natural big tits world biggest tits monster tits tits and ass gigantic tits
Oct
28th

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

tertoreh sebagai Naskah, PUISI | Leave a Comment

OASE BUDAYA by : Theresia Purbandini Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan [...]

Oct
28th

Penyair Kampung yang Memikat

tertoreh sebagai Sosok | Leave a Comment

OASE BUDAYA by : Theresia Purbandini Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi. Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para penyair [...]

Oct
28th

Sastra Reboan, Panggung Sastra Alternatif

Monday, 27 October 2008 > Bersastra Tanpa Kerutkan Dahi Malam telah menunjukkan pukul 21.00. Dari tempat duduknya, di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Dharmadi menikmati pembacaan puisi Rukmi Wisnu Wardhani di panggung Sastra Reboan, sambil menghirup kopi panas. Di sekelilingnya para pencinta sastra juga sama santainya. Ada yang menulis SMS di handphone-nya, merokok, atau [...]

Oct
28th

Bermula dari Kegelisahan…

Acara Sastra Reboan pada awalnya kadang disebut Pasar Malam. Hal ini karena suasana yang tersaji mirip pasar malam, dengan berbagai aksi sastra di panggung Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Tapi sebutan itu juga disebabkan Sastra Reboan diselenggarakan oleh para pencinta sastra yang tergabung dalam Paguyuban Sastra Rabu Malam, yang disingkat dengan PaSar MaLam. Ide [...]

Oct
27th

Kusentuh Ingatanku

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

sepi tak beda dengan waktu berujung pada simpul yang sama seperti rambatan uban dan usia ah…aku memang semakin tua perut yang membuncit dan punggung makin renta hingga sering tak bisa menyanggah kata tapi cinta tak ada hubungannya dengan waktu dan usia saat diminta berhenti terus saja melaju dengan kekosongan dan keriuhan yang juga tak beda [...]

Oct
27th

Selalu Menemukan Dirimu

tertoreh sebagai PUISI | Leave a Comment

aku selalu menemukan dirimu tak hanya pada helai-helai rambutmu yang terserak di lantai atau meja rias selalu aku teringat padamu setiap melihat iklan di televisi atau sinetron dengan wajah cantik ada tawa yang menjelma tawamu ada senyum yang menggoda kenanganku kutulis ini saat aku sendirian lampu kamar sengaja kumatikan hanya ada semburat cahaya dari pintu [...]

Oct
24th

Sebenarnya Kau Mengerti

tertoreh sebagai Liputan, Naskah, PUISI | 1 Comment

biar ada sejumput ragu dalam diri tapi kau sebenarnya tahu tak lagi ada cinta padaku untuk bulan dan senja lain yang ada atau nanti tiba sepanjang jalan yang kulewati dengan lampu yang benderang menyilaukan juga kadang meredup kau tahu tak lagi meletup apa yang liar dalam diri ini memang ada kata yang kuletupkan dari tengah [...]

Oct
24th

Acep, Mendekatkan Sastra pada Rakyat

tertoreh sebagai JejakMedia, Sosok | Leave a Comment

Oleh: Yenti Aprianti Sastra bukan hanya milik kaum intelektual. Di Tasikmalaya, penarik becak, pedagang kaki lima, penjual mi rebus, perempuan-perempuan janda, serta kepala desa bersama-sama mempelajari sastra. Bahkan mereka sudah mampu membuat puisi-puisi yang berkualitas dan layak dimuat dalam koran nasional. Mereka adalah orang-orang yang bergabung dalam Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Azan yang didirikan [...]

Oct
24th

Bagian Karya Sastra Pembawa Perubahan

tertoreh sebagai Sastra - Budaya | Leave a Comment

Jumat, 24 Oktober 2008 | 00:47 WIB YOGYAKARTA, KOMPAS–Media berperan penting dalam mengangkat martabat bangsa. Melalui media, hasil budaya suatu bangsa dapat dikenal dan diketahui keberadaannya. Sastrawan Sapardi Djoko Damono mengatakan, tanpa adanya media, budaya bangsa itu tak akan dikenal oleh bangsa lain. Bahkan, tanpa media, suatu budaya bisa hilang dari ingatan bangsa itu sendiri [...]

Oct
23rd

Absurditas Sastra Komersial di Festival Ubud

tertoreh sebagai Naskah, Sastra - Budaya | Leave a Comment

Oleh : Sirikit Syah Sudah lima kali ini Ubud International Writers & Readers Festival diadakan, dan baru kali ini saya berpartisipasi di dalamnya. Sebelumnya, saya hanya membayangkan bagaimana atmosfer festival para penulis internasional ini. Kali ini saya “dipaksa” oleh Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang, untuk hadir di sini, melaksanakan peluncuran buku 17 penyair perempuan Indonesia. [...]