Saya salut dengan sikap Saut Situmorang yang mengritisi panitia dan juri KLA 2008. Di sini saya ingin menyampaikan keluh kesah saya terhadap panitia KLA. Begini, ketika panitia KLA mengumumkan info agar mengirim judul karya yang ingin diikutkan KLA 2008 pada sekitar Juni 2008, saya dengan semangat mengirimkan kepada panitia dua judul buku puisi saya (Impian Usai dan Malam Cinta) untuk didaftarkan sebagai peserta kompetisi KLA 2008.. Selama saya punya karya, saya memang suka mengikuti berbagai lomba kesusastraan, sambil terus berharap agar sistem lomba itu sehat dan fair.
Namun apa lacur, ketika list daftar buku dikirimkan ke masing-masing juri, judul kedua buku saya sama sekali tidak tercantum. Hal ini saya tahu karena salah seorang juri mengabarkan kepada saya (mungkin dia merasa hal ini tidak adil bagi saya) bahwa buku-buku puisi saya tidak ada dalam daftar yang diterimanya. Tentu saja saya kaget dan ngomel-ngomel, sebab jelas-jelas saya dengan niat baik telah mengikuti aturan yang dibuat panitia KLA untuk mengirimkan judul buku. Namun kenyataan yang saya terima di luar dugaan. Memang pada 2006 (kalo tidak salah) saya pernah membuat tulisan esai (dimuat di Media Indonesia) mengritik system, panitia dan penjurian KLA yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Apakah ini menjadi sebab saya diblack list atau kasus saya ini hanya karena keteledoran panitia?
Karena tahu buku saya tidak dimasukkan daftar yang akan dinilai, saya langsung email ke panitia KLA untuk konfirmasi. Namun email saya tidak dibalas/ditanggapi. Namun KONON menurut salah seorang juri, kedua judul buku saya itu akhirnya disusulkan ke semua juri untuk dinilai dan batas waktu penyetoran nilai oleh semua juri diperpanjang yang dari waktu yang ditetapkan semula. Entah benar entah tidak, saya tidak tahu lagi.
Setelah melihat hasil long list KLA 2008, saya kaget, ternyata kedua buku saya tidak masuk 10 besar. Bagi saya ini wajar saja, mungkin kedua buku puisi saya kalah bersaing dengan buku lainnya. Namun yang buat saya kaget lagi, kenapa panitia dan juri masih mengulangi kesalahan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya? Tahun lalu buku puisi Oka Rusmini yang diterbitkan Grasindo ditarik dari daftar 10 besar karena buku kompilasi. Eeh…malah sekarang buku Saut Otobiografi yang malah masuk 10 besar, yang saya tahu jelas itu buku kompilasi sajak. Dan Saut telah mengritik dan menolak bukunya diikutkan ajang KLA 2008. Salut buat Saut!
Artinya panitia dan juri mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Mungkin lebih dungu dari seekor keledai yang paling dungu, terperosok ke lubang yang sama berkali-kali. Parah lagi, kenapa buku kumpulan puisi bersama bisa masuk? Padahal sebelumnya tidak pernah muncul kasus seperti ini. Hal ini terkesan sangat dipaksakan. Kalau tahu begitu, bukankah buku kumpulan puisi bersama sangat mudah ditemui? Kenapa buku kumpulan puisi bersama yang lain tidak lolos? Apa dasar pertimbangan juri?
Namun begitu, saya masih terus berharap agar panitia KLA, juri dan system yang dibuatnya menjadi lebih sehat, masuk akal, fair, di tahun-tahun mendatang.
Terakhir saya ucapkan selamat kepada para “jagoan†yang masuk 10 besar. Semoga bisa bertanding di tahap berikutnya.
Salam susastra,
Wayan Sunarta
You must be logged in to post a comment.