Rabu, 13/8/2008 | 17:41 WIB
JAKARTA, RABU–Penyair Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai” Presiden Penyair Indonesia” meraih penghargaan bergengsi “Achmad Bakrie” 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra.
“Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno,” kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu, ketika menjelaskan para pemenang penghargaan ini. Pada tahun 2008, terdapat empat individu pemenang serta sebuah lembaga penelitian di bidang kelapa sawit di Medan, Provinsi Sumatera Utara.
Ia mengatakan pula para pememang “Achmad Bakrie Award” tahun 2008 yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko serta Pusat Penelitian Kelapa sawit di Medan.
Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp150 juta. Namun, diingatkannya bahwa uang itu tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini akan diserahkan dalam waktu dekat di Jakarta.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Sementara itu, Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di Tanah Air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut “higgs”. Pusat Penelitian Kelapa Sawit” juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
SejaK tahun 2003 hingga 2007, “Achmad Bakrie Award” ini pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Darmono(sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo( pemikir sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial) serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas misalnya untuk bidang ekonomi. “Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar,” kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri atas tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama tahun 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka. “Sekalipun tim juri adalah anonim, tapi keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan,” kata Hamid.(ANT)
Sumber : Kompas, com/14 Agustus 2008
You must be logged in to post a comment.