OASE BUDAYA
by : Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
OASE BUDAYA
by : Theresia Purbandini
Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi.
Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para penyair 1980-an, Zawawi muncul [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Monday, 27 October 2008
> Bersastra Tanpa Kerutkan Dahi
Malam telah menunjukkan pukul 21.00. Dari tempat duduknya, di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Dharmadi menikmati pembacaan puisi Rukmi Wisnu Wardhani di panggung Sastra Reboan, sambil menghirup kopi panas. Di sekelilingnya para pencinta sastra juga sama santainya. Ada yang menulis SMS [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Acara Sastra Reboan pada awalnya kadang disebut Pasar Malam. Hal ini karena suasana yang tersaji mirip pasar malam, dengan berbagai aksi sastra di panggung Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan. Tapi sebutan itu juga disebabkan Sastra Reboan diselenggarakan oleh para pencinta sastra yang tergabung dalam Paguyuban Sastra Rabu Malam, yang disingkat [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
sepi tak beda dengan waktu
berujung pada simpul yang sama
seperti rambatan uban dan usia
ah…aku memang semakin tua
perut yang membuncit
dan punggung makin renta
hingga sering tak bisa menyanggah kata
tapi cinta tak ada hubungannya
dengan waktu dan usia
saat diminta berhenti terus saja melaju
dengan kekosongan dan keriuhan
yang juga tak beda
tiba-tiba kusentuh lagi ingatanku
tentang puisi dan buku
dan aku tersenyum mengingatnya
karena di situ [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
aku selalu menemukan dirimu
tak hanya pada helai-helai rambutmu
yang terserak di lantai atau meja rias
selalu aku teringat padamu
setiap melihat iklan di televisi
atau sinetron dengan wajah cantik
ada tawa yang menjelma tawamu
ada senyum yang menggoda kenanganku
kutulis ini saat aku sendirian
lampu kamar sengaja kumatikan
hanya ada semburat cahaya dari pintu
dan asap rokok membentuk bayang muram
di tengah dinginnya kopi yang tinggal [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
biar ada sejumput ragu dalam diri
tapi kau sebenarnya tahu
tak lagi ada cinta padaku
untuk bulan dan senja lain
yang ada atau nanti tiba
sepanjang jalan yang kulewati
dengan lampu yang benderang
menyilaukan juga kadang meredup
kau tahu tak lagi meletup
apa yang liar dalam diri ini
memang ada kata yang kuletupkan
dari tengah kelelahan yang lirih
hingga terasa bising
seperti petir beriring hujan
tapi sebenarnya kau mengerti
semua [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh: Yenti Aprianti
Sastra bukan hanya milik kaum intelektual. Di Tasikmalaya, penarik becak, pedagang kaki lima, penjual mi rebus, perempuan-perempuan janda, serta kepala desa bersama-sama mempelajari sastra. Bahkan mereka sudah mampu membuat puisi-puisi yang berkualitas dan layak dimuat dalam koran nasional.
Mereka adalah orang-orang yang bergabung dalam Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Azan yang didirikan oleh penyair [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Jumat, 24 Oktober 2008 | 00:47 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS–Media berperan penting dalam mengangkat martabat bangsa. Melalui media, hasil budaya suatu bangsa dapat dikenal dan diketahui keberadaannya.
Sastrawan Sapardi Djoko Damono mengatakan, tanpa adanya media, budaya bangsa itu tak akan dikenal oleh bangsa lain. Bahkan, tanpa media, suatu budaya bisa hilang dari ingatan bangsa itu sendiri karena tidak [...]
baca selengkapnya |
No Comments »
Oleh : Sirikit Syah
Sudah lima kali ini Ubud International Writers & Readers Festival diadakan, dan baru kali ini saya berpartisipasi di dalamnya. Sebelumnya, saya hanya membayangkan bagaimana atmosfer festival para penulis internasional ini. Kali ini saya “dipaksa” oleh Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang, untuk hadir di sini, melaksanakan peluncuran buku 17 penyair perempuan Indonesia. Buku [...]
baca selengkapnya |
No Comments »