak sedikit, menyisakan celah bagiku untuk keluar dari kesedihan, kemandekan. Begitu banyak waktu terbuang. Begitu banyak peristiwa urung hadir hanya lantaran kita menciderai janji pertemuan.
“Mas benar-benar ingin menebus?†aku sangsi.
“Ya.â€
“Tulislah 1000 puisi!â€
Ahai. Matamu berbinar. Aku tahu, kamu sudah menyimpan lama obsesi itu. Tapi tidak ada yang memantik. Tidak ada ‘alasan’ untuk memulai. Tidak ada sesuatu yang membuatmu merasa ‘bersalah’ hingga harus menebusnya.
Dan akhirnya, di malam berikutnya, di rumah orangtuaku yang seluruh dindingnya berwarna putih, kamu mengukuhkan kesungguhan itu, “Akan kutulis 1000 puisi hingga akhir tahun nanti!†Dan diam-diam, aku ikut berjanji untuk menjaga dengan telaten agar tungku kreativitasmu terus menyala, berkobar. Setidaknya, sampai ‘proyek 1000 puisi’ rampung.
Aku bukan sekadar seorang ‘penantang’ kan? Setiap minggu suratmu melayang dengan sebundel puisi. “Mas harus menulis minimal 7 puisi dalam sehari!†kataku selalu mengingatkan. Di kemudian hari, kadang-kadang kubayangkan, betapa ajaibnya itu bisa berlangsung.
Padahal, kalau kita percaya dengan kesungguhan, dengan kekuatan sebuah hubungan, rasanya itu memang keniscayaan. Aku tidak sekadar berdiam diri, pasif menunggu paket kiriman puisi diantar pak pos (hiksss … waktu itu belum ada email!). Aku merawat lembaran-lembaran karya itu, menyimpannya dengan hati-hati, mengapresiasinya, dan mendistribusikannya ke berbagai media - agar orang lain ikut membacanya. Setiap malam, puisi itu kubaca ulang, berulang-ulang, hingga beberapa di antaranya aku hapal di luar kepala. Kurasa, itu seperti merapal ‘mantra’. Agar jiwaku terbang, menguntitmu, membayangi, ikut merasuk ke jiwamu, membuatmu selalu ingat akan sebuah komitmen. Kelak, di tanganmu, aku bahkan menjelma menjadi puisi itu sendiri.
Seperti janjiku pada persahabatan kita
Paragraf-paragraf yang kucairkan ke dalam
tabula rasa, kukirim padamu - entah untuk apa
Terperas seluruh darah pada luka memar
perjalanan seni - ini saat terindah untuk
mengakui ketakberdayaan
Haruskah kuakhiri tatih langkah ini?
Sedang engkau membakar tungku kalbuku,
Agar terus menyala
(Endiu, 1996)
Kurasa, itu periode persahabatan kita dengan kualitas terbaik. Karena melalui 1000 puisi, aku ikut melihat apa yang kau lihat, mendengar apa yang engkau dengar, dan merasakan apa yang kamu rasakan. Setiap detik, setiap hari, sepanjang waktu dalam 5 bulan tanpa jeda. Aku bahkan mendengar suara hatimu, tarikan nafasmu, kegelisahanmu, ketukan sepatumu, hingga detak jantungmu.
Belakangan aku tersadar, bahwa aku ternyata menjadi saksi sebuah proses kreatif - yang kurasa gak ada bandingannya. Engkau seperti pelari marathon di mana aku menjadi bayang-bayang di bawah matahari. Mungkin tidak akan pernah lagi kejadian serupa berulang. Bahkan ketika kita punya gagasan baru untuk membuat ‘monumen’ baru, dengan persiapan dan energi yang lebih ruah dan matang. Tidak akan pernah terjadi 2 kali!
Karena itu, malam ini, 30 Juli, 12 tahun kemudian, aku mengajakmu untuk mengenangnya. Aku memintamu untuk datang ke “Pasar Malam†- Paguyuban Sastra Rabu Malam. Aku ingin membaca ulang sesuatu yang pernah kita gurat di sepanjang Losari.
Mungkin aku bukan pembaca puisi yang baik. Tapi, setidaknya, aku pernah membuktikan bahwa aku pernah ada , dan menjadi sahabat sejati.
Di Pantai Losari (1)
Terkadang sunyi itu bukan milik siapa-siapa
Di pantai Losari, malam itu, tak ada ombak
Tak ada angin keras yang biasa datang sehabis
senja. Dari lampu yang tumpah ke laut,
kita membaca kisah-kisah lama
Bintang di lambung tahun yang kering
Menanti pelabuhan ini terjaga
Malam ini, tak ada ombak di pantai Losari
Ketika lembaran-lembaran agenda itu dibuka
Kita bertambah yakin: ternyata sunyi itu
bukan milik siapa-siapa
Di Pantai Losari (2)
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Terasa bagai kapal yang hendak melaut
Jangkar-jangkar amat berat ditarik
Dan langit yang kelam, mempersempit
keinginan pergi
Beribu-ribu bercak sinar terdiam di tempatnya
Tapi waktu tidak berhenti. Ada saja
upaya mempersiapkan matahari untuk
terbit lebih pagi
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Tiba-tiba aku lupa cara mengucapkan salam
Di tengah laut lepas, sebentar lagi,
bayangmu menjauh
***
You must be logged in to post a comment.