Oleh : Sirikit Syah
Sudah lima kali ini Ubud International Writers & Readers Festival diadakan, dan baru kali ini saya berpartisipasi di dalamnya. Sebelumnya, saya hanya membayangkan bagaimana atmosfer festival para penulis internasional ini. Kali ini saya “dipaksa” oleh Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang, untuk hadir di sini, melaksanakan peluncuran buku 17 penyair perempuan Indonesia. Buku “Selendang Pelangi” yang disunting oleh Toety Herati ini diterbitkan oleh Indonesia Tera, penerbit milik Dorothea Rosa di Magelang. Edisi terjemahan bahasa Inggris (oleh Hary Aveling) inilah yang mesti saya luncurkan di Ubud, Bali, Kamis malam kemarin.
Meskipun Rosa sudah wanti-wanti agar saya tidak surprised, saya tetap saja terkejut. Jangan bayangkan sebuah festival para sastrawan yang serius. Yang ini agak absurd,kata Rosa melalui email dari Frankfurt. Dia sendiri sedang berkegiatan di Frankfurt, Jerman. Ternyata, acara Ubud International Writers & Readers Festival ini memang benar-benar absurd. Dalam enam hari, terdapat ratusan kegiatan, melibatkan puluhan sastrawan dari berbagai belahan dunia. Peminat festival tentu kebingungan memilih acara mana yang akan dipilih untuk dihadiri.
Kebingungan itu berubah menjadi kekecewaan, mengetahui bahwa hampir semua kegiatan dibayarkan. Bila Anda ingin mendengarkan John Berendt, pengarang Midnight in the Garden of Good and Evil (nominator Pulitzer tahun 1995), yang telah difilmkan oleh Clint Eastwood dengan pemeran John Cussack, Kevin Spacey dan Jude Law, Anda mesti membayar Rp 700
ribu rupiah. Untuk Gala Opening, dimana kita bisa berbaur dengan para pengarang internasional, kita mesti membayar Rp 450 ribu; dan minum teh bersama mereka di kediaman fotografer Rio Helmi, Rp 250 ribu.
Sebuah acara makan siang yang menampilkan nasi sebagai pemeran utama (nasi dimasak berbagai cara oleh koki termashur Jimmy Shu dan Janet De Neefe), dijual Rp 450 ribu. Makan nasi Rp 450 ribu? Mungkin saja, bila Anda makan sambil ngobrol bersama penulis-penulis terkenal yang duduk di kanan kiri Anda. Ada makan siang ala Meksiko, ada ala Timur Tengah, masing-masing dengan guest of honour pengarang dari negeri bersangkutan. Bahkan acara sarapan bersama pengarang terkenal, Rp 350 ribu.
Di sela-sela acara yang luar biasa komersial itu, diselipkan acara-acara tak berbayar, antara lain peluncuran buku Rainbow (terjemahan dari Selendang Pelangi); dan beberapa sesi diskusi antara calon pengarang dengan penerbit. Untuk peluncuran Rainbow di penginapan Han Snelas, panitia menyebarkan 80 undangan. Yang hadir kurang dari 50%-nya. Sangat dimaklumi, karena pada saat yang sama ada kegiatan Writersa Cabaret, dimana para pengarang mempertontonkan bakatnya yang lain: menyanyi, menari, melawak, main musik, dll, yang juga gratis. Saya sendiri ingin hadir di acara itu, namun harus melaksanakan tugas terlebih dulu.
Meskipun yang hadir tidak banyak, sekitar 40-an orang, acara peluncuran buku Rainbow cukup meriah. Saya memperkenalkan isi buku dan para penyair perempuan di dalamnya, lalu membaca tiga puisi. Toety Herati, penyunting buku, membacakan juga tiga puisi, sambil
menambahkan keterangan tentang tiga generasi penyair perempuan Indonesia. Saya yang tertua, Sirikit mungkin di tengah-tengah, ujar Toety. Debra Yatim juga hadir dan ikut membacakan puisi, demikian pula seorang peserta dari Australia, dan penyair Abe Soarez dari Timor Leste. Di Timor ada orang-orang minta saya berhenti menulis dalam bahasa Indonesia. Saya bilang, daripada berhenti menulis dalam bahasa Indonesia, lebih baik saya mati,kata sarjana sastra Indonesia lulusan UGM ini. Dia merasa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari eksistensi dirinya.
Festival Ubud memiliki gaung yang lumayan di dunia internasional. Majalah Harpers Bazaar dari Inggris menyebutnya salah satu lima festival sastra paling top di dunia. Ditilik dari pengarang yang dihadirkan, memang festival ini amat meriah. Ada Alberto Ruy Sanchez,
novelis penerima penghargaan tertinggi Meksiko; Alexis Wright, penerima penghargaan tertinggi di Australia, Bahaa Tahir dari Mesir, Bernice Chauly dari Malaysia, Madeleine Lee dari Singapura, dll. Total penulis yang memiliki acara resmi adalah 94 penulis, baik penulis
fiksi, jurnalis, penulis memoir, pembuat film, dll.
Di antara para penulis asing itu terselip juga nama-nama pengarang Indonesia seperti Andria Hirata, Ayu Utami, Azhari (Aceh), Butet Manurung, Anand Krishna, dll. Namun saking banyaknya acara, saya sulit melacak mereka berkegiatan di mana dan kapan. Menemukan jadwal mereka adalah satu hal, menemukan lokasi berdasarkan peta adalah hal lain.
Aristides Katoppo yang aktif dalam penyelenggaraan festival ini sempat menelepon saya (karena kami tertarik di acara yang berbeda sehingga tidak bertemu). Dia mengungkapkan kegundahannya seusai mengikuti diskusi tentang pornografi di dunia sastra. Aristides
melihat diskusi tidak berjalan sehat karena hanya ada satu suara, yaitu penentang RUU Pornografi, dengan berbagai argumennya. Selain tidak sehat, diskusi semacam ini tentu kurang menarik karena peserta tidak belajar/mendengar pandangan/suara lain.
Festival para penulis ini merupakan inisiatif pemilik sebuah rumah makan dan sekolah memasak di Ubud, Casa Luna, yang kemudian didukung oleh tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia seperti Aristides Katoppo dan Gunawan Mohammad, dan banyak Kedutaan Asing (yang mensponsori kedatangan para penulis). Kini event ini dikelola oleh Yayasan Saraswati.
Di sela-sela menandatangani buku-buku yang terjual habis (panitia hanya menyediakan 15 buku kami untuk dijual kepada peserta) Toety Herati mengungkapkan kegelisahannya. Acara sastra internasional ini mestinya bisa sangat bagus, bila tidak semata-mata berorientasi
komersial. Memang ini memberi dampak positif bagi industri pariwisata Bali, namun persoalannya: apa kontribusi acara ini untuk kemajuan sastra Indonesia dan sastra dunia?
Acara ini tampak lebih merupakan kegiatan berlibur atas biaya Kedutaan bagi para pengarang asing, dan memanjakan para turis asing yang tak akan keberatan membayar sekian ratus ribu rupiah untuk bertemu pengarang favorit mereka. Rp 600 ribu itu cuma 40 Euro atau US$60. Di negeri mereka sendiri, belum tentu mereka dapat bertemu John Berendt dengan biaya US$60. Dengan sponsor Kedutaan dan berbagai perusahaan besar, semestinya acara-acara bisa terbuka untuk umum, terutama bagi para pengarang muda Indonesia, dan gratis. Bila Ubud
Festival ini tetap berorientasi internasional tanpa mengingat kontribusinya pada para para pengarang muda atau calon pengarang di bumi Indonesia tempat festival diadakan, ini tak lebih bagai fatamorgana bagi kita semua.
Kita tak boleh lupa berterimakasih pada para enterpreneur Indonesia maupun asing- yang telah membuat hal ini terjadi dan berhasil. Bagaimanapun, mengumpulkan para pengarang dunia ke sebuah desa kecil di pedalaman Pulau Bali, adalah gagasan cemerlang yang bisa
di-kloning di Jawa dan pulau-pulau lain di Indonesia. Namun, saya tetap berharap pemerintah lebih berperan, agar hikmah atau manfaat festival dunia ini benar-benar dirasakan oleh rakyat Indonesia. Bila industri kreatif akan betul-betul menjadi primadona perdagangan ke depan seperti sedang dikampanyekan oleh Menteri Perdagangan Marie Pangestu- maka penetrasi pengarang Indonesia ke luar (seperti Andria Hirata dan Ayu Utami) lebih penting daripada membanjirnya sastra dunia ke Indonesia. Seseorang mengatakan Masa depan dunia akan berada di tangan orang-orang yang mengandalkan otak kanan (daya kreasi & imajinasi). Maka, sudah waktunya para seniman Indonesia bangkit dan siap memasarkan karyanya di pasar dunia.
Sumber : Surabaya Post, 18 10 08